Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 28 Menjenguk Pak Yanto


__ADS_3

Sesuai janji Emran kemarin. Hari ini dia akan mengunjungi salah satu korban kecelakaan yang masih di rawat di rumah sakit tempat Amara bekerja.


Amara bersama sang suami melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan kelas 3. Ruangan itu tampak penuh pasien dan penunggu sehingga sangat sesak dan pengap. Tidak ada AC di sana, hanya ada 1 kipas angin yang berada di tengah. Bisa bayangkan, ‘kan. Betapa pengap dan gerahnya ruangan itu.


Korban yang ingin mereka temui berada di deretan paling ujung. Tidak ada satu pun orang yang menunggu Pak Yanto; laki-laki tua korban kecelakaan beruntun.


“Permisi, Pak!” Amara membuka tirai gorden pemisahan antara bed pasien satu dengan yang lain.


“Bagaimana keadaannya, Pak? Apakah sudah lebih baik?” tanya Amara dengan sangat lembut.


“Alhamdulillah, Sus. Saya sudah sehat. Kira-kira kapan saya boleh pulang, Sus?” tanya Pak Yanto. Dia tidak ingin lama-lama dirawat di rumah sakit karena tidak mempunyai uang untuk membayar biaya perawatannya.


Akhirnya, Emran memberitahu bahwa seluruh biaya rumah sakit Pak Yanto akan ditanggung oleh Emran. CEO kaya itu juga memberikan beberapa lembar uang kepada Pak Yanto. Bahkan berjanji akan mengunjungi Pak Yanto ke rumahnya.


Pak Yanto sangat bersyukur karena Tuhan mengirimkan seseorang untuk membantunya. Inilah buah dari keikhlasan dan kesabaran Pak Yanto selama ini.


Pria berusia senja itu tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada Emran. Bahkan dia berniat mencium tangan Emran. Namun, Emran tidak membiarkan hal itu terjadi. Mana mungkin dia membiarkan orang yang lebih tua darinya mencium tangannya hanya karena dia memberikan sedikit bantuan.


Emran dan Amara lalu pamit karena mereka harus kembali bekerja.


Saat Emran melajukan mobil mewahnya menuju kantor Buana Group, tiba-tiba sebuah mobil menyalip dengan laju yang sangat kencang. Mobil itu seperti sedang menghindar dari kejaran seseorang. Ternyata benar, tampak mobil polisi yang melaju tak kalah kencang di belalangnya.

__ADS_1


Mobil polisi itu berhasil menghentikan mobil yang dikejar. Kedua mobil itu berhenti mendadak tepat di depan mobil Emran. Untung saja Emran mampu mengerem mobilnya.


Emran sengaja berhenti untuk melihat apa yang sedang terjadi. Para polisi mengedor penumpang yang ada di dalam mobil itu. Mereka memintanya untuk turun.


Pintu mobil dibuka paksa oleh pihak polisi. Mereka menyeret seseorang untuk turun dari mobil itu. Orang itu tampak memberontak.


Saat mengetahui yanfg sedang diseret oleh polisi adalah Tasya. Emran pun memutuskan turun untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


“Maaf, Pak. Ada apa ini?” tanya Emran kepada salah satu polisi.


“Perempuan ini yang menyebabkan terjadinya kecelakaan beruntun kemarin,” jelas Polisi.


Ya, kecelakaan beruntun yang terjadi itu karena ulah Tasya. Dia menyerobot lampu merah dengan kecepatan tinggi. Membuat pengemudi mobil dari arah lain terpaksa menginjak remnya mendadak demi tidak menabraknya. Pengendara yang berada di belakang mobil itu pun ikut terkejut. Berusaha mengerem tetapi tidak berhasil. Sehingga terjadilah tabrakan beruntun.


“Emran! Tolong tante, tante tidak bersalah!” teriak Tasya saat mengetahui kedatangan Emran. Meskipun lama di Amerika, tetapi Tasya juga selalu mengikuti berita tentang Emran. Dia yakin jika Emran menolongnya pasti polisi tidak akan menyeretnya ke penjara. Emran bisa melakukan apa saja dengan uang yang dia punya.


“Apakah Tuan Emran mengenal perempuan itu?” tanya Polisi.


“Tidak! Bawa saja dia, berikan hukuman sesuai peraturan di Negara kita!” titah Emran.


Polisi langsung menarik paksa Tasya untuk masuk ke dalam mobil polisi.

__ADS_1


Emran menggelengkan kepalanya. Ternyata Viola dan ibunya sama-sama suka membuat masalah. Untung saja dia tidak jadi menikahi Viola dan menjadi menantu Tasya.


Tiba-tiba Emran memikirkan keselamatan Amara. Pasalnya, Tasya pasti akan membantu Viola untuk mencelakai Amara. Dua perempuan ular itu pasti akan menghalalkan berbagai cara demi mendapatkan dirinya.


Gawai Emran bergetar. Satu pesan masuk melalui WhatsAppnya.


Viola: Bagaimana kabar rumah tanggamu, apakah baik-baik saja?


Emran: Usahamu untuk membuat istriku cemburu dan marah gagal! Istriku adalah orang yang sangat bijak, dia tidak mudah percaya dengan orang lain selain suaminya!


***


Viola yang sedang membaca pesan Emran tampak marah karena usahanya gagal. Benar kata Emran, niat hati membuat Amara marah lalu bertengkar dengan Emran. Eh, dia sendiri yang kebakaran jenggot.


“Sial!” umpat Viola.


“Jangan panggil aku Viola jika tidak bisa mendapatkan Emran!” Monolog Viola seraya mengepalkan tangannya.


Dering ponsel Viola memecahkan amarahnya. Nomor baru meneleponnya. Gadis ular itu segera menjawab panggilan yang masuk. Ternyata dari kepolisian yang mengabarkan bahwa saat ini maminya sedang ditahan di kantor polisi.


“Mami ini apa-apaan sih, baru juga sehari semalam di Indonesia, tapi sudah berurusan dengan polisi!” gerutu Viola. Dia tidak tahun bahwa maminya terlibat dalam kecelakaan itu.

__ADS_1


“Menambah bebanku aja!” Viola tampak sangat kesal dengan sang mami.


__ADS_2