
Amara tersenyum, pipinya memerah karena menahan malu akibat digoda oleh Sony.
“Ya, habis mandi lah, memangnya menurutmu kalau rambut seseorang basah habis ngapain?” timpal Emran seraya tersenyum.
Mereka tertawa dalam obrolannya. Selain orang kepercayaan Emran, Sony juga sudah dianggap sebagai keluarga Emran. Dia tinggal di rumah Emran.
“Son, aku sudah menemukan cinta sejatiku. Sekarang, giliran kamu yang mencari cinta sejatimu. Aku juga ingin melihatmu bahagia,” ucap Emran.
“Bos, tidak perlu khawatir. Jika sudah waktunya pasti aku akan melepas masa lajangku,” jawab Sony seraya tersenyum.
Ya, pria tampan kepercayaan Emran itu sangat setia kepada bosnya. Sampai-sampai dia memutuskan untuk tidak menikah sebelum Emran menikah.
Emran sudah menyuruhnya untuk menikah, namun dia selalu menolak. Jika dia menikah terlebih dahulu, lalu siapa yang akan menemani Emran? Itu yang ada dalam benak Sony.
Sekarang, Sony sangat bahagia karena akhirnya Emran menikah dengan perempuan yang dia cintai. Dia yakin bahwa Amara bisa membuat Emran bahagia. Kini saatnya dia mulai memikirkan masa depannya.
***
Di sebuah gedung megah. Acara resepsi pernikahan Emran dan Amara sedang berlangsung. Tamu undangan dari kalangan pengusaha dan tenaga kesehatan banyak yang sudah datang.
Emran dan Amara tengah bersanding mengenakan gaun pengantin dari perancang terkenal. Mereka terlihat sangat tampan dan cantik. Senyum kebahagiaan terpancar dari kedua wajah mempelai itu.
“Sayang, aku tidak sedang bermimpi, ‘kan?” tanya Amara lirih.
__ADS_1
Emran tersenyum. “Apa perlu aku cium untuk memastikan ini mimpi atau tidak?” goda Emran.
“Iiih, kamu ini ... jangan mulai deh,” timpal Amara seraya mencubit manja Emran.
Wajar saja Amara merasa ini semua seperti mimpi. Awalnya dia hanya mengira dinikahi oleh seorang penjual kopi, eh tahunya suami perawat cantik itu adalah seorang CEO kaya raya dan terkenal di kotanya. Mungkin ini hadiah dari Tuhan atas kesabaran Amara dalam menghadapi orang tuanya selama ini.
Para tamu tampak ramai memuji pasangan suami istri itu. Amara dan Emran memang terlihat sangat serasi, mereka bak seorang raja dan permaisuri yang sedang duduk di atas singgasana.
“Rasanya aku ingin pesta ini segera berakhir,” cicit Emran.
“Kenapa begitu?” tanya Amara.
“Aku tidak rela kecantikan istriku dilihat oleh banyak orang. Mereka semua memuji kecantikanmu, bikin aku cemburu saja,” beber Emran.
Amara tertawa mendengar pengakuan dari suaminya. “Kamu cemburu? Apakah itu artinya kamu benar-benar mencintaiku?” tanya Amara.
***
Sementara itu, di rumah Pak Galih tampak sedang terjadi kehebohan karena mereka mengetahui pesta pernikahan Amara dan Emran sedang disiarkan di chanell youtube Buana Group.
“Ternyata penjual kopi yang kita hina adalah seorang CEO kaya dan terkenal, Yah,” ucap Bu Indri sembari melotot menyaksikan pesta pernikahan Amara yang begitu mewah.
“Mulai sekarang kita harus bersikap baik dengan Amara dan Emran, Bu. Agar kita bisa memeras harta Emran!” timpal Pak Galih.
__ADS_1
“Tapi, sepertinya sulit untuk mengambil hati mereka, Pak.”
“Ayah dan ibu harus bantu aku merebut Tuan Emran dari Kak Amara, yang pantas menjadi istri Tuan Emran itu Shofia bukan Kak Amara!” cicit Shofia.
Seperti biasa, Pak Galih dan Bu Indri pasti menyetujui permintaan putri kesayangannya itu. Mereka akan melakukan apa saja asal Shofia bahagia tanpa memikirkan baik dan buruknya.
“Bagaimana kalau sekarang kita datang ke sana, Yah. Kita sampaikan kepada media bahwa Amara anak yang durhaka, menikah pun tidak mengundang kita.” Ajak Shofia kepada kedua orang tuanya.
“Ide bagus tuh, ayo kita berangkat sekarang,” timpal Bu Indri dengan penuh semangat. Mereka bergegas memesan taksi untuk berangkat ke sana.
***
Tak terasa pesta pernikahan Emran dan Amara hampir di penghujung acara. Para tamu undangan bergantian naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat sekaligus foto bersama kedua mempelai.
Tiba-tiba saja terjadi keributan di pintu masuk, tampak para penjaga sedang berusaha menghalangi mereka, namun mereka tetap berusaha keras ingin menyerobot masuk sambil berteriak seperti orang kesurupan.
“Amara, keluar kamu! Dasar anak durhaka!” teriak Bu Indri, suara baritonnya mampu membuat seluruh pasang mata tertuju kepadanya.
*
*
Bersambung.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca karya Author 😇
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