
“Kamu jangan bercanda, Kholil!” sembur Amara sembari tertawa. Gadis cantik itu menganggap bahwa ucapan Kholil hanya bercanda, pasalnya mereka baru saja kenal. Mereka belum saling mengetahui sifat asli mereka.
“Aku tidak bercanda, jika kamu mau menikah denganku, maka aku akan membawamu keluar dari rumah itu. Bukankah nenekmu berpesan agar kamu tidak keluar dari rumah itu kecuali sudah menikah?” Kholil mengingat kembali ucapan Amara dua hari yang lalu.
“Tapi, kita belum saling mengenal,” sanggah Amara.
“Tidak masalah, nanti setelah menikah kita akan saling mengenal satu sama lain,” jelas Kholil.
Amara bergeming. Dia tampak memikirkan omongan Kholil, dia sangat bingung antara menerima atau menolak ajakan Kholil. Bukan karena pekerjaan Kholil yang hanya seorang penjual kopi, tetapi Amara takut nantinya Kholil menyesal karena menikah dengan perempuan yang tidak dia kenal.
“Amara, kamu takut aku tidak bisa membahagiakanmu karena pekerjaanku hanya penjual kopi keliling?” tanya Kholil lirih.
“Tidak! Aku tidak pernah melihat seseorang dari pekerjaannya, aku hanya takut kamu menyesal. Aku ini penuh dengan kekurangan, Kholil!” tekan Amara
“Tidak ada di dunia ini manusia yang sempurna. Aku pun memiliki banyak kekurangan, dengan kekurangan itu nanti kita bisa saling melengkapi, Amara,” jelas Kholil.
Amara kembali terdiam. Meskipun dia sedang bimbang, tetapi entah kenapa dalam hati kecilnya mengatakan bahwa Kholil adalah laki-laki yang baik, bertanggung jawab, dan pekerja keras.
Amara memang tidak mencintai Kholil, bagaimana mungkin dia mencintai seseorang yang baru beberapa hari dia kenal. Namun, dia juga tahu bahwa memang seharusnya jatuh cinta itu setelah menikah, selain halal, juga mendapatkan pahala yang banyak.
“Amara.”
Panggilan Kholil berhasil membuat Amara tersadar dari lamunannya. “Jika kamu ingin menikahiku, maka kamu harus menemui orang tuaku, Kholil. Bagaimanapun juga, aku butuh ayah untuk menjadi waliku,” tutur Amara.
“Baik, nanti malam aku akan melamarmu!” ucap Kholil penuh dengan semangat.
Entah apa yang membuat Kholil sangat yakin ingin menikah dengan Amara, mungkin karena dia gadis yang baik.
Kholil menganjurkan Amara untuk pulang, meskipun awalnya Amara menolak tetapi pria penjual kopi itu memberikan dia nasihat yang akhirnya membuat Amara mau untuk pulang. Bagaimanapun juga, tidak baik seorang gadis pergi dari rumah.
***
__ADS_1
Sesuai janji Kholil tadi sore. Malam ini dia bersama Sony – orang kepercayaan Kholil, datang ke rumah Amara. Kholil sengaja hanya mengajak Sony karena papanya berada di luar negeri.
Kholil datang dengan pakaian sederhana, hanya mengenakan baju batik lengan panjang yang dikombinasikan dengan celana hitam, begitu juga dengan Sony. Dia sengaja hanya membawa parsel buah sebagai oleh-oleh, Kholil tidak mau orang tua Amara mengetahui bahwa dia orang kaya.
“Maaf, Pak, Bu. Tujuan saya datang ke sini adalah untuk melamar Amara.” Kholil langsung to the poin menjelaskan tujuannya, dia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan orang tua Amara. Karena setiap melihat wajah mereka, rasanya Kholil ingin menghabisinya.
“Apa pekerjaanmu?” tanya Pak Galih dengan nada tinggi.
“Saya hanya penjual kopi keliling, Pak,” jawab Kholil lirih.
Sontak saja Shofia dan Bu Indri tertawa mendengar pengakuan Kholil. “Ternyata selera Kak Amara rendah sekali ya, Bu!” cibir Shofia sembari terus tertawa.
Sementara Amara hanya terdiam dan menundukkan pandangannya. Dia merasa malu dan tidak enak hati kepada Kholil karena ucapan adiknya terdengar menyakitkan.
“Iya, saya memang hanya penjual kopi keliling. Tapi saya berjanji akan membahagiakan Amara,” tegas Kholil.
