Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 16 Darahnya Mengalir Dalam Darahku


__ADS_3

Amara tak ingin membuat suaminya marah. Dia akhirnya menuruti ajakan suaminya. Emran bergegas membayar pesanannya, lalu mengajak Amara keluar dari restoran itu.


Emran melajukan mobil mewahnya menuju ke salah satu Mall terbesar di kotanya.


Sesampainya di Mall. Pria tampan itu menggandeng tangan istrinya. Mereka berjalan menuju ke toko pakaian yang sangat terkenal. Emran menyuruh Amara untuk memborong baju, celana dan apa pun yang dia mau.


Seperti biasa, Amara menolak perintah Emran. Dia hanya memilih satu baju dan beberapa asesoris saja. Amara lalu masuk ke dalam fitting room untuk mencoba baju pilihannya.


Sementara itu, Emran minta bantuan pramuniaga untuk mencarikan pakaian yang bagus dan cocok untuk istri tercintanya.


Tak berselang lama. Pramuniaga itu memberikan beberapa baju dan dress branded kepada Emran. Laki-laki yang biasa panggil Tuan Emran itu, bergegas membayar pakaian istrinya.


Pintu fitting room terbuka. Amara keluar dengan mengenakan dress selutut berwarna krem yang dilengkapi dengan aksesoris belt dan scraf. Rambutnya terurai.


Emran melongo melihat kecantikan istrinya. Amara terlihat seperti unnie-unnie Korea. Dia sangat cantik dan anggun. Amara berjalan menghampiri suaminya seraya tersenyum cerah.


“Cantik sekali istriku,” puji Emran. Membuat pipi istrinya berubah warna menjadi kemerahan, menandakan dia sedang malu-malu.


Setelah selesai belanja, Emran mengajak Amara kembali ke kantor. CEO tampan itu ada jadwal rapat siang ini.


Sesampainya di kantor. Emran bergegas menuju ruang rapat. Sementara Amara, menunggu suaminya di ruang pribadi Emran.


***


Di sebuah ruang tamu yang hanya berukur 3x3 meter, tampak anggota keluarga sedang berkumpul untuk menyusun sebuah rencana.

__ADS_1


Ya, Pak Galih, Bu Indri, dan Shofia sedang menyusun rencana untuk memisahkan Amara dari Emran. Mereka akan menghalalkan berbagai cara untuk merebut Emran.


“Bagaimana kalau kita culik Kak Amara?” usul Shofia.


“Apa untungnya kita menculik anak itu?” timpal Bu Indri.


“Kita ancam Tuan Emran! Jika dia ingin Amara selamat maka Tuan Emran harus bersedia menikahiku,” usul Shofia. Gadis itu memang memiliki pemikiran yang jahat. Wajar saja dia tega berbuat anarkis. Sejak kecil dia sudah dibesarkan oleh orang tua yang memberikan contoh buruk untuknya.


Bu Indri dan Pak Galih mengangguk-anggukkan kepala. Tanda dia menyetujuin ide anaknya.


“Lalu, bagaimana cara kita menculik Amara?” tanya Pak Galih.


Shofia mengusulkan agar Pak Galih menelepon Amara dan berpura-pura sakit. Lalu mengatakan bahwa ayahnya ingin sekali bertemu Amara dan meminta maaf atas kejahatan yang selama ini dia lakukan. Namun, mereka melarang Amara untuk mengajak Emran dengan alasan malu karena mereka dari kalangan bawah. Saat nanti Amara sudah memasuki pekarangan rumah, salah satu di antara mereka akan menyekap Amara.


Tanpa berpikir panjang. Pak Galih menjalankan ide Shofia. Dia menelepon anak sulungnya. Tak berselang lama terdengar suara Amara mengucapkan salam.


“Ayah sakit apa?” tanya Amara dengan nada datar.


“Ayah juga tidak tau. Tolong luangkan waktu untuk menjenguk ayah ya, Amara.”


“Iya, nanti Amara ke sana bersama Mas Emran,” jawab Amara.


“Jangan! Ayah ingin kamu ke sini sendirian. Ayah malu terhadap suamimu,” larang Pak Galih. Nada suaranya berubah, dari yang lemah menjadi sedikit tinggi. Membuat Amara curiga.


Amara memilih mengakhiri panggilannya. Dia tidak mungkin menemui orang tuanya sendirian, mereka pasti akan menindas Amara. Emran pun pasti tidak akan mengizinkan dia pergi sendirian.

__ADS_1


***


Kembali ke kantor Buana Group. Rapat telah selesai. CEO tampan itu bergegas menuju ruang pribadinya.


Pintu ruangan Emran terbuka. Amara segera bangkit dari duduknya untuk menyambut suaminya. Dia tersenyum cerah kepada Emran.


“Sudah selesai, Sayang. Rapatnya?” tanya Amara seraya memeluk suaminya. Perlakuan hangat Amara membuat Emran sangat bahagia dan bersyukur memiliki istri seperti Amara.


“Sudah.” Emran membalas pelukan itu seraya mencium kening istrinya.


Mereka lalu dudu di sofa. Amara mengambilkan minuman untuk Emran, dia pasti haus karena rapatnya cukup lama.


Amara lalu menceritakan bahwa Pak Galih baru saja meneleponnya. Sesuai yang Amara duga. Emran tidak mengizinkan Amara menemui orang tuanya sendirian.


“Jika kamu ingin bertemu orang tuamu, maka harus denganku. Sampai kapan pun aku tidak akan mengizinkan kamu menemui mereka sendirian!” tegas Emran.


“Apa kamu mau menemaniku menemui ayah? Bagaimanapun juga dia adalah ayahku. Darahnya mengalir dalam darahku!” ucap Amara lirih.


*


*


Bersambung.


Terima kasih sudah membaca karya Author 😇

__ADS_1


Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗


__ADS_2