Penunggang Naga Terakhir

Penunggang Naga Terakhir
Zork si pengkhianat


__ADS_3

Tara, Alaric, dan semua goblin kembali masuk dan menutup tingkap. Semua orang berjalan pelan, Gorra memandang sekitarnya, ia berjalan pelan dengan jubah biru keemasannya berjuntai di tanah dan mahkota di kepalanya dipantulkan oleh sinar rembulan dari kisi-kisi kecil ventilasi juga cahaya obor di dalam ruangan.


Gorra menarik napas lega, beberapa jam yang lalu, ia hampir saja ingin pergi ke Calder untuk menyerang empire Gorian yang telah menghancurkan kerajaan yang dibangun olehnya dengan susah payah selama 200 tahun. 


Namun, kini ia sedikit lega karena istananya sudah seperti sedia kala, ia hanya menyayangkan jika mereka tidak berhasil membunuh Zork si pengkhianat.


"Aku berharap kami bisa menangkap dan mengadili Zork. Dia sudah berkhianat dan membunuh klannya sendiri, hanya kematianlah yang pantas untuknya," tegas Gorra di dalam benak, ia merasa jika Zork pantas mendapatkan kematian tanpa perlu diadili lagi.


Akan tetapi, sebagai raja ia tidak ingin tidak mematuhi peraturan dari terdahulunya. Semua goblin berkasak- kusuk, mereka tidak ingin Zork diadili kembali.


Kini Gorra merasa peraturan raja terlalu sudah sedikit usang dan butuh diperbaharui, "Hukum dan peraturan tidak jelas menyebutkan hukum bagi seorang pengkhianat. 


"Apa sebaiknya aku harus mengeluarkan peraturan baru mengenai hukuman bagi pengkhianat? Jika raja terdahulu tidak secara terperinci mengatakan hukuman untuk pengkhianat, karena pada masa itu.


"Klan Goblin tidak pernah mau membuka diri dan menampakkan wujudnya ke dunia luar. Berbeda dengan sekarang," batin Gorra, ia sedikit termenung.


"Ampun, Yang Mulia … hamba rasa, Zork tidak perlu lagi diadili. Zork sudah benar-benar bersalah, mau diadili bagaimana lagi? Dia memang terbukti telah membunuh Tuan Zio dan memasukkan para ksatria Gorian 


"Bahkan, sekarang pun Zork telah menjadi sekutu dari Gorian, usul hamba, tidak ada lagi pengadilan yang pantas untuknya," ujar sepuh Zule.


"Benar, Yang Mulia! Hukum dan peraturan kita bukan untuk pengkhianat!" ujar Garay, "jika tidak ada Bana-phrionnsa Tara, Dragon Rider Alaric, dan Dragon Zerrin … kemungkinan klan kita sudah punah," lanjut Garay.


Suasana kembali riuh, semua klan goblin setuju dengan usul kedua pemuka klan mereka. 


"Baiklah, jika begitu! Aku sependapat dengan kalian, aku hanya tak ingin aku tidak mematuhi perintah dari terdahulu," ujar Gorra, ia tersenyum lelah dan berwibawa.


"Apakah kita perlu mengubah peraturan dah hukum bagi pengkhianat?" tanya Gorra.


"Tentu Yang Mulia!" balas semua orang.

__ADS_1


"Bsiklah, besok kita pikirkan. Nah, sekarang waktunya kita istirahat, begitu juga Anda bertiga. Besok akan kembali berlatih, sepertinya kita tidak boleh membuang-buang waktu lagi," ujar Gorra, "aku merasa peperangan pasti akan terjadi, aku sudah berbicara dengan Ratu Zarina. 


"Jika Raja Jolla pun sudah berusaha memperkuat prajuritnya, aku berharap Bana-phrionnsa Tara mau mengajari para goblin untuk berlatih pedang," pinta Gorra, ia sangat ingin sekali memperkuat prajuritnya 


Sehingga ia berharap jika Bana-phrionnsa Tara mau mengajari prajurit miliknya untuk berperang. 


"Tentu saja, Yang Mulia! Hamba akan senang sekali, besok saya akan mulai mengajari kemampuan saya kepada prajurit goblin," balas Bana-phrionnsa Tara tersenyum.


"Aku juga ajan mengajari jika aku sudah bisa membuat baju zirah Zerrin," ucap Alaric, ia sangat berharap bisa membantu rakyat Goblin yang sudah berbaik hati padanya.


"Terima kasih, sekali. Aku sangat senang mendengarnya, Bana-phrionnsa Tara dan Dragon Rider Alaric. Sekarang, 


"Satu hal lagi, Garey akan ikut dengan kalian ke luar nantinya, aku ingin … dia sebagai perwakilan dari klan goblin. Garey apakah kamu bersedia?" tanya Gorra, ia menatap Garey.


"Tentu saja, Yang Mulia!" bakas Garey, ia adalah putra tertua Gorra.


