
Glek!
"Sialan! Penunggang ini!" geram batin
Zerrin, ia ingin mencabik dan memanggang Zola dengan apinya.
"Enak saja dia menghina Alaric-ku, dia telah menyelamatkan diriku dari apa pun, mengajariku banyak hal. Dia bagaikan ayah dan ibu untukku!" umpat batin Zerrin, kini ia bisa menutup koneksi agar Alaric tak bisa mengetahui apa yang dipikirkannya begitu juga sebaliknya.
"Tapi, kaum elf yang yang menganggapnya diri mereka suci malah selalu berbuat curang!
"Akibat perbedaan kasta inilah, aku dan Alaric semakin jauh. Kami tak sehangat dulu lagi, setiap malam Alaric meringkuk di sudut sangkar dengan menyihir dirinya agar tetap hangat.
"Alaric tak lagi berlindung di bawah sayapku yang hangat dan bermain denganku! Sialan! Aku benci!" umpat batin Zerrin marah dan sedih.
"Aku rindu Alaric yang dulu yang selalu memeluk dan berbicara banyak hal!" umpat batin Zerrin murka.
"Zerrin, aku … aku tidak yakin apakah aku sanggup!" keluh Alaric, ia merasa takut jika tak berhasil menyelamatkan Zerrin.
Apalagi membuatnya terluka, "Aku tak bisa memaafkan diriku. Jika Zerrin terluka," lirih batin Alaric.
"Alaric aku percaya padamu! Kau telah menyelamatkanku dari ksatria Penunggang dan ksatria sihir Gorian! Kau telah menyelamatkan penduduk Cornhill.
"Aku percaya kau pasti bisa! Demi harga diri kita! Dewa-dewa dan entah apa pun itu nama-Nya telah memilihku untukmu dan sebaliknya.
"Mereka! Siapa mereka? Yang selalu bersembunyi! Jika mereka hebat! Mengapa tak pernah keluar dari sini dan menghancurkan Gorian?" teriak Zerrin murka, ia sengaja membuka suara dan koneksinya pada seluruh Sgàil Shìthiche.
"Sudahlah! Kalian menyerah saja! Tak akan ada yang sanggup untuk mengalahkan Dragon Rider Zola dan Zubair! Mereka yang terkuat!" ujar semua orang dari bangku podium.
Glek!
Alaric dan Zerrin semakin amarah, jiwa muda mereka menguasai segalanya. Alaric mengambil pedangnya dan menahan rasa sakit di tubuh.
"Zerrin, Aku rasa kau benar! Demi harga diri kita. Ayo, selesaikan semua ini, aku ingin terbang bersamamu ke luar dari Zadin. Bawa aku memakan yang berdarah (hewan).
"Rasanya aku rindu berburu denganmu, mandi di sungai, dan berlomba bersama burung terbang di angkasa!" lirih Alaric, ia langsung menumpulkan kembali pedangnya memberikan perlindungan pada dirinya dan Zerrin.
"Janji? Kita akan kembali berburu, mandi di sungai? Aku rasa kau sudah sangat bau Alaric, aku mau muntah!" umpat Zerrin menyeringai.
__ADS_1
"Cih! Gadis sok bersih! Memang kau mau tebar pesona dengan naga jantan yang mana? Di sini naganya tua semua!" umpat Alaric.
"Hahaha! Ya, paling tidak bisa untuk cuci matalah!" balas Zerrin tersenyum bahagia.
"Ya, ampun! Kamu masih muda Zerrin,
belum cukup umur untuk jatuh cinta! Rasanya baru kemarin kami menetas dari cangkangmu," keluh Alaric, ia merasa tak rela jika ada yang mengambil anak gadisnya secepat itu.
"Kamu cemburu begitu?" gelak tawa renyah Zerrin membuat semua elf terpesona akan keduanya.
Zubair mengedipkan mata, ia tak nyangka jika kehidupan Zerin lebih indah dari miliknya yang gersang segersang gurun tandus bersama Zola.
"Ngaco! Aku bukan cemburu! Kau bayangkan jika seorang ayah yang melihat bayinya lahir dan … ya, ampun, Zerrin! Kau … sudah jatuh cinta? Aku akan memotong sayap kekasihmu itu, jika dia macam-macam denganmu!" umat Alaric murka.
Alaric tidak bisa membayangkan bagaimana jika Zerrin akan menikah dan mengandung, ia mengernyitkan dahinya.
