Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 32 Aborsi


__ADS_3

“Sayang, Sony sudah menemukan tempat yang sangat strategis untuk klinik kamu,” ucap Emran.


“Secepat itu, Sayang?” timpal Amara heran.


Emran hanya tersenyum. Sepertinya Amara lupa jika suaminya itu memiliki orang-orang suruhan yang sangat banyak. Mencari tanah merupakan pekerjaan yang gampang . Menurut kabar Sony, awalnya pemilik tanah tidak berniat untuk menjual tanah miliknya. Namun, Sony menawarkan harga yang sangat tinggi untuk membeli tanah itu. Tanpa berpikir panjang si pemilik langsung menjual tanahnya kepada Sony.


***


Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Shofia. Ya, hari ini teman yang bersedia mengantarkan dia aborsi libur bekerja. Sesuai janjinya, hari ini gadis itu akan mengatar Shofia untuk melakukan aborsi.


Kedua gadis yang sudah tak perawan itu melajukan motornya memasuki sebuah kampung yang masih sangat jarang penduduknya. Jarak rumah satu dengan rumah yang lain terbilang cukup jauh, sekitar 15 sampai 20 meter. Meskipun siang hari, namun suasana jalan kampung yang kanan kirinya ditumbuhi oleh bambu membuat Shofia sedikit merinding.


“Kampungnya kok sepi banget sih, Mit,” ucap Shofia kepada Mita.


“Ini mah mending sudah mulai ada rumah-rumah. Dulu waktu aku pertama kali ke sini, hanya ada sekitar 5 rumah di sini. Aku ke sininya malam hari pula. Duh benar-benar menyeramkan,” jelas Mita.


“Kamu sering ke sini?” tanya Shofia.


Mita mengangguk. Dia memang sering sekali datang ke kampung itu untuk meminta bantuan Mbok Darmi – seorang dukun beranak dan praktik aborsi ilegal. Mita sendiri sudah tiga kali melakukan aborsi di Mbok Darmi. Shofia bukan orang pertama yang dia antarkan. Sudah banyak temannya yang meminta dia untuk mengantarkannya aborsi.


Sesampainya di rumah Mbok Darmi, tampak sepasang kekasih keluar dari rumah Mbok Darmi. Wanita cantik itu berjalan lemah, dia sepertinya menahan sakit yang luar biasa. Bibirnya pun terlihat pucat.


“Mit, apakah dia—

__ADS_1


Mita mengangguk. Dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh temannya itu. Mita lalu menarik tangan Shofia yang masih fokus menatap punggung sepasang kekasih yang baru saja melakukan aborsi.


Mita mengetuk pintu rumah Mbok Darmi, tak lama seorang gadis desa seusia Shofia keluar.


“Eh, Mbak Mita. Mari masuk, Mbak,” ucap gadis itu dengan senyum merekah. Sepertinya dia dan Mita sudah sangat akrab.


“Terima kasih, Mbak. Mbok Darmi ada?” tanya Mita seraya duduk di kursi ruang tamu.


“Ada. Tunggu sebentar ya,” titah gadis itu.


Tak lama Mbok Darmi keluar. Wanita yang biasa dipanggil mbok itu ternyata belum terlalu tua. Usianya sekitar 50an. Meskipun tinggal di kampung yang terbilang belum maju tetapi penampilannya juga tidak kampungan.


“Kamu bawa siapa, Mit?” tanya Mbok Darmi.


Mbok Darmi pun menyambut Shofia dengan ramah. Bahkan dia juga mengajak Shofia dan Mita bercanda. Shofia yang awalnya sedikit takut untuk melakukan aborsi, tiba-tiba ketakutan itu hilang saat bercengkerama dengan Mbok Darmi.


Dukun beranak dan spesialis aborsi ilegal itu lalu mempersilakan Shofia untuk masuk ke dalam kamar yang memang khusus untuk menolong persalinan dan melakukan praktik aborsi.


Di bantu oleh gadis desa tadi, Mbok Darmi mulai melakukan tindakan aborsinya. Tangannya sudah sangat lihai melakukan aksinya.


Shofia berteriak kesakitan saat tangan Mbok Darmi mulai *******-***** perutnya. Anak dari Pak Galih dan Bu Indri itu tak henti-henti berteriak, bahkan dia mencengkeram kuat tepi tempat tidur untuk mengalihkan sakit luar biasa yang dia rasakan.


Tak berselang lama darah beserta gumpalan darah keluar dari organ intim Shofia. Darah yang keluar sangat banyak. Membuat Shofia lemas, dia terlihat sangat pucat. Mbok Darmi sedikit khawatir melihat keadaan Shofia. Dia lalu memerintahkan gadis desa yang ternyata asistennya untuk memberikan minum teh manis yang memang sudah disediakan untuk Shofia.

__ADS_1


Dengan susah payah Shofia meminum teh manis itu. Dia sudah tidak mempunyai tenaga, badannya benar-benar lemas. Tiba-tiba pandangan Shofia berubah menjadi buram. Dalam hitungan detik Shofia sudah tak sadarkan diri.


“Mbok, dia pingsan,” ucap asisten Mbok Darmi panik seraya berusaha membangunkan Shofia.


“Darah yang keluar terlalu banyak, aku takut dia kehabisan darah,” timpal Mbok Darmi. Wanita paruh baya itu juga terlihat panik. “Cepat panggil Mita!” titah Mbok Darmi kepada asistennya.


Mita pun dipanggil oleh asisten Mbok Darmi. Dia bergegas masuk untuk melihat keadaan temannya. “Mbok, kenapa Shofia sampai bisa pingsan?” tanya Mita panik ketika melihat Shofia yang sedang pingsan dan sangat pucat.


Mbok Darmi lalu menjelaskan bahwa Shofia mengeluarkan darah sangat banyak. Dia memerintahkan Mita untuk membawa Shofia ke rumah sakit agar mendapat pertolongan medis. Tetapi sesuai perjanjian di awal, bahwa apa pun yang terjadi mereka tidak boleh menyebut nama Mbok Darmi. Jika mereka berani menyebut nama Mbok Darmi maka anak buah Mbok Darmi tidak akan segan untuk menghabisi nyawa mereka.


Mbok Darmi akhirnya menyuruh sopir pribadinya untuk mengantarkan Shofia ke rumah sakit.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗


Oh iya, Author juga mau rekomendasiin novel bagus nih, Kak. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.


__ADS_1


__ADS_2