
“Shofia, bangun, Shofia!” Bu Indri sangat panik melihat keadaan putrinya. Sementara Pak Galih hanya mematung.
“Pak Polisi, tolong anak saya, Pak!” teriak Bu Indri seraya menangis.
Beberapa polisi yang saat itu sedang berjaga bergegas lari menghampiri mereka. Polisi segera membawa Shofia menuju rumah sakit.
Sesampainya di IGD. Shofia segera mendapatkan penanganan dari dokter dan perawat yang jaga. Bu Indri mondar-mandir di depan pintu IGD mencemaskan keadaan putri kesayangannya.
Dokter keluar menghampiri Bu Indri. “Dok, bagaimana keadaan anak saya?” tanya Bu Indri.
“Maaf, Bu. Apakah anak Anda sedang hamil?” tanya Dokter.
“Hamil? Anak saya masih gadis, Dok. Dia belum menikah!” tegas Bu Indri.
“Baik, kalau begitu kami perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab perdarahan yang dialami oleh Nona Shofia,” jelas Dokter.
Bu Indri memasrahkan semua kepada Dokter. Ibu dari Amara dan Shofia itu meminta agar Dokter melakukan yang terbaik untuk anaknya.
Dokter IGD melakukan kolaborasi dengan Dokter kandungan atau SpOG untuk melakukan USG. Dugaan Dokter IGD benar. Shofia saat ini sedang hamil, usia kandungannya sekitar 4 minggu.
Saat ini janin yang dikandungnya terancam keguguran akibat tendangan keras dari Pak Galih. Untung saja mereka membawa Shofia tepat waktu.
“Maaf, Bu. Berdasarkan hasil pemeriksaan kami. Saat ini putri Anda tengah hamil, usia kandungannya sekitar 4 minggu.” Dokter SpOG menjelaskan kepada Bu Indri. Ya, hanya Bu Indri yang diperbolehkan oleh pihak kepolisian untuk menemani Shofia di rumah sakit. Pak Gali harus tetap berada di penjara.
__ADS_1
Seketika tubuh Bu Indri lunglai. Kaki wanita paruh baya itu tak dapat menopang berat badannya. Dia ambruk ke lantai. Dia sangat syok atas apa yang dialami oleh putrinya. Air mata tak berhenti membasahi pipinya.
Seorang perawat membantunya untuk berdiri. Bu Indri lalu di dudukkan di kursi.
“Lalu bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Bu Aidah dengan suara bergetar.
“Alhamdulillah, keduanya selamat, Bu. Hanya saja, untuk sementara waktu Shofia harus dirawat inap,” jelas Dokter SpOG.
Bu Indri pun menyetujui anjuran Dokter. Meskipun dia sangat kecewa terhadap anaknya, namun dia juga tidak mau hal buruk menimpa Shofia dan calon anaknya.
Akhirnya, Shofia tersadar. “Shofia ada di mana, Bu,” tanya Shofia dengan sangat lemah.
“Rumah sakit,” jawab Bu Indri cuek.
“Anak siapa yang ada di kandunganmu itu?” tanya Bu Indri dengan suara tinggi.
“Maksud, Ibu?” Shofia tampak bingung dengan pertanyaan ibunya. Ya, gadis yang sudah tidak perawan itu juga tidak tahu bahwa dirinya sedang hamil.
“Katakan! Siapa yang menghamilimu?” bentak Bu Indri.
“Apa? Aku hamil?” Shofia syok mendengar ucapan sang ibu. Air matanya tumpah tak terbendung. “Tidak! Aku tidak mungkin hamil!” tolaknya.
Shofia tidak menerima kehamilannya. Pasalnya, setiap melakukan hubungan dengan om-om itu, mereka selalu menggunakan pengaman. Mana mungkin bisa kebobolan!
__ADS_1
“Bu, aku tidak mau hamil! Aku ingin mengejar cita-citaku!” ucap Shofia diiringi dengan tangisan yang tidak bisa berhenti. “Bantu aku untuk menggugurkan janin ini, Bu!” pinta Shofia dengan suara lirih.
“Jangan gila kamu! Menggugurkan kandungan itu bahaya!” hardik Bu Indri. Memang benar yang dikatakan Bu Indri. Aborsi ilegal itu sangat bahaya. Banyak risiko yang mengancam, seperti perdarahan hebat, infeksi, kerusakan rahim hingga kematian.
“Lalu apa yang harus Shofia lakukan, Bu? Shofia pasti dikeluarkan dari kampus kalau ketahuan hamil.”
“Minta laki-laki itu untuk menikahimu!” titah Bu Indri.
“Tidak! Aku tidak mau menikah dengan laki-laki tua itu!” tolak Shofia.
Bu Indri sangat geram kepada anaknya. Jika memang Shofia tidak menyukai laki-laki tua itu, lantas kenapa dia rela menyerahkan tubuhnya? Bu Indri mencoba menggali pertanyaan yang ada di benaknya. Akhirnya, Shofia mengaku bahwa dia rela menjadi simpanan om-om itu karena setiap selesai melayani dia, Shofia selalu diberikan uang yang cukup banyak. Dia juga sering diajak ke Mall dan ke restoran mewah. Baju yang dikenakan pun semua dibelikan oleh pria itu.
Pengakuan Shofia membuat Bu Indri semakin geram. Dia benar-benar tidak habis pikir, ternyata putri kesayangannya mempunyai pemikiran secetek itu.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗
Oh iya, Author juga mau rekomendasiin novel bagus nih, Kak. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.
__ADS_1