
Emran memeluk erat istrinya. “Sayang, terima kasih karena kamu bersedia menemaniku dalam perjalanan yang sangat menakjubkan ini, yaitu perjalanan rumah tangga kita. Tetaplah disisiku agar aku kuat melangkah untuk mewujudkan semua impian kita!” ucap Emran, membuat Amara terharu. Butiran bening menetes dari pelupuk matanya. Amara semakin mempererat pelukannya.
Waktu berjalan begitu cepat. Cahaya matahari pagi mulai menampakkan diri. Amara sudah siap dengan seragam perawatnya. Ya, hari ini dia akan kembali bekerja.
Sebelum ke kantor, Emran mengantarkan sang istri terlebih dahulu. Kebetulan rumah sakit tempat Amara bekerja satu arah dengan kantor Buana Group.
“Semangat, Sayang.” Emran mengecup kening sang istri.
“Kamu juga semangat ya, Sayang,” balas Amara seraya mencium punggung tangan suaminya.
Amara turun dari mobil mewah Emran. Dengan penuh semangat perawat cantik itu melangkahkan kakinya menuju IGD. Amara memang bertugas di IGD.
“Duh, pengantin baru makin cantik aja!” celetuk Juwita.
“Gimana rasanya jadi istri CEO? Pasti enak banget ya?” timpal teman yang lain.
Amara hanya membalasnya dengan senyuman. Dia tampak malu-malu. Kalau Amara membalas omongan teman-temannya pasti bahasan mereka akan merembet ke mana-maka, makanya Amara memilih diam.
Disela-sela kesibukannya berjaga di IGD. Amara menyempatkan untuk menemui Shofia. Dia tidak sendirian, Juwita menemani Amara agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kak Amara,” panggil Shofia lirih. Gadis yang sudah tidak perawan itu sepertinya masih lemas. Bibirnya tampak pucat. Sejak kemarin dia tidak mau makan.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Amara dengan nada datar.
“Aku tidak baik-baik saja!” ucap Shofia, tiba-tiba air matanya menetes. “Kakak pasti sudah tahu, ‘kan apa yang terjadi?” lanjutnya.
Amara hanya menganggukkan kepala. Dia tidak tega melihat keadaan adiknya, tetapi dia berusaha berprasangka baik kepada Tuhan. Mungkin ini cara Tuhan menegur adiknya.
“Kak, aku tidak menginginkan anak ini! Tolong bantu aku menggugurkan kandunganku,” ucap Shofia tanpa merasa berdosa.
Deg!
Jantung Amara seolah berhenti berdetak. Hatinya bak ditusuk ribuan duri tajam. Ucapan Shofia membuatnya teringat akan nasibnya 27 tahun yang lalu. Ya, orang tua Amara tidak menginginkan kehadirannya dan berniat untuk menggugurkannya.
Shofia benar-benar mewarisi sifat orang tuanya. Jahat dan kejam.
__ADS_1
“Jangan berbuat dosa yang kedua kalinya!” hardik Amara. Dia marah mendengar Shofia ingin menggugurkan kandungannya.
“Kak, aku harus melanjutkan kuliahku! Aku belum siap menjadi seorang ibu,” cicit Shofia.
“Jika tidak siap, kenapa kamu melakukan perbuatan keji itu?” bentak Amara.
Shofia bergeming. Baru kali ini dia tidak memberikan perlawanan kepada kakaknya.
“Kenapa kamu membentak-bentak Shofia? Dia itu sedang sakit. Apa seperti ini perlakuanmu kepada pasien-pasien di rumah sakit ini?” cecer Bu Indri.
“Inilah akibat dari dari kesalahan ibu dalam mendidik Shofia! Terlalu memanjakan dan membela Shofia. Jika dulu kalian percaya ucapanku. Pasti anak kesayanganmu ini tidak akan hamil!” beber Amara.
