Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 8 Ijab Kabul


__ADS_3

Hari yang ditunggu pun tiba. Pernikahan antara Amara dan Kholil digelar secara sederhana di rumah Pak Galih. Hanya ada Pak Zian – papa Emran yang baru pulang dari luar negeri dan Sony yang datang, sedangkan dari pihak Amara hanya ada keluarga inti yang menyaksikan pernikahan mereka.


Sebagai wali sang anak, Pak Galih pun menjabat tangan Emran dan mengucapkan lafal pernikahan yang disaksikan oleh keluarga dan penghulu.


“Apa benar mempelai wanita bernama Amara Karleen dan mempelai pria bernama Emran Kelvin?” tanya penghulu untuk memastikan kebenarannya.


“Benar, Pak. Tapi nama calon suami saya bukan –


“Iya, Pak. Benar, nama asli saya Emran Kelvin.” Emran menyela ucapan Amara.


Tanpa berlama-lama acara ijab kabul pun dimulai.


“Saya terima nikah dan kawinnya Amara Karleen binti Galih dengan maskawin uang sebesar dua puluh juta dibayar tunai!” Emran mengucap ijab kabul dengan fasih dan lancar.


“Sah!” ucap semua orang yang berada di ruangan itu.


Jantung Amara berdetak dua kali lebih cepat. Dia tidak memiliki keberanian untuk menatap mata CEO tampan itu. Pasalnya, setiap Emran menatap Amara, jantungnya selalu berdegup kencang seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.


Cinta? Apakah ini yang dinamakan cinta? Selama ini Amara tidak pernah membuka pintu hatiku untuk pria mana pun. Bagaimana mungkin Emran – Si penjual kopi itu bisa mencuri hati Amara dan berhasil membuatnya jatuh cinta?


Ini kali pertama Amara mencium tangan suaminya, begitu pula dengan Emran. CEO tampan itu melayangkan kecupan pada kening sang istri.


Sedangkan di belakang Amara tampak Shofia menarik sudut bibirnya ke atas, terbentuk senyuman samar. Senyuman itu menunjukkan rasa tidak hormat sekaligus mengejek Amara karena menikah dengan seorang penjual kopi keliling.


Acara telah usai, karena memang hanya melangsungkan ijab kabul tanpa ada acara makan-makan atau pun yang lainnya.


“Selamat ya, Kak. Akhirnya sekarang kamu menjadi nyonya penjual kopi keliling,” cibir Shofia seraya tertawa lepas.


Amara hanya menanggapi ucapan sang adik dengan senyuman manis.

__ADS_1


“Segera bawa pergi anak ini!” titah Bu Indri kepada Emran.


“Tidak perlu kawatir, aku akan membawa Amara pergi dari rumah ini,” jawab Emran.


Baru beberapa langkah rombongan Emran keluar, tiba-tiba seorang laki-laki paruh baya datang sembari berteriak.


“Galih, keluar kamu!” teriak laki-laki itu.


Pak Galih beserta istri dan anaknya pun keluar. “Susilo, mau apa kamu kesini?” tanya Pak Galih.


“Aku kesini untuk menagih janjimu satu tahun yang lalu. Mana anak yang kamu janjikan untukku?”


“Dia sudah menikah dengan orang lain,” jawab Pak Galih.


“Apa katamu? Menikah? Kamu masih ingat dengan perjanjian kita, ‘kan?” bentak Pak Susilo.


Ya, Pak Galih dan Bu Indri memiliki hutang kepada Pak Susilo sebesar seratus juta. Mereka berjanji akan melunasi hutangnya dalam waktu satu tahun, namun jika sudah jatuh tempo tetapi mereka tidak bisa melunasi hutangnya, maka Pak Galih akan menyerahkan Amara kepada Pak Susilo untuk dijadikan istri kedua.


“Saya tidak mau tau, Amara harus menjadi istri keduaku!” cecar Pak Susilo.


