Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 15 Malu Sampai Ke Ubun-Ubun


__ADS_3

Jam istirahat pun tiba. Emran mengajak Amara untuk makan siang di salah satu restoran bintang lima di kotanya. Ini pertama kali Amara menginjakkan kaki di restoran mewah.


Seperti yang publik ketahui bahwa Amara terlahir dari keluarga sederhana. Meskipun terlahir dari keluarga sederhana, namun penampilan perawat cantik itu tetap stylish dan fashionable meskipun barang-barang yang dikenakannya tidak branded.


“Silakan, Tuan, Nyonya. Mau pesan apa?” tanya seorang waitress. Dia lalu mencatat semua pesanan Amara dan Emran.


Sembari menunggu pesanan datang. Emran dan Amara sedang membahas rencana untuk bulan madu.


“Kamu ingin bulan madu ke mana, Sayang?” tanya Emran seraya menatap wajah cantik istrinya.


“Kalau ke Bali gimana, Sayang?” usul Amara.


“Kamu gak ingin honyemoon ke luar negeri?” timpal Emran.


Amara menggelengkan kepala. “Tidak. Aku hanya ingin ke Bali.”


Sejujurnya, Emran ingin bulan madu ke luar Negeri, tetapi karena Amara ingin ke Bali. Akhirnya, CEO kaya itu menyetujui permintaan istrinya. Dia akan segera mengatur jadwal untuk mengajak Amara honeymoon ke Pulau Dewata.


Tak berselang lama pesanan mereka datang. Dua sirloin wagyu, segelas milky strowberry dan brown sugar milk coffee. Pasangan suami istri itu lalu menyantap pesanannya. Mereka tampak sangat menikmati makanan itu di temani dengan obrolan ringan.


Tiba-tiba saja seorang wanita melewati Amara, dia pura-pura tersandung dan dengan sengaja menumpahkan minumannya ke baju dan celana Amara.


Amara sontak terkejut, dia berdiri dari duduknya lalu menepis-nepis baju dan celananya yang sudah basah kuyup.


“Maaf, saya tidak sengaja!” ujar wanita itu dengan pura-pura bersalah.


Amara yang sedang sibuk membersihkan pakaiannya tidak menggubris ucapan wanita itu.

__ADS_1


“Kamu!” bentak Emran kepada wanita yang memakai baju kurang bahan. “Kamu pasti sengaja menyiram istriku, ‘kan?” lanjut Emran yang sudah terlihat emosi.


“Oh, jadi ini istrimu? Ternyata cantik juga.” Viola pura-pura memuji Amara. “Oh iya, apa kamu sudah melihat foto yang aku kirimkan?” bisik Viola seraya menatap tajam Amara.


“Foto? Foto apa?” gumam Amara.


Emran tidak tinggal diam. Dia tidak mau istrinya tau tentang foto yang dikirimkan oleh Viola. Emran lalu mendorong tubuh Viola, dia berniat untuk menjauhkan Viola dari Amara. Namun, ternyata dorongan dari Emran membuat mantan kekasihnya terjatuh.


Aw!


Viola menyeringai kesakitan.


“Jangan macam-macam denganku! Apa lagi berniat untuk melukai istriku!” pekik Emran dengan tatapan penuh amarah.


Amara hanya terdiam melihat pembelaan yang diberikan oleh suaminya. Hati kecilnya bertanya-tanya. ‘Siapa wanita itu? Sepertinya suamiku mengenalnya’ gumam Amara dalam hati.


“Perempuan ular sepertimu memang tidak layak diperlakukan lemah lembut!” sembur Emran.


Viola bergegas bangkit. Dia menatap Amara lalu mendorong pundak istri Emran. “Awas kamu! Aku akan membuatmu menyesal karena sudah merebut Emran dariku!” ancam Viola.


Amara tampak santai menghadapi situasi itu. Ya, pasalnya dia sudah terbiasa di tindas oleh orang tuanya. Mental Amara sudah terbentuk kuat. ‘Sepertinya dia mantan kekasih Emran?’ Monolog Amara dalam hati.


Viola lalu pergi dari tempat itu. Baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba ....


Bruk!


Wanita ular itu terjatuh karena heels sepatunya patah. Seluruh pengunjung restoran menertawakan Viola. Wajah wanita itu tampak merah merona, amarah dan rasa malu bercampur menjadi satu.

__ADS_1


“Sial! Kenapa pakai acara patah segala sih!” gerutu Viola.


“Makanya beli sepatu yang mahal, biar gak gampang patah,” seloroh salah satu pengunjung seraya tertawa.


“Kasihan sekali dia, pasti malunya sampai ke ubun-ubun!” timpal pengunjung lain.


Amara pun refleks ikut menertawakan Viola. Sejujurnya, dia kasihan dengan mantan kekasih suaminya itu. Tetapi wanita ular seperti Viola tidak pantas untuk dikasihani.


“Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanya Emran seraya memegang pundak istrinya.


“Tidak, hanya saja bajuku basah.”


““Kamu sudah selesai makan, ‘kan? Ayo kita beli baju baru,” ajak Emran.


Amara menggelengkan kepala. Dia tidak perlu baju baru. Dia hanya meminta Emran mengantarkannya pulang untuk ganti baju.


“Sayang, tolong jangan menolak ajakanku,” ucap Emran. CEO tampan nan kaya itu tahu alasan Amara menolak untuk dibelikan baju baru.


*


*


Bersambung.


Terima kasih sudah membaca karya Author 😇


Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗

__ADS_1


__ADS_2