Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 33 Histerektomi


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit. Shofia segera ditangani oleh dokter dan perawat IGD. Sementara itu, Mita tampak mondar-mandir di depan pintu IGD. Dia khawatir dengan keadaan temannya. Dia lulu menghubungi orang tua Shofia untuk memberitahu keadaan Shofia. Dia juga meminta mereka agar segera ke rumah sakit.


“Bagaimana keadaan Shofia?” tanya Bu Indri kepada Mita dengan panik. Pada saat menelepon Bu Indri, Mita hanya mengatakan bahwa Shofia mengalami perdarahan.


Saat Mita hendak menjawab pertanyaan Bu Indri, salah seorang perawat memanggil. Dia menyuruh Bu Indri untuk menemui dokter di meja perawat.


“Bu, anak ibu mengalami perdarahan hebat. Sepertinya anak ibu baru saja melakukan aborsi terhadap kehamilannya. Kami sudah berusaha menghentikan perdarahan yang terjadi namun sayang, tidak berhasil. Demi menyelamatkan nyawa anak ibu, terpaksa kami harus melakukan histerektomi total atau mengangkat seluruh rahim Shofia,” jelas dokter.


Air mata Bu Indri seketika tumpah. Dia tidak menyangka hal ini terjadi kepada anak kesayangannya. “Dok, apa tidak ada cara lain selain melakukan pengangkatan rahim? Kasihan anak saya, Dok,” ucap Bu Indri dengan nada bergetar.


Dokter menggelengkan kepala. Berbagai cara sudah dokter lakukan namun tak ada yang berhasil. Sesuai yang dijelaskan dokter bahwa jalan satu-satunya adalah melakukan histerektomi. Ya, setelah melakukan histerektomi Shofia tidak akan bisa hamil lagi.


“Bagaimana, Bu? Kami butuh keputusan ibu secepatnya agar anak ibu selamat,” ucap dokter memecah lamunan Bu Indri.


Dengan berat hati, wanita paruh baya itu menandatangani surat persetujuan tindakan histerektomi demi menyelamatkan nyawa anaknya.


‘Tuhan, kenapa anakku harus menanggung semua ini?’ gumam Bu Indri dalam hati. Masa depan Shofia benar-benar sudah hancur. Bu Indri sangat khawatir nantinya tidak akan ada yang mau menikahi anaknya karena Shofia sudah dipastikan tidak akan bisa hamil.


“Bagaimana, Bu?” tanya Pak Galih yang sedari tadi menunggu di luar ruangan.


Bu Indri lalu menjelaskan semuanya kepada Pak Galih. Tubuh gagah Pak Galih tiba-tiba jatuh ke lantai. Sama halnya dengan Bu Indri, dia tidak menyangka hal ini bisa terjadi kepada putri kesayangannya. Ini kali pertama Pak Galih mengeluarkan air mata.


Mita berusaha memberikan kekuatan kepada kedua orang tua Shofia. Tiba-tiba saja dalam hati Mita terbesit rasa takut. Meskipun aborsi yang dia lakukan selalu berhasil, namun ada kemungkinan aborsi gagal jika dia terus saja melakukan hal dosa itu. ‘Tuhan, ampuni dosa-dosaku,’ lirih Mita dalam hati. Air mata menetes dari pelupuk matanya.


Dia lalu pamit pulang kepada Bu Indri dan Pak Galih. Tuhan telah mengirimkan hidayah untuk Mita. Gadis yang sudah tidak perawan itu ingin bertobat atas dosa-dosa yang selama ini dia lakukan. Dia juga memutuskan akan berhenti bekerja dari dunia malam.


Kembali ke Shofia. Saat ini putri kesayangan Pak Galih dan Bu Indri sedang terbaring di atas meja operasi. Sejak tadi Shofia masih tak sadarkan diri. Seluruh tim medis berdoa agar operasi Shofia berjalan dengan lancar dan berhasil.


Hampir satu jam tim medis menangani Shofia di ruang operasi. Mereka sangat senang karena operasi histerektomi Shofia berhasil. Saat ini dia sudah tidak mengalami perdarahan lagi.


Setelah selesai dilakukan operasi, Shofia dipantau di ruang pemulihan sampai dia sadar. Setelah Shofia sadar, perawat lalu memindahkan ke ruang perawatan kelas 3.


“Alhamdulillah, akhirnya kamu selamat, Nak,” ucap Bu Indri seraya memeluk putrinya. Air matanya kembali mengalir. Mata wanita paruh baya itu terlihat bengkak karena terlalu lama menangis.


“Ibu, apa yang terjadi?” tanya Shofia dengan suara lemah.

