Penunggang Naga Terakhir

Penunggang Naga Terakhir
Peri Bayangan


__ADS_3

Ketiganya berburu rusa saling berkejaran, Alaric merasa jika Altaf memiliki kemajuan yang luar biasa pesat begitu juga sebaliknya. Zerrin sudah menangkap rusa yang gemuk untuknya, Altaf dan Alaric hanya menangkap rusa kecil untuk mereka berdua.


Mereka tak ingin terlalu banyak menumpahkan darah di Sgàil Shìthiche karena itu dilarang, keduanya membersihkan dan memanggang juga memakannya.


Ketiganya mandi di air terjun tertawa dan saling melompat dari ketinggian dan berenang di dasar lautan bersama Zerrin, mengitari Sgàil Shìthiche yang indah dan berkabut.


"Lihat, itu buah-buahan yang enak! Ayo, kita ambil para elf menyukainya!" ucap Altaf, ia sangat ingin membalas kebaikan para elf walaupun awalnya ia begitu menderita.


"Benarkah?!" tanya Alaric, ia sama sekali tidak mengetahui apa pun.


"Iya," ucap Altaf, "Ayo," ajak Altaf.


Mereka mengambil banyak buah kekuningan yang mirip anggur tersebut, Zerrin dan Alaric memakannya dan mereka pun menyukainya.


"Sangat indah, mari kita pulang! Setiap senja Sgàil Shìthiche selalu dipenuhi kabut. Aku tidak ingin Ratu Zarina akan marah pada kita," ujar Alaric, ia mulai melihat gulungan kabut mulai turun dari puncak gunung yang dia sendiri tidak tahu namanya.


"Gunung itu tinggi sekali! lirih Alaric, ia menatap gunung tersebut.


"Itu adalah Gunung Romundur," ujar Altaf, "menurut peta yang diberikan Zion di perut gunung terdapat kerajaan Goblin," ujarnya.


"Apa?! Benarkah?!" tanya Alaric.


"Iya!" balas kedua temannya menyantap sisa rusa dan buah manis tersebut.


"Ooh, berarti hanya aku yang tidak tahu …," lirih Alaric.


"Kau hanya membaca menggunakan pedang, membuat pelana, menyikat sisik, membersihkan cakarku juga sihir. Kau tidak pernah membaca silsilah elf, raksasa, Goblin, naga, bahkan manusia," sindir Zerrin.


"Ya … kau benar! Nanti aku akan membacanya," janji Alaric.


Mereka kembali menunggangi Zerrin yang terbang cepat ke kerajaan Sgàil Shìthiche, "Maaf, Ratu kami terlambat!" ujar Alaric, ia terlihat tampan karena sudah bercukur.


"Tidak apa-apa! Aku hanya takut kalian tersesat. Apa yang kalian bawa?" tanya Ratu Zarina.


Altaf dan Alaric mengeluarkan banyak buah-buahan dari keranjang dedaunan yang dianyam Altaf.


"Wah! Kalian mengambil semua ini?" tanya Ratu Zarina, ia tak menduga akan demikian.


"Ya, Ratu. Apakah ada masalah? Aku yang meminta Alaric dan Zerrin untuk mengambilnya karena aku melihat klan elf menyukainya terutama anak-anak," lirih Altaf.

__ADS_1


"Ya, Jenggot Merlin! Terima kasih Altaf, Alaric, dan Zerrin. Iya kami menyukainya tapi, apakah kalian tidak menemukan raksasa yang menunggu buah-buahan ini?" tanya Ratu Zain.


"Apa?!" teriak ketiganya serempak.


"Tidak, Ratu Zain. Kami tidak menemukan siapa pun!" jawab ketiganya.


"Oh, syukurlah! Malam ini kita akan berpesta dengan selai buah ini, um … untuk menyambut Bana-phrionnsa Tara," tegas Ratu Zarina.


"Bana-phrionnsa Tara pulang?" tanya Alaric, seketika hatinya berbunga-bunga indah. 


Zerrin dan semua orang mantap ke arah Alaric yang bersemu merah menahan malu.


"Cih, menjijikkan!" sindir Zerrin.


"Apakah kamu cemburu?" tanya Alaric tersenyum, ia menoel-noel wajah Zerrin dan memeluknya.


"Aku bukan Bana-phrionnsa Tara! Tidak usah kegenitan padaku! Eneg tau!" umpat Zerrin.


"Hahaha!" tawa bergema, keduanya lupa untuk menutup koneksi pembicaraan mereka agar tak terdengar orang lain.


Malam yang penuh dengan sinar rembulan purnama begitu indah, Alaric merasa malam itu begitu indah di sana-sini terdapat cahaya lampu yang disihir. Obar-obor menggeliat dan melayang menerangi Sgàil Shìthiche dengan bunga-bunga bermekaran dan harum.


