Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 24 Pengganggu


__ADS_3

“Hatimu terbuat dari apa sih? Kok masih peduli sama orang macam mereka,” cicit Juwita.


Amara menggelengkan kepalanya. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa masih peduli sama mereka, padahal hatinya sangat sakit.


***


Beralih ke kantor Buana Group. Emran sedang sibuk dengan setumpuk kertas dan laptopnya. Biasalah tugas CEO itu sangat banyak.


“Hallo, Tuan. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda. Apakah Anda bisa?” tanya resepsionis melalui telepon.


“Siapa?”


“Dia mengaku orang tua Nyonya Amara, Tuan.”


Emran memerintahkan resepsionis untuk mengantarkan tamunya ke ruangan pribadinya.


Beberapa saat kemudian tamu itu datang. Penjaga resepsionis menyuruhnya masuk ke dalam ruangan Emran. Emran yang sedang fokus ke laptop, mendongakkan kepala saat tamunya sudah duduk di hadapannya.


“Kamu! Untuk apa kamu kesini? Kenapa kamu membohongiku!” hardik Emran. Ya, ternyata tamu itu bukanlah orang tua Amara, melainkan Viola. Dia sengaja berbohong agar bisa bertemu Emran empat mata. Jika dari awal dia mengatakan bahwa dirinya ingin ketemu, pasti Emran tidak akan mengizinkan.


“Jangan ketus gitu dong, Honey.” Viola mendekati Emran. Dia berdiri di samping Emran seraya bergelayut manja kepada mantan kekasihnya. Sontak saja Emran berdiri dan menepis tangan Viola.


“Jangan kurang ajar kamu!” bentak Emran.


“Honey, aku yakin kamu masih mencintaiku. Kamu pasti menjadikan istrimu itu pelampiasan, ‘kan?” ujar Viola.


“Jaga bicaramu!”


Emran menelepon sekuriti agar menyeret Viola keluar dari ruangannya. Tiba-tiba saja, si perempuan ular itu mencium pipi Emran.


Plak!


“Kurang ajar! Berani-beraninya kamu melakukan itu kepadaku!” Emran sangat murka terhadap tindakan keji Viola. Dia rasa tamparan itu sangat pantas untuk mantan kekasihnya.


Viola menyeringai kesakitan. Pipinya memerah, darah segar mengalir dari sudut bibirnya akibat tamparan keras Emran.

__ADS_1


“Emran, kenapa kamu jahat sekali!” cicit Viola dengan nada bergetar. Air mata menetes dari pelupuk matanya.


“Seret dia dari sini! Tandai mukanya, jangan biarkan perempuan tak tau diri ini menginjakkan kakinya di kantorku!” titah Emran kepada sekuriti.


Viola berteriak seperti orang tak waras ketika sekuriti menyeretnya keluar dari ruangan Emran. Gadis cantik yang selalu berpakaian kekurangan bahan itu berusaha memberontak, namun sayang usahanya sia-sia.


Para karyawan Buana Group mulai membicarakan Viola yang tidak punya rasa malu. Bisa-bisanya dia mengejar-ngejar pria yang sudah beristri.


Tindakan Viola membuat Emran semakin membencinya. “Sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar perempuan ular itu tidak menggangguku lagi!” Monolog Emran. Kehadiran Viola membuat mood Emran berantakan.


CEO tampan itu akhirnya memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu seraya menikmati secangkir kopi.


***


IGD tempat Amara bekerja diserbu pasien yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan beruntun itu menyebabkan banyak sekali korban. Puji syukur tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan itu. Hanya luka-luka dan satu orang mengalami patah tulang pada kaki kanannya.


Amara sangat sibuk memberikan pertolongan pertama pada para korban itu. Perawat cantik itu hingga tak sempat makan dan istirahat. Bahkan ketika suaminya menelepon pun Amara tidak mendengar karena saking sibuknya.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Saatnya para perawat melakukan operan dengan perawat yang kebagian jaga siang. Selesai operan jaga, Amara mengambil ponselnya. Dia ingin minta jemput suaminya.


Amara menunggu Emran di depan rumah sakit sambil meminum jus jambu. Ponsel Amara bergetar. Ada pesan masuk dari Viola. Meskipun nomor perempuan itu tidak disimpan oleh Amara, namun dia sudah hafal.


Viola mengirimkan sebuah gambar. Amara memilih mengabaikan pesan Viola. Dia benar-benar malas berurusan dengan mantan kekasih Emran itu.


