
"Bagaimana keadaan Zola dan Zubair Alaric?" tanya Ratu Zain, ia sudah mendarat di sisi Alaric.
"Saya rasa sudah lebih baik Ratu. Maafkan saya, Tuan Zola. Sepuh Naga Zubair," ucap Alaric menyentuh kepala Zubair dengan sopan dan kasih sayang.
Zubair begitu terenyuh dengan perlakukan Alaric yang tidak pernah di dapatkannua dari Zola dan penunggang lainnya.
"Oh, darah campuran ini lebih memiliki hati nurani," bisik Batin Zubair, "berapa beruntungnya Zerrin memiliki penunggang yang rela mati demi dirinya. Kebanyakan, nagalah yang dituntut untuk berkorban," batin Zubair tersenyum.
"Tidak masalah, Tuan Dragon Rider. Di dalam pelatihan hal ini sudah biasa," ucap Zubair takzim menyentuhkan kepala kepada Alaric.
Semua ras Elf terpesona, mereka tidak menyangka akan hal itu. Mereka sedikit malu dengan kebaikan dari si darah campuran dan naga mudanya.
Teng! Teng!
"Bersiaga! Pasukan Gorian muncul! Mereka mulai menyerang Sgàil Shìthiche!" sebuah suara tanpa wujud bergema memenuhi seluruh Sgàil Shìthiche.
"Apa?!" teriak Ratu Zain, "sial! Apakah mereka mengetahui, jika penunggang baru telah muncul? Calder Hall pasti takut akan kebenaran ramalan itu!" umpat batin Ratu Zain.
"Ratu Mulia Zain …," ucap Zola ingin bangkit bersama Zubair.
Keduanya ingin mempertahankan Sgàil Shìthiche, "Izinkan kami pergi! Hanya kami yang masih tersisa," lirih Zola.
"Tuan, Anda terluka. Tidak mengurangi rasa hormat saya dan Zerrin, saya mohon. Berilah kesempatan saya untuk ikut berperang menyelamatkan Sgàil Shìthiche," ucap Alaric, ia sedikit membungkuk.
"Tapi …," ujar Zola, ia merasa sangat malu.
"Sudahlah Zola, biarkanlah Alaric ikut. Di Sgàil Shìthiche hanya kamu dan Alaric sebagai penunggang!" ujar Ratu Zain.
"Tapi, Ratu-"
"Tidak perlu sungkan dan malu! Aku rasa kesalahan para elf terlalu menjunjung harga diri mereka yang tinggi sehingga segalanya semakin kacau.
"Mulai sekarang, kita harus membuat perbedaan itu hilang. Jika kita ingin menghancurkan Gorian dan Calder Hall kita harus mengesampingkan ego dan harga diri kita yang tinggi.
"Setiap klan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Aku rasa, sudah waktunya kita untuk berbenah diri dan memperbaiki segala apa yang menurut kita selama ini adalah yang terbaik.
"Akan tetapi yang menurut kita terbai hanya untuk kita, tidak untuk ras lain seperti manusia, naga, Goblin, dan raksasa.
__ADS_1
"Dragon Rider dan kamu Zerrin. Aku harap kalian harus selamat! Aku dan prajurit Sgàil Shìthiche akan bersamamu!" ucap Ratu Zain.
Ratu Zain merasa sudah waktunya dia keluar dari Sgàil Shìthiche, selama 3000 tahun, ia hanya tinggal di Sgàil Shìthiche. Ratu Zain menatap semua orang.
"Baik, Ratu Yang Mulia Zain!" jawab semua orang.
Semua orang berlari ke arah sebuah rumah sebagai gudang persenjataan semua prajurit muncul dengan senjata di tangan dan baju zirah perak.
"Alaric, apakah kamu yakin dengan semua ini?" tanya Ratu Zain, "jika kamu tidak yakin. Kamu bisa mengundurkan diri, karena jika kamu sudah keluar dari Sgàil Shìthiche. Itu artinya kamu tidak bisa kembali lagi!" ujar Ratu Zain.
"Tidak masalah Ratu, saya dan Zerrin telah tinggal sebulan di sini dan kami sudah makan dan minum juga menghirup udara dan hasil Sgàil Shìthiche
"Saya rasa, aku dan Zerrin pun berkewajiban untuk ikut menyelamatkan Sgàil Shìthiche," ujar Alaric, "bukankah begitu Zerrin?" tanya Alaric.
"Ya, Alaric benar, Ratu Yang Mulia. Saya pikir kami pun berhak untuk ambil bagian di dalam melindungi Sgàil Shìthiche yang indah ini," balas Zerrin.
