
“Tejo!”
“Tejo!” teriak Emran. Dia mencari Tejo; satpam di rumah Emran.
Tejo lari menghampiri Emran ketika mendengar teriak Tuannya. “Iya, Tuan.”
“Dari mana kamu? Kenapa kamu biarkan orang lain memasuki halaman rumahku dan hampir saja mencelakai istriku!” hardik Emran.
“Ma-maaf, Tuan. Tadi di depan ada orang ditabrak motor, saya lari menolong dia. Sehingga lupa tidak mengunci pagar karena buru-buru,” jelas Tejo. Pria berumur 30an itu takut Emran memecatnya karena lalai. Apa lagi ini ada hubungannya dengan Amara. Pasti Emran akan mengambil langkah tegas.
Setelah menceritakan kejadian yang menimpa Amara. Emran dan Tejo bergegas masuk rumah untuk melihat rekaman CCTV. Namun sayang, orang yang sengaja melempar batu itu menggunakan penutup kepala. Sehingga Emran tidak bisa mengenalinya.
Emran yakin kecelakaan yang terjadi di depan rumahnya itu, juga ada unsur kesengajaan.
“Perketat lagi penjagaan di rumah ini. Cari lagi satu orang satpam untuk membantumu!” titah Emran. “Aku tidak mau hal seperti ini terulang lagi!” tegasnya.
“Baik, Tuan! Sekali lagi saya minta maaf atas keteledoran saya,” ucap Tejo.
Emran pergi meninggalkan Tejo tanpa pamit. Dia lalu kembali ke kamar.
***
Sementara itu, di suatu tempat Viola sedang mondar-mandir menunggu kedatangan seseorang.
“Bagaimana, apa semua sudah beres?” tanya Viola kepada dua orang laki-laki bertubuh kekar yang baru saja datang.
“Beres, Bos. Aku mendengar perempuan itu berteriak. Pasti dia terkena batu dan serpihan kaca yang pecah,” jelas salah satu laki-laki itu.
Ya, siapa lagi yang ingin mencelakai Amara kalau bukan Viola. Dia membayar orang untuk membantu melancarkan aksinya. Benar kata Emran, Viola adalah perempuan ular yang bisa mematoknya kapan saja.
Viola menyodorkan amplop berisi uang kepada preman suruhannya itu. Senyum cerah terpancar dari wajahnya karena merasa berhasil mencelakai Amara.
Dering ponsel Viola memecahkan kebahagiaannya. Tertulis nama Mami di layar ponselnya.
“Bagaimana, apa kamu sudah berhasil merebut hati Emran?” tanya Tasya; Mami Viola.
“Mami sabar dulu. Secepatnya aku pasti bisa mendapatkan kembali Emran!” cetus Viola.
__ADS_1
“Kamu harus bergerak cepat. Sebelum kita jatuh miskin, kamu harus sudah menikah dengan Emran!” titah Tasya.
Sudah bisa ditebak. Alasan Viola kembali mendekati Emran sudah pasti karena dia kaya. Viola dan Tasya memang perempuan mata duitan.
Dulu Tasya menyuruh putri semata wayangnya meninggalkan Emran karena dia hampir bangkrut. Tasya kemudian menjodohkan Viola dengan laki-laki yang sama-sama bekerja di Amerika. Pastinya dia sangat kaya. Tiba-tiba saja kekayaan calon menantunya habis untuk membiayai pengobatan orang tuanya dan kehidupan adik-adiknya.
Tasya dengan sepihak membatalkan perjodohan itu. Dia menyuruh Viola untuk kembali mendekati Emran agar bisa numpang hidup dan menikmati kekayaan Emran. Sudah lama usaha keluarga Tasya bangkrut. Uang tabungan Tasya juga hampir habis.
“Mami pulang saja ke Indonesia. Biaya hidup di sana sangat mahal, Mi. Uang kita tinggal sedikit,” ujar Viola. “Kalau mami di Indonesia, Mami juga bisa membantuku merebut Emran!” lanjutnya.