Bu Indri bergeming. Segala praduga muncul dalam benarnya. ‘Benar kata Amara, selama ini aku terlalu memanjakan Shofia, selalu menuruti permintaannya dan membiarkan dia keluyuran.’ Gumam Bu Indri dalam hati. Baru kali ini dia setuju dengan ucapan Amara.
“Shofia, kamu tidak perlu khawatir. Nanti jika anakmu lahir, ibu akan membantumu merawat dia,” ucap Bu Indri.
“Gak! Aku gak akan biarkan anak ini lahir!” tegas Shofia.
Plak!
“Shofia yakin ibu tau bagaimana rasanya mendapatkan anak yang tak diinginkan kehadirannya!” Shofia menatap tajam Bu Indri seraya memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan sang ibu.
“Bukankah dulu waktu ibu hamil Kak Amara juga ingin menggugurkannya? Lantas kenapa ibu marah jika aku ingin melakukan hal yang sama!” Shofia membuka kembali memori lama itu.
“Shofia, cukup! Jangan pernah mengungkit masa lalu itu!” bentak Bu Indri. Tiba-tiba saja hatinya bergejolak. Dia merasa bersalah karena berniat menggugurkan Amara.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu dan ucapan salam membuat perdebatan di antara mereka terhenti. Juwita yang sedari tadi hanya diam melihat keluarga itu berdebat, segera membuka pintu.
Tampak beberapa remaja berdiri di depan pintu. Mereka adalah teman kuliah Shofia. Juwita lalu mempersilahkan mereka masuk.
Tak lama teman-teman Shofia pamit pulang. Sebelum pulang salah satu dari mereka menyerahkan sebuah amplop kepada Bu Indri.
Bu Indri membuka amplop yang berlogo kampus Shofia itu. Ketua program studi memanggil orang tua Shofia untuk datang ke kampus besok pagi.
__ADS_1
“Surat apa, Bu?” tanya Shofia.
“Ayah dan ibu disuruh menemui dosenmu besok,” jawab Bu Indri.
Deg!
Jantung Shofia seolah berhenti berdetak beberapa detik. Dia sudah tahu kenapa pihak kampus memanggilnya. Pasti karena video viral itu. Saat ini Shofia sedang dilanda ketakutan. Ya, dia takut dikeluarkan dari kampusnya. Jika Shofia di drop out, sudah dapat dipastikan dia tidak akan bisa kuliah di mana pun dan cita-citanya tidak akan tercapai.
“Jangan datang, Bu!” seloroh Shofia.
Bu Indri tidak mempedulikan putri kesayangannya itu. Dia memilih beralih bicara dengan Amara.
“Amara, tolong bebaskan kami.” Mohon Bu Indri seraya memegang kedua tangan Amara. Ini kali pertama Bu Indri merendahkan suaranya kepada Amara.
“Masalah ayah dan ibu sangat banyak. Kami tidak bisa menjalani masalah ini di balik jeruji besi.” Air mata menetes membasahi pipi Bu Indri.
Melihat ibunya memohon kepadanya tentu Amara tidak tega. Dia memeluk Bu Indri. Istri Emran itu berusaha memberikan semangat agar ibunya kuat menghadapi ujian ini.
“Sebelum ibu meminta, Amara sudah berbicara dengan Mas Emran untuk membebaskan kalian,” jelas Amara.
Bu Indri kembali memeluk Amara. Ini kedua kalinya mereka berpelukan. “Terima kasih, Amara. Maaf atas semua kesalahan ibu,” ucap Bu Indri.
Amara hanya menganggukkan kepala dan berusaha tersenyum tulus kepada ibunya. Amara memang orang yang sangat baik. Namun, dia juga hanya manusia biasa. Tidak mudah memaafkan dan melupakan semua perbuatan yang telah dilakukan oleh orang tuanya selama bertahun-tahun.
Amara tidak ingin larut dalam kesedihan. Dia akhirnya pamit untuk kembali bekerja. Sudah cukup lama dia meninggalkan pekerjaannya.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗
Oh iya, Author juga mau rekomendasiin novel bagus nih, Kak. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.
__ADS_1