
Deg!
Jantung Amara seakan berhenti berdegup. Dadanya bergemuruh sesak. Napasnya tiba-tiba tersendat. Ponsel itu terjatuh dari genggamannya begitu melihat foto yang dikirimkan oleh Viola.
Amara tidak menyangka suaminya tega menghianati cintanya. Hati wanita cantik itu hancur berkeping-keping. Ini pertama kali dia merasakan sakit yang luar biasa. Melebihi sakit akibat ditindas oleh orang tuanya.
Amara segera melakukan butterfly hug untuk meredam emosinya.
Emran segera menghentikan renangnya. Dia mendekati Amara. “Sayang, kamu kenapa?” tanya Emran panik, seraya memegang bahu Amara.
“Kamu jahat!” ucap Amara dengan suara bergetar. Hanya memerlukan hitungan detik, butiran bening melesat dari pelupuk matanya.
Emran semakin panik. “Sayang, apa salahku? Tolong katakan!” Dia berusaha memeluk istrinya. Namun, Amara mendorong tubuh Emran. Dia tidak ingin dipeluk oleh suaminya.
Emran mengambil ponsel Amara yang terjatuh. Dia yakin pasti ada sesuatu yang membuat Amara seperti itu.
“Kurang ajar!” geram Emran saat melihat gambar dirinya sedang dicium oleh Viola. Pantas saja Amara marah dan kecewa. Ternyata itu penyebabnya. Emran yakin foto itu diambil tadi pagi. Tetapi, kapan si perempuan ular itu memotretnya? Siapa yang sengaja memotret mereka?
“Sayang, aku bisa jelaskan. Ini semua jebakan!” ujar Emran.
Amara hanya terdiam. Mulutnya tak dapat mengeluarkan kata-kata. Hanya batinnya yang berbicara. ‘Jebakan? Tuhan, kepada siapa aku harus percaya? Suamiku atau bukti foto ini?’ gumamnya dalam hati. Air mata Amara tak berhenti menetes.
Emran memeluk paksa Amara. “Sayang, aku bersumpah ini semua hanya jebakan!” tegas Emran. “Tolong jangan seperti ini, aku kan menjelaskan semuanya dan akan mendatangkan saksi atas foto ini!” lanjutnya.
Lagi-lagi Amara hanya bergeming. Dia memilih pergi meninggalkan Emran.
Di dalam kamar. Tangis Amara kian menjadi. Ternyata orang yang dia anggap paling baik dan menyayanginya, dengan mudah menghianati cintanya.
Emran sengaja tidak mengejar Amara. Dia memilih menelepon semua karyawan yang menjadi saksi atas peristiwa tadi pagi. Seorang resepsionis, sekuriti dan satu karyawan lain dipanggil oleh Emran. Mereka diperintahkan datang ke rumahnya lalu menjelaskan semua kepada Amara.
Setelah menghubungi karyawannya. Dia beralih menghubungi Sony. Dia menyuruh Sony segera kembali ke Kota. Ya, saat ini Sony sedang izin untuk pulang ke kampung halamannya.
Namun, karena Emran butuh bantuannya. Mau tidak mau dia harus segera kembali.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian seluruh saksi datang ke rumah Emran. Mereka berusaha menjelaskan kepada istri sang CEO tentang kejadian pagi tadi.
Hati Amara mulai melunak. Dia percaya akan kesaksian yang diberikan oleh para karyawan Emran.
“Sayang, kamu percaya, ‘kan sama aku? Aku tidak mungkin menghianati cintamu!” tegas Emran.
“Aku percaya! Maaf aku sudah berprasangka burung kepada suamiku sendiri,” pinta Amara.
“Sayang, jika ada seseorang yang menyebarkan fitnah tentangku atau tentang kita, aku mohon kamu tanyakan dulu kebenarannya kepadaku,” ujar Emran. “Aku yakin ada orang yang iri dengan kita, sehingga mereka berniat memisahkan kita. Jadi, tolong jangan mudah percaya orang lain ya!” lanjutnya.
Amara menganggukkan kepalanya pelan. Dia merasa sangat berdosa kepada suaminya. Air mata kembali menetes membasahi pipinya. Amara memeluk erat suaminya seraya meminta maaf entah untuk yang ke berapa kalinya.
