Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 7 Hari Damai


__ADS_3

“Amara, uang dua puluh juta tidak ada artinya untukku.” Kholil keceplosan di depan Amara.


“Memangnya berapa keuntunganmu, Kholil? Sampai-sampai uang dua puluh juta tidak ada artinya untukmu?” tanya Amara menyelidik.


“Sudah lah, lupakan. Kamu tidak perlu memikirkan masalah mahar, karena itu urusanku.” Tegas Kholil. “Yang terpenting kamu persiapkan dirimu, untuk pernikahan kita,” lanjutnya.


Amara menganggukkan kepala pelan. Sejujurnya dalam hati Amara masih bertanya-tanya apakah Kholil mampu memberikan mahar sebanyak itu? Apakah Kholil memiliki warisan yang banyak? Segala praduga muncul dalam benak Amara. Namun, gadis cantik itu segera menepis semua praduga itu.


Malam ini menjadi malam yang damai untuk Amara, pasalnya dia tidak mendengar sedikit pun omelan dari kedua orang tuanya, apa pun yang dilakukan oleh Amara tidak ada yang berkomentar.


“Andai sejak dulu hidupku setenang ini, pasti aku sangat bahagia.” Amara bermonolog sembari melayangkan tubuhnya di atas ranjang.


Perawat cantik itu lalu menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur. Dia sengaja tidur lebih awal karena besok harus berangkat kerja.


***


Waktu berjalan dengan cepat, rembulan malam telah tergantikan oleh mentari pagi. Hari ini Amara terlihat lebih bersemangat, baru kali ini Amara merasakan kehidupan yang damai di rumahnya. Mungkin seperti inilah yang dirasakan orang-orang yang mengatakan bahwa rumahku adalah surgaku.


Sebelum berangkat kerja, Amara sarapan terlebih dahulu. Seperti biasa, perawat cantik itu hanya sarapan oatmeal yang dilengkapi dengan pisang dan selai coklat, serta segelas susu segar.


Bu Aidah yang mengetahui Amara sedang sarapan dengan nikmat, tampak hanya menelan ludahnya kasar. Sebenarnya, dia sudah ingin memaki Amara karena tidak membuatkan sarapan untuknya, tetapi perempuan paruh baya itu ingat perjanjiannya dengan Kholil.


Selesai sarapan, Amara bergegas menaiki motornya menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, perawat cantik itu siap untuk memberikan perawatan kepada para pasiennya.


Amara berjalan menuju ruangan perawatan VVIP untuk melihat keadaan gadis kecil yang kemarin dibawa oleh Kholil.


Gadis kecil itu tampak sudah lebih baik. Dia diperbolehkan pulang pagi ini.


***


Di sebuah ruangan luas dan megah sedang berlangsung rapat antara CEO Buana Group dengan CEO Raja Corporation, mereka akan membahas tentang kontrak kerja sama.


“Selamat datang di Buana Group Tuan Arga,” sapa Emran dengan ramah seraya menjabat tangan Arga.


“Terima kasih, Tuan Emran. Kantor Anda sangat megah dan mewah sekali. Saya sangat beruntung jika bisa bekerja sama dengan Anda,” ucap Arga.


Emran membalasnya dengan senyuman. “Saya yang beruntung jika bisa kerja sama dengan Anda, Tuan.”


“Baik lah, sekarang kita langsung mulai membahas tentang kontrak kerja sama kita ya, Tuan Arga.” Emran mulai pembicaraannya ke topik utama.

__ADS_1


Memerlukan waktu yang cukup lama untuk dua CEO itu akhirnya sepakat untuk menandatangani kontrak kerja sama.


Baru saja Arga ingin mengucapkan terima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk bekerja sama dengan Buana Group, tiba-tiba ponsel Emran berdering. Tertulis nama Amara di layar ponselnya, tanpa menunggu lama Emran segera menjawab panggilan itu.


“Hallo, Amara!” ucap Emran.


“Hallo, Kholil. Aku ingin mengabarkan bahwa pagi ini anak kecil yang kamu bawa sudah diperbolehkan pulang,” jelas Amara.


“Syukurlah, aku akan segera ke sana, Amara,” jawab Emran.