__ADS_1


Bu Indri tidak kuasa menceritakan hal itu kepada Shofia. Dia memerintahkan dokter untuk menjelaskan semuanya kepada Shofia.


“Tidak! Tidak mungkin!” teriak Shofia histeris. “Kembalikan rahim saya, Dok!” bentak Shofia kepada dokter yang saat itu berdiri di sampingnya.


Shofia mencabut infus yang terpasang di tangannya. Dia berniat untuk turun dari bed pasien, namun sayang luka bekas operasi membuat dia menyeringai kesakitan dan tidak berhasil turun.


“Kenapa ibu membiarkan dokter mengangkat rahimku?” ucap Shofia lirih. Air mata mengalir deras membasahi pipinya.


Bu Indri tidak bisa mengeluarkan kata apa pun. Dia hanya memeluk erat putrinya. Bu Indri bisa merasakan bahwa semua ini memang berat untuk Shofia. Wajar jika putrinya tidak bisa menerima apa yang tengah dia alami.


Memerlukan waktu yang cukup lama untuk membuat Shofia tenang. Nasi telah menjadi bubur, tidak ada yang bisa Shofia lakukan selain berusaha menerima takdir Tuhan. Adik dari Amara itu akhirnya tenang dan terlihat berusaha menerima takdirnya.


***


Sesuai janji Emran. Hari ini dia menemani Amara untuk resign dari tempat kerjanya. Awalnya pimpinan rumah sakit sangat keberatan dengan keputusan Amara dan Emran. Mengingat Amara merupakan seorang perawat yang kinerjanya sangat bagus. Banyak pasien dan keluarga pasien yang suka dengan kinerja Amara. Teman-teman sejawat juga sangat menyukai kepribadian Amara yang lembut, murah hati dan baik kepada siapa pun. Namun, pimpinan rumah sakit tidak memiliki hak untuk melarang Amara resign.


“Amara, terima kasih atas dedikasimu selama ini. Maaf, kami tidak bisa membalas semua kebaikanmu,” ucap pimpinan rumah sakit.


“Harusnya saya yang berterima kasih, Pak. Karena saya sudah diberikan kesempatan untuk mencari pengalaman dan mengasah kemampuan saya di rumah sakit ini,” jelas Amara.


Amara mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas kebaikan pimpinan rumah sakit. Tak lama kemudian, Amara dan Emran pamit untuk pulang.


Emran dan Amara melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan pimpinan rumah sakit. Mereka berjalan melewati lorong menuju tempat parkir mobil Emran.


“Mulai sekarang aku jadi ibu rumah tangga seutuhnya,” gumam Amara.


“IRT itu pekerjaan yang sangat mulia loh, Sayang,” seloroh Emran.


“Iya, sih. Tapi –


“Jangan bersedih, sebentar lagi kamu bisa kembali melayani pasien di klinikmu sendiri,” ucap Emran seraya menggandeng tangan istrinya.


Saat mereka sedang asyik berbincang. Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama Amara.


“Amara!”

__ADS_1


Sontak Amara dan Emran menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Bu Indri memanggilnya.


“Ibu,” lirih Amara. Emran memeluk pundak Amara. Dia khawatir mertuanya itu akan menyakiti istrinya.


“Amara,” lirih Bu Indri. Tiba-tiba air matanya melesat begitu saja saat memandang wajah putri sulungnya. Sejujurnya dia ingin memeluk Amara, namun hal itu tidak mungkin dilakukan karena Emran sedang memasang badan.


“Ada apa, Bu?” tanya Amara.


“Shofia,” lirih Bu Indri. Dia sangat sedih jika mengingat nasib Shofia.


“Shofia kenapa?”


Bu Indri lalu menceritakan keadaan Shofia kepada kakaknya. Amara sangat syok ketika mendengar cerita ibunya. Dia tidak menyangka Shofia berbuat senekat itu. Padahal dia sudah pernah memberitahu Shofia tentang risiko aborsi ilegal. Tetapi ternyata Shofia tetap melakukannya.


Entah kenapa tiba-tiba Amara merasa sangat marah kepada Shofia. Dia tidak peduli dengan keadaan adiknya. Rasa simpati Amara terhadap Shofia sepertinya telah hilang.


“Nak Emran, kali ini saja. Bolehkan ibu minta tolong?” Mohon Bu Indri kepada Emran.


“Minta tolong apa?” jawab Emran singkat. CEO tampan itu masih belum bisa memaafkan semua perbuatan yang pernah mertuanya lakukan kepada Amara.


“Bolehkan ibu meminjam uang untuk biaya perawatan Shofia?” tanya Bu Indri.


*


*


Bersambung.


Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗


Oh iya, Author juga mau rekomendasiin novel bagus nih, Kak. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.



__ADS_1


__ADS_2