Ratu Zain tersenyum bangga, "Terima kasih! Ayo, semua! Mari kita ke luar dari gerbang Sgàil Shìthiche!" teriak Ratu Zain.
"Ayo!" teriak semua orang.
"Is mise a’ Bhan-rìgh Elder Zain a’faighneachd cead geataichean Sgàil Shìthiche fhosgladh a rèir òrdughan na Banrigh Zarina?
"(Aku Ratu Sepuh Zain meminta izin untuk membuka pintu gerbang Sgàil Shìthiche atas perintah Ratu Zarina)" ujar Ratu Zain membuka poltar di depan dua buah tugu yang terpancang mirip gapura.
Sebuah sinar perak berkilau dan sulur-sulur tumbuhan pun terbentang membuka sebuah pintu. Gedebam! Bunyi keras pintu membentur tanah di seberang.
Alaric dan Zerrin melihat jika di depan mereka pintu tersebut adalah sebuah jembatan dengan air mengalir deras dan tonggak-tonggak runcing sebagai benteng pertahanan yang disihir.
Semua kuda melesat dengan cepat bersamaan dengan tertutupnya kembali benteng Sgàil Shìthiche. Uikan kuda bergema membelah malam.
"Di luar sini malam? Bukankah … baru saja di Sgàil Shìthiche siang?" ucap Alaric bingung.
"Ya, perbedaan waktu di klan manusia dan elf berbeda. Jika di ras manusia sebulan, itu artinya di Sgàil Shìthiche baru sehari. Itu yang aku baca di buku-buku sejarah Sgàil Shìthiche," ucap Zerrin.
"Apa? Jadi kita sebulan di Sgàil Shìthiche di dunia manusia itu artinya kita sudah 30 bulan? Ya, ampun kita hampir tiga tahun hilang dari peredaran?
__ADS_1
"Ini mengerikan, Alaric! Wah, untung saja aku tidak punya sanak keluarga jika punya mereka sudah melakukan ritual kematianku," balas Alaric.
Alaric tidak menyangka akan semua itu. Zerrin semakin mengepakkan sayap mengikuti Ratu Zain yang bergerak cepat bak angin dengan kudanya.
"Zerrin, kau hebat sekali! Kau bisa setangguh ini?" puji Alaric, ia sudah terlalu lama tidak terbang dengan Zerrin,mereka hanya berlatih dan berlatih tebang di Sgàil Shìthiche saja.
"Ya, anak siapa dulu?" jawab Zerrin bangga.
"Anak, ayah!" balas Alaric terenyum.
Alaric dan Zerrin melihat jika ras Elf hanya diam bak sebongkah es di musim salju, rambut mereka yang putih selaras dengan baju zirah membuat mereka bagaikan tumpukan salju di atas punggung kuda bersayap tersebut.
Alaric dan Zerrin diam, "Aku berharap kali ini, kita tidak terlalu kesulitan untuk melawan pasukan Gorian," lirih Alaric, ia mengingat pertempuran terakhirnya yang mengerikan.
"Kau benar aku pun berharap demikian Alaric. Rasanya mengerikan jika kita masih juga kalah, kau tahu. Latihan yang kita jalani sangat mengerikan, bukan?" ucap Zerrin mengingatkan Alaric.
"Ya, kamu benar!" balas Alaric.
Di sebuah batas sebuah hutan dan air terjun, Alaric melihat kumpulan Ksatria Gorian sedang menyerang ke arah perbatasan dengan sebuah bola api dan berbagai kekuatan.
Namun, Alaric dan Zerrin melihat jika semua bola api itu tidak bisa masuk karena adanya perisai pelindung di sekitar mereka.
Ratu Zola kembali mengangkat tangan hingga mereka seakan tersedot ke luar dan terhempars di balik di dong ya g mirip gelembung sabun.
"Ya, Zeus! Apa ini," ucap Alaric bingung.
"Itu adalah perisai pelindung tingkat tinggi Yangs elali dilakukan para elf setiap seminggu sekali," ucap Zerrin.
"Oh, kau terlalu banyak mengetahui semua itu Zerrin?" tanya Alaric tidka mengerti.
"Ya, karena setiap waktu mereka mengajakku untuk melakukan banyak kegiatan dan kebudayaan mereka." Zerrin tetap terbang mengikuti ratu Zain dan fokus akan banyaknya bahaya.
Alaric menyadari hal itu, ia langsung memasang perisai untuknya dan Zerrin.
"Serahkan penunggang baru itu, Ratu Sepuh!" ucap salah seorang penunggang naga Gorian.
__ADS_1