Emran lalu mengakhiri rapat kerja samanya dengan Arga. Dia tampak buru-buru keluar ruangan karena harus segera ke rumah sakit.


“Son, ikut aku ke rumah sakit!” ajak Emran sembari berjalan terburu-buru menuju mobilnya.


“Siapa yang sakit, Bos?” tanya Sony seraya membuntuti Emran.


“Nanti kamu pasti tau.”


Sony lalu membukakan pintu mobil untuk Emran. Tiba-tiba saja –


Brak!


“Apa-apa ini!” sembur Sony dengan menatap tajam Viola.


“Aku ada urusan dengan Emran,” ucap Viola.


“Bos Emran tidak ada waktu untukmu!” bentak Sony.


“Emran, kamu tidak usah munafik. Kamu pasti masih mencintaiku, ‘kan?” cecar Viola dengan penuh percaya diri. Pasalnya, sudah lama Viola menghilang dari kehidupan Emran, namun CEO tampan itu sampai saat ini masih betah melajang.


Emaran memutar bola matanya malas, dia tidak menghiraukan ucapan Viola.


Sony kembali membukakan pintu mobil untuk Emran. Saat Emran hendak memasuk mobil, Viola dengan berani menyentuh tangan Emran hingga membuat pria tampan itu menatapnya kesal. Ditepislah tangan Viola hingga membuat perempuan itu terhenyak.


“Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi bersentuhan denganmu!” sergah Emran. Dia lalu memasuki mobil dan menutup pintu mobilnya.


“Emran, tunggu!” Viola mengedor pintu mobil Emran.


Sony dengan cepat melajukan mobil mewah bosnya menuju rumah sakit. Saat perjalanan ke rumah sakit, Emran menyuruh Sony untuk berhenti di SPBU.

__ADS_1


Dia bergegas turun dari mobil mewahnya lalu berjalan menuju toilet umum. Hanya memerlukan waktu beberapa menit, kini Emran sudah menyulap dirinya menjadi pria penjual kopi keliling.


Sony kembali melajukan mobil menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Emran bergegas melangkahkan kakinya menuju ruang VVIP tempat gadis penjual kue cucur itu di rawat.


“Kholil,” sapa Amara.


“Bagaimana keadaan gadis ini, Amara? Apakah dia sudah benar-benar sehat?” tanya Kholil sembari menatap gadis kecil itu.


“Aku sudah sehat, Om. Terima kasih karena Om sudah menyelamatkanku,” sela gadis kecil itu.


Emran tersenyum sembari menghampiri gadis itu, dia mengusap lembut kepalanya. Emran tampak sangat menyayangi anak kecil.


‘Sepertinya aku tidak salah menerima lamaran Kholil,’ ucap Amara dalam hati seraya tersenyum melihat Emran sedang asyik berbicara dengan gadis kecil itu.


“Oh iya, di mana kasirnya? Aku akan melunasi biaya perawatannya,” tanya Emran kepada Amara.


Amara lalu mengantarkan Emran menuju kasir. Petugas kasir menyebutkan total biaya yang harus dibayar. Tanpa basa basi Emran mengeluarkan uang senilai yang sebutkan oleh petugas kasir.


Amara tampak keheranan, ternyata uang calon suaminya banyak sekali.


“Kholil, uangmu banyak sekali. Apa benar kamu hanya seorang penjual kopi?” tanya Amara menyelidik.


“Memangnya profesi apa yang pantas untuk orang yang berpenampilan kumal sepertiku?” jawab Emran.


Amara bergeming. ‘Iya juga sih, sejak pertama ketemu, penampilan Kholil sangat sederhana.’ Monolog Amara dalam hati.


“Amara, apakah orang tuamu masih kasar terhadapmu?” tanya Emran untuk mengalihkan pembicaraan.


“Tidak, baru kali ini aku merasakan kedamaian di rumahku,”


“Syukurlah, persiapkan dirimu ya. Kita akan segera menikah,” ucap Emran sembari memegang tangan Amara.


*


*


Bersambung.


Terima kasih sudah membaca karya Author 😇

__ADS_1


Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗


__ADS_2