
Hari telah berganti. Pak Galih, Bu Indri dan Shofia tampak bahagia karena hari ini mereka bebas dari penjara. Shofia pun diperbolehkan pulang oleh dokter. Dia sudah sehat.
“Shofia, kamu istirahat di rumah saja. Ibu dan ayah mau ke kampusmu,” ujar Bu Indri.
“Iya,” jawab Shofia cuek. Putri Pak Galih itu tampak cemas memikirkan pendidikannya.
Orang tua Shofia pun segera berangkat ke kampus karena kepala program studi (Kaprodi) Shofia telah menunggu.
Jarak antara rumah merek dan kampus memerlukan waktu 30 menit jika ditempuh dengan motor.
“Assalamu’allaikum,” ucap Bu Indri seraya mengetuk pintu ruangan Kaprodi.
“Wa’allaikum salam,” jawab Kaprodi dari dalam ruangan. Ibu kaprodi pun mempersilahkan Bu Indri dan Pak Galih untuk masuk.
Tanpa basa basi, Kaprodi menjelaskan maksud dan tujuannya mengundang orang tua Shofia. Beliau sangat menyayangkan perbuatan Shofia. Perbuatan yang telah dilakukan oleh Shofia tidak hanya berdampak pada putri Pak Galih dan Bu Indri saja, melainkan juga berdampak pada reputasi kampus. Saat ini kampus tempat Shofia kuliah ikut menjadi bahan omongan banyak orang. Mereka menilai kampus itu gagal memberikan pendidikan yang baik untuk mahasiswanya.
“Sebelumnya kami mohon maaf, Pak, Bu. Dengan berat hati kami harus mengeluarkan Shofia dari kampus ini,” beber Kaprodi. “Semoga Shofia bisa menjadi anak yang lebih baik lagi,” pukasnya.
“Kami juga mohon maaf, Bu. Karena ulah anak kami, kampus ini menjadi buruk di mata masyarakat,” ujar Pak Galih.
“Kami juga mengucapkan terima kasih karena ibu berserta dosen-dosen yang lain sudah mendidik Shofia dengan baik,” timpal Bu Indri.
__ADS_1
Setelah selesai semua urusannya. Bu Indri dan Pak Galih pamit undur diri.
Sepanjang perjalanan pulang Bu Indri memikirkan nasib Shofia. Kini putri kesayangannya tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi, ditambah pagi dia harus hamil di usianya yang masih sangat muda. Masa depan Shofia sangat suram.
Sementara Pak Galih tampak biasa saja ketika sang anak dikeluarkan dari kampus. Rasa kasihan kepada Shofia tentu ada. Namun, rasa kecewa lebih mendominasi hati Pak Galih. Kini Pak Galih mulai menyadari, bahwa anak yang selalu mereka manja dan menuruti semua kemauannya ternyata berakibat buruk untuk putri kesayangannya. Sementara Amara yang sejak kecil mereka tindas, justru menjadi perempuan yang hebat dan kuat.
Sesampainya di rumah. Bu Indri menghampiri Shofia yang terbaring di atas tempat tidur. Dia menyodorkan surat kepada Shofia tanpa mengucapkan apa pun. Wanita paruh baya itu lalu pergi meninggalkan putrinya.
Shofia dengan cepat membuka surat itu.
Deg!
Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika membaca isi surat itu. Dugaannya benar. Shofia dikeluarkan dari kampus yang sejak dulu menjadi impiannya.
“Shofia, kamu ini apa-apa sih?” cicit Bu Indri.
“Percuma aku hidup, masa depanku sudah suram! Lebih baik aku mati saja!” Shofia mengambil pecahan vas bunga dan berniat untuk menggoreskan ke pergelangan tangannya.
Sontak Bu Indri berteriak serta berusaha untuk menghentikan aksi gila Shofia.
Pak Galih datang. Dengan sekuat tenaga dia mengambil pecahan vas dari tangan anaknya. Tubuh kekar sang ayah tak mampu membuat Shofia memberontak. Dengan mudah Pak Galih mengambil pecahan vas dari tangan Shofia.
__ADS_1
“Shofia, semua ini sudah terjadi. Berusahalah menerima buah dari perbuatanmu sendiri. Bunuh diri bukanlah solusi yang tepat!” nasihat Pak Galih dengan napas terengah-engah.
Shofia tersungkur di lantai. Air matanya menetes hingga membasahi lantai rumahnya. Bu Indri memeluk erat anaknya. Dia berusaha menangkan, memberi nasihat dan kekuatan agar Shofia mampu melewati ujiannya saat ini. Akhirnya, Shofia pun berhasil ditenangkan oleh Bu Indri.
“Yah, apa yang harus kita lakukan?” tanya Bu Indri kepada Pak Galih yang sedang duduk di depan teras rumahnya.
“Kamu harus menanyakan siapa laki-laki yang sudah menghamili Shofia. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya!” ujar Pak Galih.
“Tapi, aku tidak rela jika Shofia menikah dengan laki-laki tua itu, Yah!” timpal Bu Indri.
“Tua tidak apa-apa yang penting kaya! Memangnya kamu mau anak Shofia lahir tanpa seorang ayah?” sahut Pak Galih.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗
Oh iya, Author juga mau rekomendasiin novel bagus nih, Kak. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.
__ADS_1