Sejujurnya perempuan sosialita itu malu jika harus kembali ke Indonesia dalam keadaan miskin. Di Indonesia mereka juga sudah tidak punya apa-apa.
Teman-teman sosialitanya pasti akan menertawakan dia jika tahu kalau sekarang Tasya sudah bangkrut dan tidak punya apa-apa.
***
Amara yang sedang duduk di sofa kamar sambil menunggu suaminya. Dikejutkan dengan sebuah pesan yang masuk di ponselnya.
From: 085xxx
“Ini pasti perempuan itu!” gumam Amara kesal.
“Kenapa mukanya ditekuk gitu, Sayang?” tanya Emran seraya duduk di samping Amara.
Amara lalu menyodorkan ponselnya kepada Emran tanpa sepatah kata pun.
“Kurang ajar! Berani-beraninya dia mengirim pesan kepadamu!” hardik Emran.
Seketika Amara teringat akan ucapan Viola tatkala berada di restoran. Dia mengatakan bahwa dirinya mengirimkan sebuah foto. Tetapi, Amara tidak merasa menerima pesan dari Viola. Amara lalu menanyakan kepada Emran.
“Foto tidak penting, Sayang!” jawab Emran.
“Meskipun tidak penting, harusnya kamu memberitahuku, Sayang. Tidak perlu langsung menghapusnya,” timpal Amara.
Perdebatan kecil terjadi di antara mereka. Perdebatan itu membuat Amara kesal terhadap Emran. Entah kesal atau cemburu dia sendiri tidak tahu.
Amara akhirnya pergi meninggalkan Emran. Dia berjalan menuju kolam renang yang berada di belakang rumah Emran.
__ADS_1
Emran merasa bersalah karena sudah membuat istrinya marah. Dia berusaha merayu Amara. Namun sayang, rayuan maut Emran tak berhasil membuat Amara luluh.
Malam ini menjadi malam yang hambar untuk Emran. Pasalnya, Amara tidak menghiraukan keberadaan Emran. Dia tidak mengajak bicara suaminya. Tidur pun mereka saling membelakangi.
Saat Emran sudah tertidur pulas. Amara berjalan mengendap-endap agar suaminya tidak bangun. Dia berjalan menuju dapur. Diambillah sesuatu yang sudah Amara simpan di dalam kulkas.
Setelah selesai menyiapkan semuanya. Amara segera kembali ke kamar. Syukurlah, Emran masih tertidur pulas.
Amara mengecup kening suaminya. “Selamat ulang tahun, Sayang,” ucap Amara. Membuat Emran kaget dan terbangun dari tidurnya.
“Sayang, dari mana kamu tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunku?” tanya Emran dengan muka bantalnya.
“Tidak penting dari mana aku tahu! Sekarang, tiup lilinnya dulu dong!” ujar Amara.
Sebelum meniup lilin. Emran terlebih dulu berdoa.
“Terima kasih, Sayang. Seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini, kamu terus berada di sampingku dan tidak mendiamiku itu sudah lebih dari cukup,” ucap Emran seraya memandang wajah cantik istrinya.
Amara merasa berdoa karena sudah mendiami suaminya. Dia lalu mencium tangan Emran dan meminta maaf.
Mereka memang belum sempat memberitahu tanggal lahirnya. Kebersamaan mereka baru beberapa hari, dan mereka sedang asyik menikmati status sebagai pengantin baru. Menanyakan tanggal lahir tidak penting menurutnya.
Kalau bukan karena Bik Ijah yang memberitahu Amara, bisa dipastikan Amara tidak akan memberikan kejutan di hari ulang tahun suaminya.
“Sekali lagi terima kasih ya, Sayang.”
“Jangan berterima kasih sama aku. Berterima kasihlah kepada Bik Ijah, karena dia yang memberitahuku,” timpal Amara.
*
*
Bersambung.
Terima kasih sudah membaca karya Author 😇
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗
__ADS_1