Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 14 Cokelat Beda Rasa


__ADS_3

Emran tak akan tinggal diam setelah mendapati Viola dengan berani mengirimkan foto mereka pada masa lalu. Memang benar kata Viola, perempuan pertama yang disentuh Emrah adalah Viola. Tetapi mereka tak pernah melakukan lebih dari sekedar berpelukan dan berciuman.


Dia yakin Viola mengirimkan gambar itu karena ingin membuat Amara cemburu dan marah kepada Emran. Dia ingin merusak rumah tangga Emran.


“Sepertinya perempuan ular itu harus diberi pelajaran!” Rasa kesal dalam hati membuat Emran berjanji akan memberi pelajaran untuk Viola.


Emran segera menghapus pesan dan foto yang dikirimkan oleh Viola. Dia tidak ingin Amara melihatnya.


***


Di tempat lain. Seorang perempuan tampak sedang tersenyum cerah tatkala melihat pesan yang dikirimnya sudah centang biru. Menandakan bahwa si penerima sudah melihat gambar yang dia kirim.


“Haha ... sebentar lagi pasti akan terjadi pertengkaran hebat. Mereka berdua akan bercerai dan Emran menjadi milikku selamanya,” gumam Viola seraya tertawa licik.


***


Sinar mentari mulai masuk ke dalam kamar Emran melalui celah-celah jendela. Emran sedikit terusik oleh cahaya matahari itu, matanya mengerjap-ngerjap beberapa kali untuk menyesuaikan pandangannya.


CEO tampan itu panik ketika tak mendapati Amara di sampingnya. Dia segera bangun untuk mencari keberadaan istrinya.


Kriet!


Pintu kamar terbuka perlahan. Seorang perempuan cantik masuk ke kamar sambil membawa segelas cokelat hangat. Sontak mata Emran tertuju ke arah pintu seraya tersenyum saat melihat Amara datang. Dia lalu kembali melayangkan tubuhnya duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


“Ini cokelat hangat untukmu, Sayang.” Amara menyodorkan segelas cokelat hangat sembari duduk di samping suaminya.


“Terima kasih, Sayang.” Emran menerima gelas itu lalu melayangkan satu kecupan di kening sang istri.


Amara merona mendapatkan perlakuan lembut dan romantis dari sang suami. Pagi ini sangat indah bagi pasangan suami istri yang sedang dimabuk asmara itu.


Emran menyeruput cokelat panas buatan istrinya. “Kenapa cokelat kali ini rasanya sangat berbeda dari biasanya, ya?” gumam Emran.


“Kenapa, Sayang? Cokelat buatanku gak enak ya? Maaf ya, Sayang. Nanti aku akan belajar dengan Bik Ijah untuk membuat cokelat panas,” cicit Amara dengan sorot mata sedih. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak bisa melayani suaminya dengan baik.


“Iya, cokelat kali ini rasanya berbeda dari biasanya. Karena kali ini dibuat dengan penuh cinta,” ucap Emram seraya tersenyum kepada Amara.


Gombalan Emran berhasil membuat hari Amara berbunga-bunga. “Iih, gombal!” ledek Amara. Mereka lalu tertawa bersama.


***


Sesampainya di bandara, Pak Zian segera berpamitan kepada anak beserta menantu kesayangannya. Dia lalu bergegas melakukan check in karena sebentar lagi pesawat yang ditumpanginya akan segera terbang.


Setelah mengantar Pak Zian, Emran berangkat ke kantor ditemani Amara. Hari ini Emran sudah kembali bekerja, karena banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Sementara Amara, dia masih memiliki jatah cuti dua hari lagi.


“Sayang, apa boleh hari ini aku menemanimu kerja?” tanya Amara seraya menatap Emran yang fokus melihat padatnya jalanan.


“Aku memang akan mengajakmu ke kantor, Sayang,” jawab Emran. Amara sangat senang mendengar ucapan Emran.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian mereka sampai di kantor Buana Group. Emran membukakan pintu mobil untuk istrinya, dia lalu menggandeng tangan Amara.


Semua karyawan menyambut kedatangan CEO beserta istrinya. Amara pun melayangkan sebuah senyuman kepada setiap orang yang ditemuinya. Seluruh karyawan Buana Group memuji Amara. Selain cantik, dia juga sangat ramah dan tidak sombong.


“Ini ruanganku, Sayang. Kamu boleh masuk ruangan ini sesukamu,” beber Emran. Amara melongo melihat ruang pribadi suaminya yang begitu luas dan mewah. Tak ada satu pun barang yang tampak sederhana, semua mewah.


Dia tersenyum bahagia saat melihat foto pernikahan mereka sudah terpajang di meja kerja Emran. “Kapan kamu meletakkan foto ini, Sayang?” tanya Amara.


“Kamu lupa? Aku kan punya tangan kanan,” ucap Emran seraya tertawa. Ya, siapa lagi kalau bukan Sony yang ditugaskan Emran untuk meletakkan foto pernikahannya.


Emran membuka satu per satu laporan yang sudah tertumpuk di mejanya. Tak lupa dia menyuruh Amara untuk istirahat di sofa, dia juga sudah memesankan makanan dan minuman untuk Amara agar betah menunggu suaminya bekerja.


Sesekali Amara berdiri di samping suaminya, dia melihat tugas suaminya yang ternyata sangat berat. Perawat cantik itu tak lupa memberikan semangat untuk suaminya. Dia merangkul pundak Emran dan mengecup kepala suaminya.


Perlakuan romantis Amara membuat Emran semakin bersemangat. Bahkan dia sudah tak sabar ingin segera pulang agar bisa bercinta dengan istrinya.


*


*


Bersambung.


Terima kasih sudah membaca karya Author 😇

__ADS_1


Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗


__ADS_2