“Membahagiakan? Pekerjaanmu paling sehari hanya untung sepuluh ribu, dengan uang receh itu bagaimana mungkin kamu bisa membahagiakan anakku?” hina Pak Galih.
“Kamu itu harusnya menikah dengan laki-laki kaya agar bisa kita peras hartanya. Padahal kamu seorang perawat kenapa kamu bodoh sekali, mau-maunya menikah dengan penjual kopi!” Perkataan Pak Galih sungguh membuat Amara malu.
Sementara itu, Sony menatap tajam orang tua Amara, rahangnya mulai mengeras, tangannya sudah ingin menonjok mulut orang tua Amara. Dia tidak terima bosnya dihina seperti itu. Kholil yang menyadari hal itu, memberikan kode kepada Sony agar tidak terpancing emosi.
“Yah, terima saja lamaran Kholil. Toh, aku tidak meminta ayah untuk membiayai pernikahanku, dan dengan aku menikah, kalian bisa menguasai rumah ini karena aku akan tinggal bersama Kholil,” ucap Amara.
“Benar, Yah. Sudah lah, biarkan saja Kak Amara menikah dengan penjual kopi ini, bahagia atau tidak itu urusan mereka. Ayah tidak perlu menghawatirkannya,” seloroh Shofia.
“Benar kata Shofia, Yah. Biarkan saja anak sialan ini menikah dengan penjual kopi, sepertinya Amara memang pantas menikah dengan laki-laki ini,” timpal Bu Indri seraya tertawa.
Pak Galih pun menerima lamaran Kholil, tak lupa dia memberikan syarat kepada Kholil dan Amara, mereka harus menikah tanpa meminta sepeser pun uang dari Pak Galih; tidak boleh ada pesta di rumahnya; setelah acara ijab kabul, Kholil harus langsung membawa Amara pergi; yang terakhir Pak Galih meminta mahar sebesar 20 juta, dan mahar itu harus diberikan kepada Pak Galih.
Amara terkejut dengan syarat yang terakhir, dia keberatan dengan syarat Kholil harus memberikan mahar sebesar 20 juta. Padahal, Amara tidak berniat memberatkan Kholil, dia hanya meminta mahar sebesar sepuluh ribu.
__ADS_1
“Baik, saya akan memberikan mahar sesuai yang Anda minta, dengan satu syarat, selama Amara masih tinggal di sini kalian tidak boleh ada yang menyakiti Amara, membentaknya pun tak boleh,” ucap Kholil dengan tegas.
“Kholil, kamu tidak perlu memberikan mahar sebanyak itu!” seloroh Amara. Gadis cantik itu tidak mau memberatkan Kholil dengan menuruti permintaan orang tuanya.
“Kamu tidak perlu khawatir, Amara. Mahar itu tidak ada artinya untukku, yang terpenting aku bisa mendapatkanmu!” Benar kata Kholil, uang 20 juta tidak ada artinya untuk CEO kaya sepertinya.
Amara tidak bisa berbuat apa-apa, sungguh dia sangat malu terhadap Kholil.
“Kapan kamu akan menikahi Amara?” tanya Pak Galih.
“Tiga hari lagi aku akan menikahi Amara,”
“Lebih cepat lebih bagus!” pukas Bu Indri.
Mereka pun setuju. Tiga hari lagi pernikahan Amara dan Kholil akan di gelar secara sederhana di rumah Amara. Setelah urusannya selesai, Kholil pamit kepada orang tua Amara. Dia juga kembali menegaskan bahwa selama tiga hari ke depan tidak ada yang boleh menyakiti Amara.
Amara lalu mengantarkan Kholil ke depan rumah. Sementara itu, orang tua Amara beserta Shofia tersenyum bahagia karena tiga hari lagi mereka akan menerima uang banyak.
“Kholil, maafkan ucapan orang tuaku, ucapan mereka memang selalu menyakitkan!” Amara menatap Kholil dengan tatapan yang sulit diartikan, dia merasa tidak enak hati kepada Kholil.
“Kamu tidak perlu, minta maaf. Aku sudah terbiasa dihina seperti itu,” ucap Kholil seraya tersenyum. “Oh iya, persiapkan dirimu. Tiga hari lagi kita akan menikah,” lanjutnya
Amara mengangguk pelan. “Kholil, jika kamu tidak mampu memberi mahar sebanyak itu, kamu tidak perlu melakukannya!” ucap Amara.
*
*
Bersambung.
Terima kasih sudah membaca karya Author 😇
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