Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 18 Paket Misterius


__ADS_3

Emran dan Bik Ijah berhamburan lari menghampiri Amara. Mereka sangat panik mendengar teriakan Amara.


“Ada apa, Sayang?” tanya Emran panik


Amara menunjuk ke arah kotak paket yang baru saja dia buka. Emran pun segera melihat isi paket itu.


Huwekk!


Emran ingin muntah saat mengetahui paket itu berisikan potongan tulang-tulang yang berlumuran darah. Entah tulang apa itu. Di dalam paket itu juga terdapat selembar surat.


Tinggalkan Emran! Jika kamu tidak ingin tubuhmu aku mutilasi seperti isi paket yang sudah kamu terima!


“Kurang ajar! Siapa yang berani mengancam istriku!” sembur Emran.


“Tuhan, kenapa ada saja orang yang ingin mencelakaiku,” ucap Amara lirih. Butiran bening menggenang di sudut matanya.


Emran lalu memeluk istrinya yang tampak ketakutan. “Sayang, tenang ada aku yang akan melindungimu!” Emran berusaha menangkan Amara.


Dia lalu mengajak istrinya ke kamar. Tak lupa dia memerintahkan Bik Ijah untuk membuatkan teh hangat untuk Amara.


Amara terlihat syok akibat melihat isi paket itu. Emran lalu membaringkan istrinya di atas tempat tidur dan menyelimuti Amara. Berharap istrinya tertidur dan melupakan semua kejadian hari ini. Ya, dalam waktu sehari sudah empat kali perawat cantik itu mendapat ancaman.


Benar saja. Tak lama kemudian Amara terlelap. Emran bergegas menghubungi Sony dan meminta dia untuk menemuinya.


“Cari tahu siapa pengirim paket itu, lalu berikan dia pelajaran!” titah Emran kepada Sony.


“Baik, Bos!” jawab Sony. “Oh iya, pihak kepolisian sudah menerima laporan kita. Secepatnya mereka akan menyeret orang tua beserta adik Amara ke dalam penjara,” lanjutnya.


“Bagus!” ujar Emran.

__ADS_1


Sony lalu pamit untuk menjalankan tugas yang baru saja diberikan oleh bosnya.


Emran kembali ke kamar. Dia duduk di samping istrinya yang sedang tertidur pulas. Dikecuplah kening sang istri. “Sayang, maaf. Gara-gara aku, kamu jadi menerima banyak ancaman. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan siapa pun mencelakaimu!” gumam Emran lirih seraya mengusap-usap kening Amara.


***


Galih, Indri dan Shofia terkejut saat beberapa polisi mendatangi rumahnya.


“Apa benar ini rumah Pak Galih?” tanya salah satu polisi. Aura ketegasan polisi itu membuat Galih gemetar.


“I-iya, Pak. Benar! Ada apa ya, Pak?” tanya Galih. Sementara itu, Shofia memeluk erat tangan ibunya. Hati kecilnya menduga bahwa ini adalah ulah Emran.


“Kami menerima laporan bahwa Anda beserta anak dan istri Anda, menculik istri Tuan Emran dan berniat untuk menyelakainya!” jelas Polisi.


“Bohong! Tidak mungkin kami menyelakai anak kami sendiri, Pak!” kilah Indri.


Sesampainya di kantor polisi. Ketiga orang itu berusaha melakukan pembelaan agar mereka tidak dijebloskan ke dalam penjara. Namun sayang, bukti rekaman yang di berikan oleh Emran sudah dikantongi oleh Polisi. Akhirnya, mereka harus mendekam di balik jeruji besi.


Shofia menangis tiada henti. “Bu, lakukan sesuatu. Aku tidak mau dipenjara. Bagaimana kalau teman-temanku tahu? Pasti mereka akan menjauhiku, masa depanku pasti hancur karena aku mantan nara pidana,” cicit Shofia seraya terisak. Sesekali gadis itu mengusap air mata yang membasahi pipinya.


“Diamlah, kita pasti secepatnya akan bebas dari sini!” ucap Indri.


***


Kembali ke kamar mewah Emran. Pria tampan itu berusaha untuk membangunkan istrinya karena hari sudah mulai malam. Sebentar lagi adzan magrib berkumandang, sedangkan Amara belum sempat membersihkan diri sepulang tadi.


Pelukan hangat dari Emran membuat perawat cantik itu terbangun. “Adzan apa ini? Kenapa jam segini ada adzan?” tanya Amara bingung. Benar kata orang bahwa tidur sore itu sering kali membuat seseorang hilang ingatan.


Emran tertawa melihat tingkah lucu istrinya. Amara lalu melirik ke atas nakas, ternyata jam sudah menunjukkan pukul enam. Akhirnya Amara sadar bahwa sepulang dari kantor dia tertidur dan belum mandi.

__ADS_1


Jam makan malam pun tiba. Tampak Amara, Emran dan Sony sedang duduk bersama di meja makan. Mereka menyantap makan malam yang tersaji di atas piringnya sambil berbincang ringan.


“Bos, polisi sudah menghubungiku. Mereka sudah berhasil menangkap tersangka dan mereka sudah dijebloskan ke dalam penjara,” ucap Sony.


“Bagus! Mereka harus menerima hukuman dariku karena sudah berani mencelakai Amara,” timpal Emran.


“Siapa, Sayang. Yang kamu jebloskan ke penjara?” tanya Amara.


“Orang tua dan adikmu,” jawab Emran seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Sontak saja Amara terkejut, membuatnya tersedak. Emran segera memberikan minum kepada Amara. “Jadi kamu memenjarakan mereka?” tanya Amara.


Emran menganggukkan kepala.


“Apa itu tidak berlebihan, Sayang?” ucap Amara.


“Mereka harus diberi pelajaran, Sayang.”


“Berapa lama mereka akan dipenjara?” tanya Amara kepada Emran. Meskipun Amara sangat marah dan kecewa terhadap orang tua dan adiknya, namun sisi baik Amara tetap tidak tega melihat mereka mendekam di balik jeruji besi.


*


*


Bersambung.


Terima kasih sudah membaca karya Author 😇


Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗

__ADS_1


__ADS_2