
"Maksud kamu Calder Hall memiliki ilmu keabadian begitu atau bagaimana?" tanya Alaric bingung, ia masih menerka-nerka apa maksud dari ucapan Zerrin.
"Ya, dia memiliki keabadian. Jangan tanya aku seperti apa, Alaric. Aku sendiri tidak tahu. Kamu 'kan tahu jika aku itu belum berumur setahun Alaric. Apakah kamu lupa atau sedang amnesia sesaat sih?" ujar Zerrin.
Zerrin merasa terkadang Alaric terlalu Oneng dan terlalu banyak lupa dari ingatnya walaupun ia memiliki kekuatan yang sangat luar biasa.
"Hm, kamu memang belum setahun Zerrin tapi, kamu sangat luar biasa pintar. Bahkan, kamu lebih pintar dari aku yang sudah hampir 18 tahun,"balas Alaric, ia hanya diam.
"Ya, karena kamu selama ini bermalas-malasan kali! Jadi, wajar saja kamu kesulitan untuk mencerna segala informasi. Makanya rajin baca," ketus Zerrin.
"Semakin aku banyak membaca semakin aku banyak tidak tahu," balas Alaric, ia terdiam.
"Baiklah, nanti jika aku ada waktu aku akan membaca lagi!" janji Alaric.
"Ya, memang demikian tapi paling tidak kamu memahami banyak hal Alaric, kamu ini sungguh terlalu!" ujar Zerrin tersenyum.
"Menurut kamu, ilmu keabadian miliknya itu seperti apa sih? Apakah ramuan seperti bangsa Galilea begitu?" tanya Alaric, ia pernah mendengar klan Galilea memiliki kekuatan yang luar biasa jika meminum ramuan tertentu.
"Aku tidak tahu, Alaric!" balas Zerrin sedikit lembut.
"Sayang sekali, kita tidak pernah bertemu dengan Calder Hall bukan? Aku penasaran bagaimana wajahnya?" ujar Alaric.
"Lalu menurutmu apa yang harus kita lakukan?" tanya Alaric, "kamu bilang, jika Calder Hall memiliki seorang putri yang lolos dari tumbal keabadiannya begitu?" tanya Alaric bingung.
"Begini, Calder menumbalkan semua putranya dan hanya ada satu putri yang selamat karena tumbalnya hanyalah seorang putra miliknya bukan putri. Makanya putrinya yang bernama Putri Zorik bisa selamat dari semua itu," ucap Zerrin.
"Oh, begitu! Hm, apakah kita masih jauh dari istana Lùchairt Dragon?" tanya Alaric, ia ingin tahu jarak antara Jolla dan Lùchairt Dragon.
"Hm, mungkin matahari muncul kota baru tiba di sana. Memang ada apa? Aku yang ingin pulang ke klan dan tanah leluhurku tapi, sepertinya kamu yang terlalu bersemangat," sindir Zerrin.
__ADS_1
"Aku tahu, aku hanya merasa malam ini terlalu sepi dan … aku harap tidak ada musuh yang mengikuti atau mengintai kita Zerrin," ujar Alaric.
Alaric menatap ke sekelilingnya dan merasakan jika ia sedikit miris dan curiga seakan ada mata-mata yang selalu mengawasi ke mana pun mereka pergi.
Alaric begitu gelisah di punggung Zerrin berulang kali ia berdiri dan berlarian di punggung Zerin seakan ia sedang bermain tali di sana berlarian dari punggung hingga ekor Zerrin dan kembali lagi ke punggung Zerrin.
"Kamu kenapa sih. Apakah kamu tidak bisa diam, Alaric? Bagaimana jika kamu jatuh? Aku pasti tahu jika ada musuh Alaric! Memang kamu merasa ada apa?" tanya Zerrin, ia mulai menajamkan semua Indra penglihatan dan pendengarannya.
"Entahlah, aku merasa sejak kita memasuki gurun dan … jangan ngaco! Jika aku jatuh kau pasti menolongku. Lagian saat kita di Sgàil Shìthiche, aku bolak balik harus naik ke sangkar dan tebing-tebing.
"Aku rasa itu hal yang mustahil kecuali ada yang menyerang. Hm,
kita ke mana sih?" tanya Alaric.