"Apakah kau tahu, bagaimana kami kawin begitu? Memang kau pernah mengintipnya? Kami tidak mungkin memakai baju putih dan rangkaian bunga sepeti di imajinasimu itu Alaric!
"Woy! Sadar! Aku ini naga buka elf atau manusia!" umpat Zerrin, "ah, sudahlah Alaric aku hanya … melihat naga jantan bukan seperti imajinasimu!" keluh Zerrin, ia cemberut.
"Pokoknya jika kau jatuh cinta pada naga mana pun itu. Katakan padaku, aku tidak ingin dia menyakiti putriku!" umpat Alaric murka.
"Jika aku punya anak perempuan? Sama saja, bukankah sekarang pun aku punya anak perempuan? Yaitu : dirimu!" ujar Alaric lembut.
"Hahaha, iya Ayah! Tapi, kapan kau menikah!" sindir Zerrin.
Pluk!
"Zerrin!" teriak Alaric, memukul kepala Zerrin pelan dengan penuh kasih sayang dan penghargaan seorang ayah.
"Sudahkah, mari kita selesaikan ini. Aku ingin mandi!" ucap Alaric, ia tahu tak akan menang Jika adu mulut dengan Zerrin.
Sehingga ia mengalah saja, "Baiklah! Aku juga ingin mengajakmu berburu rusa gemuk di luar Sgàil Shìthiche," ujar Zerrin memberi informasi.
"Sip!" balas Alaric tersenyum.
Keduanya langsung menyerang ke arah Zola dan Zubair. Kini, Zola dan Alaric melesat dari punggung naganya dan bertarung di angkasa.
__ADS_1
Trang! Tring!
Kedua pedang berlaga, semburat api dari kedua pedang memantul, Zola terkesiap. Ia tak menyangka jika pedang Alaric yang tumpul memiliki kekuatan.
"Pedang merah delima ini sungguh luar biasa! Pantas saja, si pemilik dulunya sangat terkenal hebat!" batin Zola mengakuinya.
Cahaya pendar merah dari Bru delima menebas ke mana-mana bersamaan dengan kekuatan perak dan merah yang meluncur dari tubuh Alaric.
Trang! Trang!
Zubair dan Zerrin masih saling serang di angkasa terkadang kedua penunggangnya kembali ke punggung mereka dengan berdiri dan kembali bertempur.
"Aku harus mengakhiri ini jika aku tidak ingin malu!" ujar Zola,ia langsung mengarahkan sihir pada pedangnya yang bebas tanpa tumpul.
"Mampuslah kau si Darah Campuran!" batin Zola melesat dengan cepat dan menyerang dengan kekuatan yang mengerikan tebasan pedangnya bergema dan ingin melukai Alaric.
Namun, Alaric tak lagi mau mengalah dan terlihat bodoh, ia pun mengerahkan kekuatan pada pedang tumpul dengan tenaga dalamnya tetapi, ia tak menggunakan seperempat tenaganya.
Alaric takut jika dirinya akan membunuh salah satu penunggang naga elf dan ia akan dikucilkan atau dihukum.
Trang! Brak!
Kedua pedang saling berbenturan dan Zola langsung terkapar jatuh terkulai di tanah muntah darah tanpa luka sedikit pun karena Alaric tetap menumpulkan pedangnya.
"Tuan Zola …," lirih semua orang tak mempercayai semua itu.
Alaric masih berdiri di punggung Zerrin yang masih mengambang mengepalkan sayap di angkasa.
"Zerrin, turunlah! Kita harus memeriksa Tuan Zola," pinta Alaric, ia merasa kasihan pada Zola.
"Biarkan saja! Dia yang curang sehingga yang Maha Kuasa menghukumnya!" ketus Zerrin, ia membuang wajahnya.
"Zerrin …," lirih Alaric selemah lembut mungkin, ia tahu jika dengan nada demikian Zerrin tak bisa menolak.
"Iya! Iya!" umpat Zerrin Kesal, ia menukik ke arah Zola dan Zubair yang terluka.
Zerrin membungkuk membuat semua orang takut jika Zerrin membunuh Zubair, begitu juga dengan Alaric yang sedikit berjongkok dan memeriksa luka Zola.
__ADS_1
Pasangan muda tersebut antara naga dan penunggang yang selalu terhina itu dengan rela dan ikhlas untuk mengobati Zubair dengan sihirnya dan Alaric melakukan hal yang sama. Ratu Zain melesat ke arah Zola dan Zubair untuk memberikan pertolongan.