
Sepulang dari kantor, Emran mengantarkan Amara ke rumah baru orang tuanya. Saat itu Emran sengaja menghentikan mobilnya di gang rumah Galih. Dia juga sengaja menyuruh Amara berjalan memasuki pelatara rumah ayahnya terlebih dulu. Emran ingin tahu rencana apa yang akan dilakukan oleh orang tua Amara.
Saat Amara mulai melangkahkan kakinya memasuki pelataran rumah sang ayah. Tiba-tiba seseorang menyekap Amara dari belakang. Dia lalu membawa Amara menuju rumah kosong yang ada di belakang rumah Galih.
Amara dimasukkan ke dalam salah satu ruangan yang ada di rumah itu. Dia di dorong hingga jatuh ke lantai.
“Tinggalkan suamimu atau aku akan menghabisimu!” ancam orang itu.
“Siapa kamu? Kenapa kamu menyekapku?” tanya Amara. Ya, istri Emran itu tidak bisa mengenali orang itu karena dia menggunakan pakaian serba hitam dilengkapi dengan penutup kepala.
“Cepat telepon suamimu! Katakan padanya jika dia ingin kamu selamat maka dia harus menuruti semua permintaanku!” bentak pria bertopeng itu.
Amara pura-pura ketakutan. Dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya. Emran sengaja tidak menjawab panggilan itu.
Bugh!
Emran menendang punggung pria itu. Tendangan keras dari Emran membuat tubuhnya terpental hingga membentur tembok.
“Siapa yang menyuruhmu menculik istriku?” tanya Emran seraya memiting leher pria itu.
“Cepat jawab!” teriak Emran. “Jawab pertanyaanku! Jika kamu tidak mau menjawab maka terpaksa aku akan patahkan lehermu!” lanjutnya.
“Ma-maaf, Tuan. Saya hanya menjalankan perintah!” ujar pria itu dengan terbata-bata. “Bu Indri beserta anaknya menyuruhku, untuk menculik istri Anda. Saya terpaksa melakukan kejahatan ini karena sedang butuh uang, Tuan,” lanjut pria itu.
“Kurang ajar!” geram Emran. “Telepon mereka. Suruh mereka ke sini dan katakan bahwa kamu berhasil membuat Amara meringkuk ketakutan!” titah Emran.
Pria itu pun menuruti semua permintaan Emran.
__ADS_1
Tak berselang lama. Dua perempuan iblis itu datang. Mereka membeku ketika mengetahui keberadaan Emran.
“Apa yang kalian inginkan dari Amara?” hardik Emran.
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut dua perempuan itu. Kesabaran Emran mulai menipis. Dia mengangkat tangannya. CEO tampan itu berniat untuk menampar keduanya.
“Aku ingin Anda dan Kak Amara bercerai! Aku tidak rela melihat dia bahagia,” ucap Shofia. Dia berhasil menghentikan niat Emran untuk menamparnya.
“Kalian benar-benar manusia jahat!” timpal Amara. “Dulu kalian bisa merebut semua yang aku punya dan bisa menindasku sesuka kalian, tapi sekarang kalian tidak akan bisa melakukan itu!” lanjut Amara.
“Sombong sekali kamu! Mentang-mentang jadi istri orang kaya,” cicit Shofia.
“Kamu iri, ‘kan? Makanya jangan jadi manusia jahat!” geram Amara.
Shofia berniat melayangkan tamparan untuk Amara. Namun, sayang rencananya gagal. Tangan gadis itu ditahan lalu dipelintir oleh Emran. Membuat Shofia merintih kesakitan.
Tak sudi berlama-lama meladeni mertua dan iparnya. Emran lalu mengajak Amara untuk pergi meninggalkan mereka.
“Ah sial! Rencanaku gagal!” gerutu Shofia. Tetapi dia juga senang karena Emran tidak melaporkan mereka ke polisi.
***
Perjalanan pulang kali ini terasa berbeda. Emran masih terlihat marah dengan keluarga Amara. Dia lalu mengirimkan pesan kepada Sony agar melaporkan kejadian ini ke polisi. Mereka harus diberi pelajaran.
“Apa pun yang terjadi, mulai saat ini aku melarangmu untuk menemui keluargamu!” hardik Emran.
Amara hanya terdiam. Butiran bening menetes dari pelupuk matanya. Dia terlihat sedang terpuruk.
__ADS_1
“Sayang, maaf aku tidak bermaksud membentakmu. Aku hanya tidak rela jika orang tua dan adikmu mencelakai istri kesayanganku,” jelas Emran seraya menggenggam tangan istrinya.
“Tidak, aku tidak mempermasalahkan itu. Aku hanya kecewa kepada mereka, tega sekali mereka hingga berniat merebut satu-satunya orang yang mencintaiku.” Tangisan Amara pecah. Dia tidak rela siapa pun merebut Emran darinya. Hanya Emran harta berharga yang dia miliki.
“Sayang, selamanya aku akan menjadi milikmu. Begitu pula sebaliknya, selamanya kamu akan tetap menjadi milikku. Hanya maut yang bisa memisahkan kita,” ucapan Emran membuat perasaan Amara sedikit lebih tenang.
Perawat bak seorang model itu menyodorkan jari kelingkingnya kepada suaminya. Emran pun menautkan jari kelingkingnya ke kelingking Amara sebagai tanda perjanjian.
Mobil mewah yang ditumpangi CEO Buana Group beserta istrinya masuk ke dalam pelataran rumah mewah keluarga Kelvin. Seperti biasa, Emran membukakan pintu mobil untuk Amara, dia lalu menggandeng tangan istrinya dan melangkahkan kakinya memasuki rumah.
“Nyonya, ada kiriman paket untuk Anda.” Bik Ijah menyodorkan sebuah paket yang dibungkus menggunakan kertas berwarna merah.
“Dari siapa, Bik?” tanya Amara seraya mencari nama pengirim paket tersebut. Namun, paket itu tidak ada nama pengirimnya. Bik Ijah pun tidak mengetahui siapa pengirimnya.
Amara lalu membuka paket itu. Dia penasaran siapa yang mengirimkan paket untuknya? Apa isi paket itu?
Aaaa!
Amara berteriak histeris seraya menutup mata saat mengetahui isi paket itu.
*
*
Bersambung.
Terima kasih sudah membaca karya Author 😇
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