Sebagai permintaan maaf kepada istrinya. Emran mengajak Amara untuk makan malam di restoran mewah. Dia sudah melakukan reservasi untuk dinner bersama istri tercintanya.
Istri Tuan Emran itu terlihat sangat cantik. Sejak menikah dengan Emran, Amara mulai suka berdandan. Ya, semua dilakukan demi sang suami. Dia juga bisa mengimbangi style Emran yang terlihat dari kalangan atas.
Setelah siap. Emran bergegas melajukan mobilnya menuju restoran yang sudah dia pesan.
Private room itu sudah disulap oleh pihak restoran menjadi ruangan yang romantis. Ada banyak bunga mawar di sana.
“Silakan duduk Tuan Putri!” Emran menyeret sebuah kursi untuk sang istri duduk. Amara tampak tersipu. Ternyata orang yang sangat dihormati dan disegani bisa bersikap romantis dan memperlakukan dia bak seorang putri.
“Terima kasih, Pangeran!” balas Amara. Membuat Emran tertawa.
Tak menunggu lama. Makanan dan minuman mereka datang. Amara menilai bahwa seluruh makanan yang terhidang harganya sangat mahal untuknya.
Mereka saling menyuapkan makanan sambil ditemani obrolan ringan.
“Sayang, aku sangat bersyukur bisa menjadi istrimu. Kamu adalah laki-laki pertama dan terakhir yang berhasil membuatku jatuh cinta. Serta merasakan diperlakukan istimewa!” ucap Amara.
“Sebelum mengenalku, kamu tidak pernah jatuh cinta?” tanya Emran menyelidik. Dia tidak bermaksud mengungkit masa lalu, hanya saja ucapan Amara membuatnya penasaran.
Amara menggelengkan kepala. Ya, Amara memang tergolong gadis lugu pada saat itu. Dia enggan untuk berpacaran. Banyak laki-laki yang menyatakan cinta kepadanya. Namun, Amara menolaknya.
__ADS_1
Sering diperlakukan kasar oleh ayahnya membuat Amara sedikit memiliki trauma kepada laki-laki. Jujur saja dulu dia takut jika semua laki-laki akan memperlakukannya kasar seperti Pak Galih.
Namun, ketika bertemu Emran yang saat itu menyamar menjadi penjual kopi. Tiba-tiba saja dia merasakan bahwa Emran adalah laki-laki sederhana yang tulus dan tidak akan menyakitinya. Saat Emran melamarnya, dia tak henti-henti berdoa semoga menikah dengan Emran adalah pilihan yang tepat.
Benar saja. Sungguh perawat malang itu jatuh ditangan laki-laki yang tepat.
Tak hanya Amara yang bersyukur. Emran pun sangat bersyukur bisa menikahi perawat cantik yang sangat sempurna untuk Emran. Ya, meskipun di dunia ini tidak ada yang sempurna, tetapi Emran merasa Amara adalah wanita yang sempurna untuknya.
Tuhan memang sebaik-baiknya pengatur skenario. Andai dulu Emran tidak memutuskan menyamar menjadi penjual kopi keliling demi membantu sesama, pasti dia tidak akan bertemu dengan perawat malang itu.
Kembali ke dinner Amara dan Emran. Selesai menyantap makan malamnya. Emran mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dia lalu memberikan kepada Amara.
Dengan penuh semangat Amara membuka kotak kecil yang diberikan oleh suaminya. “Sayang, ini untukku?” tanya Amara seraya memegang kalung mahal yang dilengkapi dengan liontin mewah.
“Tentu saja! Aku pakaikan ya!” Emran memakaikan kalung itu di leher jenjang istrinya.
Amara memegang kalung yang sudah terpasang di lehernya. Dia tersenyum cerah.
“Bagaimana sayang, apakah kamu suka?” tanya Emran seraya memandang istrinya.
“Tentu aku sangat suka! Terima kasih ya, Sayang,” ucap Amara.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗
Oh iya, Author juga mau rekomendasiin novel bagus nih, Kak. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.
__ADS_1