"Aku ingin Garret yang akan memberitahukan apa pun padaku dan sepuh Zule, jika pertempuran akan bersatu menyerang Gorian. Marilah, kita istirahat!" ajak Gorra, ia menatap semua orang.


"Baik, Yang Mulia Raja yang Agung!" balas semua orang.


Seketika kerumunan bubar, semua orang beristirahat kecuali para prajurit yang berjaga-jaga. Gorra lebih memperketat penjagaan dan kembali menyegel pintu-pintu untuk keluar masuk ke kerajaan Golden dari luar Romundur.


"Bana-phrionnsa Tara …," lirih Alaric. 


Keduanya sudah berada di dalam kamar masing-masing, "Ya, ada apa Alaric?" tanya Tara, ia memiringkan posisi tidurnya menghadap dinding.


"Um, bagaimana seseorang bisa berkhianat pada klannya dan memihak Calder?" tanya Alaric bingung, ia tak mengerti ada orang-orang yang lebih memilih musuh daripada kaumnya.


"Alaric, di dunia ini banyak orang-orang baik dan tidak dari setiap klan, ada yang memiliki sifat iri, dengki, dan tamak. Dunia itu penuh warna bukan hanya hitam dan putih tapi, ada juga abu-abu.

__ADS_1


"Kamu harus tahu, itu Alaric. Tidak semua orang itu baik, di setiap klan. Apakah itu elf, manusia, goblin, naga, maupun raksasa selaku ada saja yang jahat. Kamu harus mengerti dan berhati-hatilah," bisik Bana-phrionnsa Tara.


"Oh, begitu … Bana-phrionnsa, lalu apa yang didapatkan oleh Zork? Maksudku dengan dia berkhianat begitu?" tanya Alaric bingung 


"Mungkin Calder menjanjikan sesuatu kepada Zork, seperti … dia mungkin ingin menjadi raja, karena para raja Goblin ini tidak berdasarkan pada keturunan walaupun itu diperlukan.


"Gorra adalah cucu dari raja Goblin yang ke-120. Jika Gorra meninggal belum tentu Garey yang menjadi raja. Walaupun Garey putranya, kecuali Garey memiliki kecakapan tersendiri untuk membangun dan memajukan klan Goblin," papar Tara.


"Tuan Garay putra dari Raja Gorra?" tanya Alaric, ia tidak melihat kemiripan di sana.


"Ya, mereka adalah anak dan ayah Alaric. Jadi, kesamaan dan kesetaraan di goblin lebih maju sebenarnya," ujar Bana-phrionnsa Tara, "berbeda dengan elf, manusia, naga, dan Raksasa atau orge," ujar Bana-phrionnsa Tara.


"Oh, begitu!" balas Alaric, "apakah Caldar juga seorang keturunan kaisar?" tanya Alaric, ia penasaran.


Hening ….


"Bana-phrionnsa? Apakah engkau sudah tidur?" tanya Alaric, ia mencoba untuk mengeser tubuh dan menempelkan telapak tangan di dinding emas tersebut.


Alaric mencoba memusatkan pikirannya dan mencari bayangan tubuh dan wajah Tara di balik dinding tersebut. Namun, Alaric melihat jika Tara sudah tertidur.


"Bana-phrionnsa … sudah tidur. Ya, sudahlah," lirih Alaric, ia penasaran siapa sebenarnya Calder Hall.


Sementara Bana-phrionnsa Tara tidak tidur ia dhanya menutup koneksi dan memejamkan mata. Tara tidak ingin jika Alaric mengetahui kisah Calder Hall dan dirinya sendiri.


"Maafkan aku Alaric, suatu saat nanti, jika kau sudah lebih dewasa untuk ukuran klan milikmu. Kau akan mengetahui sendiri asal-usul dirimu. Begitu juga dengan Calder Hall.


"Hm, andaikan Calder Hall tidak angkuh dan sombong dengan kepintaran miliknya, kemungkinan segala tirani ini tak akan pernah terjadi.


"Aku tidak memahami sebenarnya apa yang terjadi, aku masih kanak-kanak masa itu. Aku hanya tahu jika Calder Hall adalah putra dari kaisar Gorian dan wanita elf yang berasal dari peri Bayangan," batin Tara.

__ADS_1


Tara Hall pernah mendengar rumor tersebut tetapi, ia pun tak bisa menjelaskan secara terperinci bagaimana kisah cinta itu berlanjut dan bagaimana bisa Calder Hall yang angkuh juga sakti tersebut menjadi naif dan jahat.


"Tak seornag pun yang tahu, apa pun hanya saja. Selain darah campuran setengah manusia dan elf itulah Calder menjadi sakti dan hebat hingga ia ingin menguasai dunia dan memperbudak semua klan." Bana-phrionnsa Tara terdiam di dalam benaknya.


__ADS_2