Penunggang Naga Terakhir

Penunggang Naga Terakhir
Romundur dan segala rahasianya


__ADS_3

"Hm, jadi Calder Hall sudah mulai ketar-ketir, begitu? Bagus, sekali! Kita akan menyerang nanti di Torak! Untuk sekarang sebaiknya kalian beristirahat terlebih dulu! Perjalanan dari Sgàil Shìthiche hingga kemari cukup menguras waktu.


"Besok, Tuan Garey yang langsung akan mengajari Dragon Rider Alaric untuk menyepuh pedang dan membuat pelana juga baju zirah untuk Dragon Zerrin dan dirinya.


"Tuan Zork! Tunjukkan ruangan untuk Bana-phrionnsa Tara, Dragon Rider dan Dragon Zerrin." Raja Gorra menatap ke arah Zork, ia tersenyum arif.


"Baik Yang Mulia Raja!" balas Zork dengan tatapan dingin dan sinis seakan ia tak begitu suka dengan kehadiran ketiga klan di sana. 


"Terima kasih Tuan Zork!" balas ketiganya.


"Ya, silakan. Nikmati waktu Anda bertiga untuk bersantai di kerajaan Golden," ujar Zork dengan dingin, ia langsung meninggalkan ketiganya untuk kembali ke ruangannya.


"Cih, menyebalkan. Sejak Gorra menjadi raja semua klan diizinkan untuk mengenal kejayaan golden, aku tidak menyukai mereka.


"Biarkan saja mereka bertempur di luaran sana. Jika mereka terus bertempur paling tidak kerajaan goblin akan semakin maju," batin Zork, ia berjalan cepat dan menaiki roli menuju ke luar gunung Romundur.


Berjalan dengan cepat untuk menuju ke suatu ceruk di atas gunung Romundur, ia membunyikan suatu pluit emas di tangan dan langsung seorang ksatria sihir hitam berwujud tengkorak berjubah dengan kuda melayang menghampirinya.


"Apakah ada kabar Tuan Zork?" sapa ksatria sihir Gorian dengan tatapan mata merah di balik cadarnya. 


Suara berat yang tak lain adalah suara dari Calder Hall. Ia masih menatap ke arah Zork dengan tersenyum di empire Gorian dan mampu melihat dengan mata si Ksatria Sihir hitam miliknya yang masih berada di atas pelana kuda terbang.


"Tuanku Yang Mulia Kaisar Calder Hall, seperti yang Anda inginkan. Hamba telah mengumpulkan banyak informasi mengenai kedatangan Bana-phrionnsa Tara Dale dari Sgàil Shìthiche, Dragon Rider Alaric dari gunung Jarome, dan Dragon Zerrin naga tembaga tersebut. 


"Mereka mulai melakukan latihan esok hari, saya ingin Yang Mulia Kaisar tahu mengenai semua itu," lapor Zork, ia membungkuk sedikit.


"Hahaha, kau benar-benar sekutu yang luar biasa Zork. Jangan khawatir, besok malam aku akan mengirimkan bala tentaraku untuk membunuh Bana-phrionnsa Tara, serta penunggang muda juga naga kecilnya hahaha!" tawa Calder bergema memenuhi seisi Gorian dan Romundur.

__ADS_1


"Tapi, jangan lupa dengan permintaanku Yang Mulia," tuntut Zork, ia tak ingin jika Calder Hall lupa akan janjinya.


"Jangan khawatir! Aku akan membunuh Gorra dan memberikan tampuk kekuasaan padamu. Kau adalah abdi setia milikku yang tidak akan pernah aku lupakan Zork," suara berat itu tertawa dan berjanji.


"Baiklah, Yang Mulia! Hm, apakah ada rencana lainnya Yang Mulia yang harus hamba lakukan?" tanya Zork, ia ingin sekali membunuh Gorra dan ketiga tamu asing yang menurutnya sudah mengacak-acak tempat mulia kerajaan Goblin.


"Hahaha, kau begitu bernafsu sekali! Jangan khawatir aku ingin kau terus mengawasi mereka dan di mana besok penunggang muda dan naga itu mengadakan latihannya.


"Tetaplah bersandiwara dan jangan terlihat jika kamu telah mengkhianati mereka. Lakukan tugasmu seperti biasa, jangan sampai Gorra curiga kepadamu.


