Penunggang Naga Terakhir

Penunggang Naga Terakhir
Asal usul Bagshot


__ADS_3

"Zerrin! Teruslah terbang tinggi!" ujar Alaric, ia melihat jika bayangan hitam dengan tubuh penuh jerami tanpa wajah yang terlihat semuanya tertutup dengan jerami hitam terus berusaha mengejar Zerrin.


"Jangan coba-coba untuk menangkap Zerrinku!" teriak Alaric, ia langsung melesat dengan secepatnya di atas gurun yang berpasir melesat menebaskan pedangnya.


Para Bagshot kebingungan mereka tak menyangka jika manusia di depannya mampu melihat mereka dengan sangat baik. Para Bagshot menguik-nguik tak jelas seakan mereka berbicara satu dengan yang lain.


Mereka berusaha untuk mengepung Alaric dan sebagian mengejar Zerrin yang terus mengepakkan sayapnya setinggi mungkin seakan ia telah menggapai angkasa.


"Zerrin! Teruslah di sana! Jangan turun ke bawah!" teriak Alaric, "mengapa Zerrin tidak bisa melihat mereka? Makhluk apa ini?" batin Alaric bertanya.


Namun, bayangan jerami dengan jaring yang melesat dari tangan mereka tidak bisa menggapai Zerrin kala Zerrin terbang tinggi dari permukaan tanah.


"Mereka sebangsa makhluk bagaimana sih?" batin Alaric bingung, ia masih mengawasi makhluk yang mencoba untuk mengejar Zerrin.


Namun, Bagshot tidak bisa tentang tinggi dari permukaan laut. Alaric sedikit bernapas lega melihat hal itu, ia langsung menatap musuh di depannya. Di balik jerami terlihat sinar mata merah yang berusaha untuk menembus ke jantung Alaric.


Akan tetapi sinar mata musuh tersebut tidak mampu untuk melukai dan menembus tubuh Alaric, ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Seakan sinar itu mental dari tubuhnya langsung mengenai musuh itu sendiri.


"Apakah ini karena baju yang diberikan oleh peri Bayangan di Sgàil Shìthiche dan baju zirah milik goblin yang hebat dan keren?" barin Alaric, ia merasa bangga dengan kedua baju yang melindunginya.


Alaric ingin berterima kasih kepada peri bayangan elf dan raja Gorra, "Aku akan berjuang hingga darah penghabisan untuk menghancurkan musuh lihat saja!" batin Alaric, ia bertekad untuk hak itu.


"Demi elf, goblin, manusia, naga, dan raksasa juga siapa pun yang telah disakiti pasukan Calder dan Gorian. Mereka sudah begitu baik kepadaku," batin Alaric.


Alaric bertekad memberikan hidupnya hanya untuk kebaikan semua klan yang ada di muka bumi yang telah menyelamatkan dan memberi kasih sayang padanya setelah kematian Haiden dan Daisy West.


Alaric melihat jika bayangan hitam itu masih menginjakkan kaki di tanah dan tidak melayang seperti pasukan bayangan hitam Gorian yang berkeropeng mirip tengkorak manusia.


"Jika mereka masih menginjakkan kaki, bukankah mereka manusia? Klan Goblin tidak mungkin, jika elf … aku tidak mencium bau wangi dari tubuh mereka, raksasa tidak mungkin terlalu besar. 

__ADS_1


"Manusia … tapi, mengapa mereka menutupi diri dengan jerami hitam?" batin Alaric, ia masih menghunuskan pedang naga merahnya yang mengeluarkan cahaya api.


"Alaric! Gunakan api dari kekuatanmu! Mereka takut api dan air!" teriak Zerrin, ia takut jika Alaric tidak mengetahui kelemahan musih mereka.


Zerrin tahu jika Alaric tidak begitu pintar dan tidak memahami banyak hal karena ia tak punya waktu untuk membaca, Zerrin merasa kasihan. Sehingga ia pun menggunakan waktu untuk terus membaca buku dari perpustakaan elf di Sgàil Shìthiche yang bisa disihir dari ketiadaan walau sejauh apa pun jika sudah memiliki keterikatan dan sumpah setia dengan ratu elf dan peri bayangan pemilik Sgàil Shìthiche.


"Apa?!" teriak Alaric, di bawah sana.


Jarak antara bumi dan terbang Zerrin di angkasa membuat Alaric kesulitan mendengar suara Zerrin belum lagi angin gurun yang menderu tak karuan dan suara-suara gaokan aneh dari musuh di depannya.


"Hadeh, payah! Punya ayah Oneng bin lemot, hm … percuma aku berteriak dia tidak akan mendengarkan. Sebaiknya aku pakai telepati saja!" batin Zerrin, ia menggelengkan kepala menyeringai kesal.


Zerrin langsung berbicara lewat telepati jika yang dilawannya adalah Bagshot dan menjelaskan segala yang takuti oleh Bagshot. Alaric mengerti dan langsung melesat secepatnya menebaskan pedang di gurun dengan kekuatan api dari kekuatan sihirnya.