Tak lama kemudian mobil mewah menghampiri Amara. Emran turun dari mobil itu lalu mendekati Amara. Seperti biasa, ketika akan berpisah atau bertemu Emran, Amara selalu mencium punggung tangan suaminya.


Emran lalu membukakan pintu mobil untuk Amara. Tiba-tiba saja, seorang wanita berteriak memanggil Emran.


“Tuan Emran!”


Sontak saja Emran dan Amara menoleh ke arah sumber suara. Tampak seorang ibu-ibu berlari menghampiri mereka.


“Ada apa, Bu?” tanya Emran seraya menutup kembali pintu mobilnya. Amara pun tidak jadi masuk.


“Saya sangat mengidolakan Anda. Saya sedang hamil, saya berharap anak saya nanti bisa sukses seperti Anda,” jelas wanita itu. Amara dan Emran pun mengamini doanya.

__ADS_1


“Apa boleh jika saya minta foto bersama Anda dan istri Anda?” tanya wanita ibu dengan tatapan penuh harap.


“Tentu boleh!” jawab Emran seraya tersenyum.


Wanita itu tersenyum cerah. Dia sangat senang karena akhirnya bisa foto bersama idolanya. Ya, kesuksesan dan ketampanan Emran membuat para kaum hawa terpesona dan mengidolakannya. Tak hanya remaja saja yang mengidolakan Emran, para emak-emak pun ikut mengidolakannya.


“Suamiku ternyata fansnya banyak ya!” cicit Amara. “Bikin aku cemburu saja!” Amara memasang muka sebal, tak lupa bibir mungilnya dia kerucutkan ke depan. Amara berniat menggoda suaminya.


“Jangan cemburu, Sayang. Aku masih waras kok, gak mungkin aku menyukai emak-emak, yang ada nanti aku didepak sama suaminya,” ucap Emran seraya tertawa. Amara pun ikut tertawa.


Sepanjang perjalanan pulang, Amara menceritakan tentang pekerjaannya hari ini. Dia menceritakan bahwa ada salah satu dari korban kecelakaan yang hidupnya sebatang kara. Dia adalah seorang penjual bakpao keliling. Setiap hari dia menjajakan bakpaonya menggunakan motor butut yang dia punya. Saat ini dia harus dirawat di rumah sakit karena menjadi salah satu korban kecelakaan beruntun yang terjadi di lampu merah dekat rumah sakit Amara.


Umur laki-laki itu sekitar 60an. Di usianya yang sudah senja terpaksa harus semangat berjualan demi bertahan hidup. Istrinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sementara anaknya, tak ada yang peduli dengan ayahnya. Padahal kedua anaknya itu tergolong mampu.


Emran tak tega mendengar cerita dari Amara. “Besok, aku akan ke rumah sakit untuk menemuinya. Kita harus membantu laki-laki itu, Sayang,” ucap Emran.


“Iya, Sayang.”


Mobil mewah Emran sudah memasuki pelataran rumahnya. Mereka segera masuk dan membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, pasangan suami istri itu segera makan siang. Ya, sejak tadi Amara tidak sempat makan siang. Emran pun memilih tidak makan siang karena istrinya tidak menjawab panggilan teleponnya. Dia sudah menduka bahwa Amara tidak akan sempat makan.


Mereka menyantap makan siangnya yang sudah telat dengan sangat lahap. Apa lagi Amara, terlihat sekali jika dia sedang lapar. Tidak ada obrolan ringan di antara mereka.


Selesai makan. Mereka memilih bersantai di belakang rumah Emran, tepatnya di area kolam renang. Saat siang hingga sore hari di sana sangat sejuk. Apa lagi Emran menanam pohon kelapa di dekat kolam renangnya. Suasananya benar-benar seperti di tepi pantai.


Sudah lama Emran tidak berenang. Dia mengajak Amara untuk berenang bersama. Namun, Amara menolak karena dia sangat capek. Akhirnya, CEO tampan itu berenang sendirian. Sedangkan Amara memilih menunggu Emran.


Tiba-tiba perawat cantik itu teringat akan foto yang dikirimkan oleh Viola. Jujur saja Amara sangat penasaran. Foto apa yang dikirimkan oleh si perempuan ular itu. Dia pun mengambil ponselnya lalu membuka pesan dari Viola.


*


*


Bersambung.


Terima kasih sudah membaca karya Author 😇

__ADS_1


Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗


__ADS_2