Akaric memandang bintang yang berkedip di langit tanpa cahaya rembulan. Alaric mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka, ia hanya melihat kegelapan.
Alaric semakin gelisah, ia menatap ke arah depan dengan was-was dan waspada. Alaric membelai sisik di leher Zerrin yang memahami jika Alaric sedang gelisa.
Setiap Alaric gelisah ia selalu saja menggaruk atau memilih apa pun di dekatnya. Zerrin sudah melihat semua emosi yang diperlihatkan oleh Alaric.
Walaupun Alaric tidak menyadari semua itu akan tetapi, Zerrin memahami segalanya dengan mudah. Alaric bagaikan sebuah buku yang mudah untuk dibaca.
"Apakah masih jauh?" ulang Alaric.
"Alaric, kita akan ke Lùchairt Dragon. Di tebing itu adalah Lùchairt Dragon," jawab Zerrin, ia menunjuk dengan moncongnya ke arah tebing cadas di depan sana.
"Terlihat dekat tapi, terasa sangat jauh, buktinya kita sudah begitu lama menyeberangi gurun ini tapi, belum juga tiba," bisik Alaric, ia memegang pedangnya.
"Ada apa Alaric?" tanya Zerrin, ia merasa jika Alaric sangat berbeda tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Entahlah Zerrin, aku merasa sejak kita memasuki gurun ada yang memata-matai kita. Namun, aku tidak melihat siapa pun yang mengikuti kita, ini sangat aneh.
"Tapi, aku sangat yakin … ada orang yang sedang mengawasi kita. Aku tidak tahu apakah dia musuh atau teman. Hm …," Alaric kembali lagi mengedarkan pandangannya, ia tetapi tidak melihat siapa pun di sana.
"Zerrin, berhati-hatilah! Ada yang mendekat!" ujar Alaric, ia langsung menarik pedangnya melompat dari punggung Zerrin bersalto di udara dan menebaskan pedangnya hingga sebuah jaring terburai hancur.
"Siapa kalian? Siapa yang mengurus kalian?" teriak Alaric, ia terus menebaskan pedangnya ke arah tempat kosong yang tak ada siapa pun di sana.
"Ada apa dengan Alaric? Apa yang sedang terjadi dengannya?" tanya Zerrin tak mengerti.
Zerrin hanya melihat jika Alaric berjumpalitan dengan sinar merah dan putih yang membaur dari pedangnya menebas ke sana kemari membuat sekitar gurun menjadi terang benderang.
"Zerrin! Awas, di depanmu!" teriak Alaric, ia melesat secepatnya ke arah Zerrin.
Alaric melihat jika ada yang ingin menangkap Zerrin, "Bajingan! Siapa mereka? Mengapa Zerrin tidak bisa melihat orang-orang yang ingin menangkap dirinya? Aneh sekali!" batin Alaric bingung.
Namun, beberapa bayangan menghadang Alaric untuk menolong Zerrin yang kebingungan, ia tak melihat apa pun. Seakan-akan ia buta.
"Zerrin! Sembur pakai apimu!" teriak Alaric, ia melihat bayangan hitam ingin menebarkan jaring pada Zerrin.
Zerrin langsung mengikuti instruksi Alaric, Zerrin menyemburkan api miliknya hingga sebuah jaring berputusan berjatuhan ke gurun hangus terbakar. Zeriin memekik tinggi, ia merasa bingung.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak melihat apa pun?" batin Zerrin, "apakah mereka taibhse fhàsach (hantu gurun) atau Bagshot? (sebangsa hantu yang dulunya manusia tetapi di sihir dengan sihir hitam sehingga ia tak terlihat) sehingga disebut taibhse fhàsach.
Namun, orang-orang menyebutnya Bagshot. Bagshot biasanya menangkap naga dan raksasa karena naga dan raksasa tidak bisa mencium dan merasakan maupun mendengar kedatangan para Bagshot.
"Tapi, Alaric bisa melihatnya … oh, aku ingat Alaric bukan manusia dan elf, Alaric berdarah campuran. Sisi elf miliknya yang melihat keberadaan Bagshot!
"Bagshot hany takut dengan api dan air!" ujar batin Zerrin.
__ADS_1