“Jaga bicaramu! Amara adalah istriku. Aku tidak akan membiarkan istriku menjadi bahan tebusan hutang orang tua jahat seperti mereka!” bentak Emran.


“Sekarang juga talak Amara, dan serahkan kepada Susilo. Uang dua puluh juta ini aku kembalikan kepadamu,” timpal Pak Galih.


Ucapan Pak Galih membuat Emran naik pitam, CEO tampan itu mengepalkan tangannya.


Bugh!


Satu bogem melayang di wajah Pak Galih. “Berengsek! Berani-beraninya kamu menjual Amara,” sembur Emran. “Jual saja putri kesayanganmu itu,” lanjutnya Emran seraya menunjuk ke arah Shofia.

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak bilang jika kamu punya dua putri cantik? Baik lah, jika Amara sudah menjadi milik orang lain, maka serahkan putrimu yang ini untukku!” Pak Susilo menarik tangan Shofia, membuat tubuh mungil Shofia jatuh dalam pelukan juragan beras itu.


“Jangan sentuh anakku!” teriak Bu Indri sembari berusaha menarik tangan Shofia dari pelukan Pak Susilo. Sementara itu, Shofia hanya bisa menangis dan sesekali memberontak sambil berteriak agar Pak Susilo melepaskannya.


“Enak aja! Kamu sendiri yang menjanjikan putrimu sebagai tebusan, sekarang aku akan membawanya pergi dan menjadikan gadis cantik ini istriku.” Pak Susilo menatap Shofia penuh dengan nafsu.


Bugh!


Pak Galih melayangkan pukulan ke perut Pak Susilo. Pukulan keras itu membuat Pak Susilo menyeringai kesakitan, Shofia pun berhasil terlepas dari pelukan laki-laki tua itu. Dia lalu menghamburkan tubuhnya ke pelukan sang ibu. Shofia menangis sejadi-jadinya.


“Kurang ajar! Habisi dia!” perintah Pak Susilo kepada dua anak buahnya. Mereka lalu menghajar Pak Galih, wajah pria paruh baya itu terlihat babak belur.


Sementara itu, Bu Indri berteriak berusaha menghentikan perkelahian itu. Dia juga berusaha meminta bantuan Emran agar mau membantu mertuanya. Namun, Emran tidak mau membantunya.


Pak Galih tersungkur di lantai, dia tampak sudah tidak berdaya. Wajahnya babak belur. Setelah puas menghabisi Pak Galih, Pak Susilo beserta anak buahnya pergi dengan meninggalkan pesan. “Besok sore aku akan ke sini lagi, jika kalian tidak mau menyerahkan anak itu kepadaku, maka kalian harus melunasi hutang kalian!” tekan Pak Susilo.


Bu Indri dan Shofia berusaha membantu Pak Galih untuk bangun, mereka lalu membawanya masuk ke rumah.


Sementara itu, Emran, Amara, Pak Zain, beserta Sony bergegas meninggalkan rumah itu.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Emran, Amara hanya diam, sepertinya dia memikirkan keadaan ayahnya.


“Amara, kamu tidak perlu memikirkan ayahmu. Mungkin itu balasan karena mereka sudah jahat sama kamu,” ujar Emran sembari memegang tangan istrinya.


“Yang diucapkan Emran benar, mungkin itu balasan untuk ayahmu, Nak. Kamu tidak usah memikirkannya, hari ini adalah hati bahagiamu dengan Emran, jangan rusak hari ini dengan memikirkan orang tua jahat seperti mereka.” Pak Zian ikut menimpali ucapan Emran.


Amara hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya pelan.


Mobil yang ditumpangi Amara beserta rombongan memasuki halaman rumah yang megah dan mewah. Rumah itu bak sebuah istana.

__ADS_1


Emran mengajak Amara turun dari mobilnya. Emran lalu menggandeng tangan Amara dan mengajaknya masuk.


“Rumah siapa ini, Mas? Kenapa kamu mengajakku masuk ke rumah ini?” tanya Amara seraya memandang rumah bak istana itu.


__ADS_2