Para wanita dan pria elf duduk manis di bangku indah yang disihir sehingga suasana begitu indah layaknya di sebuah kerajaan. Semua orang menyuguhkan aneka makanan dan masakan yang lezat walaupun hanya telur dan ayam saja yang ada.


Zerrin dan Alaric saling tatap Altaf sudah muncul dengan pakaian merah yang indah, hanya Alaric yang masih memakai pakaian lusuh. Musik harpa dan suling bergema membuat semua orang menari bahagia.


"Tuan Dragon Rider, ini pakaian Anda!" ujar seorang wanita tua yang sudah uzur memberikan setumpuk pakaian.


"Terima kasih, Nyonya!" balas Alaric, ia tersenyum bahagia.


"Aku … aku tidak tahu apakah cocok untuk Anda. Hm, maklum saya sudah terlalu tua untuk menenun dengan tangan. Kemungkinan jika dengan sihir, saya akan lebih mudah melakukannya," bisik wanita tua tersebut.


"Bolehkah saya menyentuh wajah Anda?" harap wanita tua.


Deg!


Jantung Alaric memperhatikan wanita berkerudung hijau botol di balik wajah cantiknya. Alaric melihat jika wanita itu buta meskipun dia berjalan tanpa menggunakan tongkat.


"Tentu saja! Silakan Nyonya," ujar Alaric menarik kedua salah satu tangan wanita dan meletakkan di wajahnya.

__ADS_1


"Ah, Anda mirip sekali dengannya …," lirih wanita tersebut tersenyum.


"Dengan siapa Nyonya?" desak Alaric, ia penasaran.


"Suatu saat nanti Anda ajan mengetahuinya Dragon Rider," lirih si wanita dan plop! Menghilang.


Alaric hanya termangu dan melihat tumpukan baju di tangannya, ia langsung memakai baju berwarna hitam dan sedikit merah dibagian dadanya dengan sulaman gambar Zerrin yang sedang menyemburkan api.


"Wah, kau terlalu mencintaiku, Alaric! Sehingga wajahku pun tergambar cantik di situ! Xixixi," Zerrin cekikikan pasang aksi tebar pesona kala Zubair berjalan mendekatinya.


"Zerrin! Zubair terlalu tua untukmu!" ketus Alaric tidak menyukainya.


"Ayah, aku hanya ingin minum rum (sejenis arak dari buah-buahan) dengan satu-satunya naga yang ada di Sgàil Shìthiche," ujar Zerrin mengedipkan mata.


Alaric ingin mengucapkan sesuatu tapi Zerrin sudah berlari ke arah Zubair yang menantikannya di sebuah tong besar penuh dengan rum.


Alaric melihat Altaf sudah membaur dengan para gadis elf dan anak-anak menari dan menganyam sesuatu. Alaric hanya diam ia tak tahu harus bagaimana, ia merindukan Bana-phrionnsa Tara yang belum juga kembali.


"Lagi apakah dia? Apakah dia merindukan diriku? Bodohnya aku!" batin Alaric dilema.


Ia hanya menyentuh ujung bunga anggrek bulan berwarna Lila, putih, dan kuning yang berjejer indah di salah satu tunggul pepohonan.


"Alaric …," panggil Bana-phrionnsa Tara.


Deg! 


Jantung Alaric berdegup kencang kerinduannya membumbung tinggi ke langit biru l, jiwanya sudah menari berdansa di balik kan dengan Dewa Cupid. Alaric merasa bagaikan mimpi ia langsung melihat Bana-phrionnsa Tara dengan pakaian berwarna maroon yang cantik menghampiri dirunya tersenyum.


"Bana-phrionnsa, aku … aku merindukanmu!" lirih Alaric ia langsung memeluk tubuh Bana-phrionnsa.


"Ehm! Ehm!" deheman seseorang membuat Alaric melepaskan pelupakannya, ia menoleh pada seorang.


"Bana-phrionnsa Tara!" pekik Alaric terkejut, ia melihat jika Tara yang berdiri di belakangnya dengan berkacak pinggang.


"Bana-phrionnsa Tara?!" ulang Alaric terperanjat, ia langsung menoleh kepada Bana-phrionnsa Tara di sisinya yang berubah menjadi beberapa peri kecil terbang menari-nari tertawa cekikikan.


"Dia benar-benar mencintaimu, Bana-phrionnsa Tara!" teriak peri mungil tersebut yang mirip Tinkerbell di film animasi terkenal.


"Si-siapa mereka? Ma-maafkan aku Bana-phrionnsa Tara," lirih Alaric sedikit malu akan kebodohannya.

__ADS_1


"Sudahlah, mereka adalah Peri Bayangan. Mengapa kerajaan ini dinamakan Sgàil Shìthiche? Itu diambil dari ras mereka," ujar Tara, 


__ADS_2