Menebaskan pedang ke kiri dan kanan dan membakar jaring yang dilontarkan para Bagshot dan Alaric melihat dengan jelas pedang yang keluar dari balik jerami dengan bertubi-tubi seakan di balik jerami tersimpan berbagai senjata.


"Memang mereka gudang senjata apa?" batin Alaric merasa geli, "seharusnya aku punya satu seperti ini. Jadi, jika perang tidak kehabisan senjata …," benak Alaric.


Seakan Alaric tak membutuhkannya, "Jangan marah, Nak. Itu hanya pengandaian jika mereka tidak jahat. Bukan apa-apa, lagian kita tidak tahu maksud dan tujuan serta makannya. Jika darah bagaimana?" ujar Alaric.


"Nah, tuh pintar. Alaric, cepatlah bunuh mereka, aku bosan di atas sini hanya mengepakkan sayapku!" teriak Alaric.


"Ya, ampun … semakin hari kamu mirip ibu Daisy! Cerewet minta ampun. Apakah semua wanita cerewet begitu?" umpat Alaric, ia pun mengingat Tara Dale.


Alaric merasakan rindu, ia sedikit cemberut baru saja rasanya ia berpisah tapi sudah kembali rindu pada pujaan hatinya yang cantik.


Alaric langsung menebaskan pedang dengan cepat, ia bingung Bagshot begitu mudah dibunuh dibandingkan yang lain dari pasukan Gorian.


"Ya, mudah dibunuh! Jika kau bisa melihatnya. Yang bisa melihat hanya elf dan para penyihir dari klan manusia, goblin yang memiliki ilmu sihir tingkat tinggi!" ketus Zerrin marah, ia marah pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Zerrin merasa tak berguna jika Bagshot menyerangnya ia tak memiliki kekuatan untuk itu bahkan jika dia menggunakan api maka banyak korban dari pihaknya yang akan mati sia-sia bahkan teman mereka.


Bagshot tidak menyangka jika lawan mereka kali ini bukanlah orang sembarangan. Jaring dan kekuatan Bagshot tidak bisa melawan kekuatan sihir kuno elf hingga Bagshot langsung lenyap tak bersisa menjadi debu hitam.


"Sementara klan naga dan raksasa juga bukan penyihir tidak akan bisa melihat Bagshot!" umpatnya kesal, ia masih mengepakkan sayap di angkasa.


"Apakah para Bagshot itu sudah tewas?" tanya Zerrin, ia sedikit was-was.


"Sudah, mereka sudah tewas. Ayo, turunlah! Bukankah kita akan pergi ke Lùchairt Dragon? Kapan sampainya jika begini?" teriak Alaric.


"Ah, sabarlah! Apakah kamu yakin para Bagshot itu sudah kabur?" tanyanya masih mengepakkan sayapnya.


Zerrin tidak menyangka jika klan naga pun masih memiliki kelemahan yaitu : Bagshot. Akan tetapi Zerrin sedikit bingung.


"Bagshot bukan sebagai klan mereka diciptakan dari klan manusia yang disihir dengan ilmu hitam. Apakah itu yang ditakuti oleh klan Naga dan Raksasa sehingga mereka takut untuk membantu klan lain untuk menghancurkan Gorian? 


"Bukankah Bagshot sebenarnya hanyalah mitos dan ilmu sihir yang digunakan oleh para penyihir hitam dan itu adalah ilmu sihir kuno yang sudah dihancurkan?" batin Zerrin.


Bahkan para penyihir dari semua klan goblin, manusia, dan elf dilarang menggunakan sihir hitam itu dan telah dihancurkan. Lalu, mengapa sekarang ada?" batin Zerrin tidak mempercayai akan hal itu.


Zerrin menukik dan mendarat di gurun, ia dan Alaric berjalan perlahan menelusuri gurun yang diterangi cahaya bintang awan hitam telah lenyap bersamaan dengan hilangnya para Bagshot.


"Zerrin, kamu bilang, jika Bagshot hanyalah manusia yang disihir dengan ilmu hitam. Apakah semua itu juga ciptaan Calder Hall begitu?" tanya Alaric, ia mulai menghubung-hubungkan banyak hal.


"Ya, pastinya siapa lagi yang memiliki kekuatan sihir hitam yang mengerikan pada masa ini? Selain Calder Hall?" ujar Zerrin, ia masih melayang rendah.


Zerrin tidak suka berjalan dengan cakarnya ia merasa sangat lambat. Ia tidak suka lambat dan tidak sabaran satu hal yang kadang bertentangan dengan Alaric yang terlalu senang menikmati segala hal di dalam kehidupan. 


"Ya, kamu benar juga sih!" jawab Alaric, ia masih berjalan dan telah menyarungkan pedangnya.

__ADS_1


Berjalan menikmati gurun, "Baru kali ini aku melewati gurun. Rasanya seperti ini ya?" ujarnya.


__ADS_2