Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 19 Video Viral


__ADS_3

Sebelum baca bab ini, Author mau kasih rekomendasi karya bagus untuk kalian 🤩. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.



..._____________________________________...


“Kamu tak perlu memikirkan mereka, biar lah mereka menjadi urusanku,” tandas Emran.


Amara tidak berani membantah suaminya. Dia pasrah dengan keadaan. Ucapan Emran memang ada benarnya, mereka harus diberikan pelajaran agar memiliki efek jera dan tidak memperlakukan Amara seenak jidatnya.


Makan malam telah usai. Seluruh peristiwa yang dialami Amara hari ini perlahan mulai dia lupakan. Dia ingin menjalani hari-hari dengan indah bersama Emran. Amara tidak akan membiarkan siapa pun merusak kebahagiaannya dengan Emran.


Emran duduk di balkon kamar sembari mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Amara datang membawakan segelas kopi untuk menemani suaminya bergelut di depan layar laptop.


“Sayang, apa kamu akan tetap menjadi perawat?” tanya Emran seraya menutup laptopnya karena semua pekerjaan sudah selesai.


“Aku mencintai profesiku, Sayang. Menjadi perawat adalah cita-citaku sejak kecil,” papar Amara.


Emran mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kenapa, Sayang? Kamu ingin aku berhenti bekerja?” tanya Amara.


“Tidak, jika kamu ingin tetap bekerja silakan! Aku tidak melarang, hanya saja aku takut kamu capek.” Sejujurnya Emran memang menginginkan istrinya di rumah saja, mengurus dirinya dan anak-anaknya nanti. Tetapi dia juga tidak mau Amara sedih karena dirinya melarang dia bekerja.


“Aku tidak capek. Aku sangat suka jadi perawat, dengan menjadi seorang perawat aku bisa menolong banyak orang, Sayang. Tapi jika kamu melarangku bekerja, maka aku akan berhenti,” cakap Amara.


“Tidak, Sayang. Lanjutkan pekerjaanmu. Bantulah mereka yang membutuhkan bantuanmu,” ucap Emran seraya memeluk istrinya. Disenderkanlah kepala Amara di atas pundaknya.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu menikmati suasana malam di kotanya. Lampu kota sangat indah jika dilihat dari balkon kamar Emran. Hembusan angin menambah sejuk malam itu.


***


Hari berganti dan pagi telah datang. Emran tampak sudah siap lengkap dengan setelan jasnya. Hari ini Amara tidak ikut ke kantor, dia ingin istirahat di rumah saja menikmati masa cutinya yang hanya tersisa satu hari.


Setelah Emran pergi, Amara kembali masuk ke kamarnya. Perawat cantik itu menyalakan televisi untuk menonton drama Korea kesukaannya dengan ditemani aneka camilan dan minuman.


Ponsel Amara bergetar. Menandakan ada pesan masuk. Benar saja, teman kerja Amara mengirimkan sebuah video.


Pyar!


Gelas yang Amara pegang tiba-tiba terjatuh saat dia menonton video tersebut. “Astagfirullah, Shofia!” gumam Amara. Kekecewaan terpancar dari wajah cantiknya. Sungguh perbuatan Shofia sangat memalukan.


Pagi itu banyak sekali teman Amara yang mengirimkan video viral adiknya yang sedang tidur bersama laki-laki, lebih tepatnya om-om. Amara ikut menanggung malu akibat ulah adiknya.


Tak berhenti sampai di situ, hampir semua sosial media dihebohkan dengan video mesum Shofia.


Setiap Amara menasihati adiknya, justru perlakuan kasar yang dia dapatkan dari orang tuanya. Bisa dibilang Shofia salah pergaulan dan salah pola asuh. Ya, Pak Galih dan Bu Indri sangat memanjakan Shofia. Mereka selalu menuruti apa pun yang dia minta tanpa memikirkan baik dan buruknya.


Oh iya, Shofia juga sering kali berlibur keluar kota selama tiga sampai empat hari. Katanya sih healing sama teman-teman kampusnya, sekaligus mengerjakan tugas kuliah.


Ponsel Amara kembali bergetar. Kali ini suaminya yang menelepon.


“Sayang, apa kamu sudah mengetahui berita tentang adikmu?” tanya Emran. CEO tampan itu ikut menanggung malu.


“Sudah, Sayang. Dia benar-benar memalukan!” gerutu Amara.

__ADS_1


“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi orang tuamu ketika mengetahui video itu,” ujar Emran seraya tersenyum sinis. Akankah mereka malu dan kecewa atas perbuatan anak kesayangannya? Atau justru mereka membela Shofia?


***


Kita intip Pak Galih, Bu Indri dan Shonia yang ada di jeruji besi. Pak Galih dan Bu Indri syok saat melihat video anaknya sedang ditayangkan di layar televisi.


Plak!


Plak!


Dua tamparan dari Bu Indri mendarat di pipi Shofia. Sontak Shofia meneteskan air mata, ini adalah kali pertama dia ditampar oleh orang tuanya.


“Dasar bodoh! Kenapa kamu melakukan perbuatan keji itu, Shofia?!” bentak Bu Indri dengan suara bergetar. Air mata perempuan paruh baya itu mengalir deras. Dia sangat kecewa terhadap anak kesayangannya.


Sementara itu, Shofia hanya menunduk. Dia tidak berani menatap mata kedua orang tuanya.


“Kamu benar-benar keterlaluan. Kamu tega mempermalukan ibu dan ayahmu?!” sembur Pak Galih.


“Ma-maafkan Shofia!” Shofia berlutut di kaki orang tuanya. “Shofia benar-benar khilaf,” lanjutnya.


Pak Galih menghempaskan tangan Shofia. Tanpa sengaja pria paruh baya itu menendang perut putrinya. Tendangan keras Pak Galih membuat Shofia merintih kesakitan. Beberapa saat kemudian, terlihat darah mengalir dari bagian bawah Shofia. Gadis belia itu ambruk tak sadarkan diri.


*


*


Bersambung.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca karya Author 😇


Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗


__ADS_2