"Kau harus mengawasi dan mengikutinya. Jika perlu curi pedang merah delima miliknya, jika pedang itu tidak bersamanya aku sangat yakin penunggang muda itu tidak akan memiliki kekuatan apa pun!" teriak Calder Hall geram.


"Baik, Yang Mulia Kaisar!" balas Zork sedikit membungkuk beserta bayangan ksatria sihir hitam pun sirna dengan gema tawa Calder Hall yang mengerikan.


"Hahaha, akhirnya … aku bisa menyingkirkan Gorra dan para klan sialan itu. Enak saja mereka ingin mencuri ilmu pengetahuan di dalam menyepuh barang-barang mineral tambang menjadi kepandaian mereka.


Zork kembali menaiki roli dan masuk ke dalam perut gunung Romundur. Ia berjalan memeriksa semua hal dan peralatan dan semua pintu.


Zork melewati kawah magma yang meletup-letup di perut bumi yang digunakan untuk menambang biji besi, emas, dan perak untuk perhiasan dan kekayaan Goblin yang angkuh.


Zork melompat turun dan membuka sedikit jalan magma untuk menetes ke luar dari kawah, "Hahaha, besok jika penunggang muda dan naganya berlatih maka tanggung di bawah akan jebol mereka akan mampus! Hahaha," batin Zork tersenyum riang.


Zork kembali meninggalkan kawah magma dan pergi menaiki roli naik ke atas dan menuju ke sebuah ruangan indah, ia tersenyum dengan membuka kunci dengan kukunya yang tajam.


"Aku harus memberi jalan untuk masuk para ksatria Gorian agar mudah membunuh dan menghancurkan Gorra dan ketiga tamu itu!" batin Zork, ia berjalan dan membuka sedikit pintu rahasia gunung Romundur.


Tuan Zork? Apa yang sedang Anda lakukan di sini?" tanya Zio, ia menatap curiga pada Zork yang terkejut.

__ADS_1


"Sial! Mengapa Zio bisa menemukanku?" batin Zork, ia memandang salah satu tangan kanan raja Gorra yang jujur.


Zio merasa aneh melihat Zork berada di ruangan peralatan senjata dan ruang rahasia brankas untuk menyimpan semua rahasia-rahasia Golden dan Goblin dari dunia luar, termasuk kepintaran dan ilmu pengetahuan warisan para leluhur dan sesepuh hebat Goblin.


"Aku hanya ingin memeriksa apakah semua pintu sudah terkunci rapat, Tuan Zio. Anda sendiri sedang apa?" tanya Zork, ia mengalihkan pembicaraan.


"Aku hanya sedang berpatroli, tadi suara Calder Hall bergema di sekitar Romundur. Sehingga membuat Yang Mulia Paduka Raja Gorra memerintahkan untuk melakukan penjagaan," ucap Zio.


"Oh, begitu! Hm, ya kau benar! Makanya aku memeriksa semua pintu aku harap tak ada saru pintu pun yang terbuka yang membuat ksatria Gorian bisa memasuki Golden," jawab Zork, ia berusaha sebaik mungkin memainkan sandiwaranya.


"Ya, Anda benar Tuan Zork. Baiklah, saya akan kembali berpatroli," ujar Zio.


"Zio! Temani aku ke lorong magma, aku tidak ingin magma di sana terbuka," ajak Zork, ia berjalan cepat.


"Baiklah, Tuan!" balas Zio, ia mengikuti dari belakang tanpa rasa curiga sedikit pun.


Keduanya menaiki Roli dan kembali ke pusat magma dan memeriksa, tetapi kala Zio berada di dekat pinggir magma yang meletup-letup.


Bruk!


"Aaa! Tuan Zork! Apa yang kau lakukan ?" teriak Zio melayang dengan tubuh kecilnya masuk ke dalam magma dan hancur seketika.


"Hahaha, hm … aku tidak akan membiarkanmu membocorkan semua rencana yang sudah disusun dengan rapi," bentak Zork, ia menepuk kan kedua telapak tangan seakan membersihkan sebab kotoran di sana.


Zork kembali lagi dengan cepat menuju ke kamarnya tetapi, ia kembali lagi bertemu dengan Alaric yang ingin ke luar karena ia mendengar tawa bergema yang mengerikan.


"Tuan Zork …?!" sapa Alaric.

__ADS_1


__ADS_2