
Ya, sebelum Emran bertemu Amara, dia adalah pria yang sangat dingin dan tegas. CEO tampan itu jarang sekali tersenyum, dia termasuk orang yang tidak asyik saat diajak bicara karena cenderung cuek dan selalu serius.
Namun, setelah bertemu perawat cantik itu, dia berubah menjadi Emran yang murah senyum dan asyik. Seluruh karyawan Buana Group sangat heran atas perubahan Emran, ternyata cinta itu bisa merubah segalanya.
Sesampainya di rumah, mereka bergegas menuju kamar untuk membersihkan diri lalu istirahat. “Huff, capek sekali!” Monolog Amara seraya melayangkan tubuhnya ke atas ranjang. Wajar saja perawat cantik itu capek, pasalnya resepsi pernikahan mereka digelar sejak pagi hingga sore.
***
Shofia marah kepada kedua orang tuanya karena mereka belum mengambil tindakan apa pun untuk membantunya merebut Emran dari Amara.
Gadis cantik mirip Amara itu, tampak sedang duduk di teras rumah seraya mengerucutkan bibirnya. “Aku harus merebut Tuan Emran dari Kak Amara, apa pun akan aku lakukan demi mendapatkannya!” Monolog Shofia dengan penuh penekanan.
Dia menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi seraya memejamkan mata, dia memikirkan cara untuk membuat Emran dan Amara bercerai.
Tiba-tiba saja Pak Susilo beserta anak buahnya datang, dia menyekap Shofia. Gadis cantik itu berteriak meminta tolong, tak berselang lama Pak Galih dan Bu Indri datang. Mereka berusaha melepaskan Shofia dari anak buah Pak Susilo.
“Kamu masih ingat ucapanku kemarin, ‘kan?” tanya Pak Susilo kepada Pak Galih.
“Susilo, tolong beri aku waktu sedikit lagi,” Pak Galih berusaha memohon kepada Pak Susilo.
“Baik, aku akan beri kamu waktu sampai nanti malam. Tapi gadis ini akan aku bawa sebagai jaminan. Jika nanti malam kamu tidak melunasi hutangmu, maka putri cantikmu ini harus melayaniku di atas ranjang!” Pak Susilo memegang dagu Shofia dengan senyuman penuh hasrat.
__ADS_1
“Ayah, lakukan sesuatu. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki tua ini,” ucap Shofia sembari terisak.
Tanpa berlama-lama, Pak Susilo membawa Shofia masuk ke dalam mobilnya. Dia sangat yakin bahwa Galih tidak akan mampu melunasi hutangnya. Susilo sudah tidak sabar agar hari berganti malam, dia ingin segera mencicipi tubuh Shofia.
Shofia duduk di samping Susilo, dia tidak bisa melakukan apa pun selain menangis dan berharap sang ayah nanti malam akan datang untuk melunasi hutangnya.
Sesampainya di rumah Susilo, Shofia dikurung di salah satu kamar kosong. Meskipun kosong tetapi kamar itu sangat bersih dan nyaman. Ya, kamar itu adalah tempat Susilo mencicipi para perempuan yang tidak bisa membayar hutang atau dijadikan jaminan seperti Shofia.
Shofia terus-terusan menangis dan berteriak agar Susilo melepaskannya. “Cantik, jangan menangis. Meskipun aku sudah tua, aku masih bisa memuaskanmu!” ucap Susilo seraya tertawa.
“Dasar laki-laki tua tidak tahu diri!” hardik Shofia.
Plak!
Dia lalu pergi meninggalkan Shofia. Tak lupa dia menugaskan anak buahnya untuk menjaga Shofia dan memastikan gadis itu tidak kabur.
***
Sementara itu, Pak Galih beserta Bu Indri tampak kebingungan, dari mana mereka harus mendapatkan uang sebanyak itu? Bu Indri sempat mengusulkan agar Pak Galih meminta bantuan Amara. Tetapi Pak Galih menolak, dia malu dengan Emran, dan pastinya Emran tidak akan mau membantunya.
“Bagaimana kalau kita jual saja rumah ini?” usul Pak Galih.
__ADS_1
“Mana mungkin kita bisa menjual rumah ini, sertifikatnya, ‘kan dibawa Amara!” timpal Bu Indri. Dia tidak tahu jika Pak Galih sudah lama meminta sertifikat rumah itu. Saat itu Amara sempat menolak memberikan kepada Pak Galih, tetapi ayahnya mengancam akan menyuruh orang untuk melecehkannya. Ya, Pak Galih memang benar-benar gila. Dengan terpaksa Amara memberikan sertifikat rumah itu.
Tanpa berpikir panjang, mereka lalu mendatangi salah satu orang kaya di kompleksnya. Mereka yakin pasti dia pasti mau membeli rumahnya saat itu juga. Benar saja, saat itu juga rumah mereka dibeli dengan harga yang lumayan mahal. Uang hasil penjualan rumah cukup untuk melunasi hutang dan membeli rumah baru yang lebih kecil, yang terpenting layak untuk mereka tinggal.
Sebelum mereka berangkat menemui Susilo, mereka terlebih dulu mengemasi semua barang-barangnya. Karena saat itu juga, pembeli menyuruhnya untuk keluar dari rumah itu.
Malam pun tiba. Pak Galih dan Bu Indri membagi tugas. Pak Galih akan menemui Susilo untuk melunasi hutangnya, sedangkan Bu Indri mencari rumah untuk mereka tinggal.
Pak Galih dengan cepat berangkat menuju rumah Susilo. Dia tidak rela jika putri kesayangannya dijadikan bahan pemuas nafsu Susilo.
“Berengsek!”
Bugh!
*
*
Bersambung.
Terima kasih sudah membaca karya Author 😇
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