
Pak Galih menendang punggung Susilo. Membuat pria paruh baya itu tersungkur ke lantai. Pak Galih lalu memeluk erat Shofia. Dia datang tepat waktu.
Ya, Susilo saat itu sudah melepas seluruh pakaiannya. Dia sudah bersiap untuk mencicipi tubuh mulus Shofia. “Ayah, aku takut,” ucap Shofia dengan nada parau.
“Jangan takut, ada ayah di sini. Kamu belum disentuh laki-laki tua itu, ‘kan?” tanya Pak Galih sembari terus memeluk Shofia.
Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya.
Pak Galih lalu melemparkan amplop coklat yang berisi uang ke wajah Susilo, dia sudah melunasi semua hutang berserta bunganya. “Sekarang kita sudah tidak ada urusan lagi!” pekik Pak Galih seraya memandang tajam Susilo.
“Pergi dari sini! Jangan pernah memelas untuk berhutang kepadaku lagi,” sembur Susilo.
“Aku juga tidak sudi berhutang kepadamu!”
“Dasar manusia tidak tahu terima kasih!” bentak Pak Susilo.
Pak Galih mengabaikan ucapan Susilo, dia lalu bergegas mengajak Shofia untuk meninggalkan rumah juragan beras itu. Sepanjang perjalanan Shofia hanya diam, dia memeluk erat sang ayah, sepertinya dia mengalami sedikit trauma, baru kali ini anak kesayangan Pak Galih dan Bu Indri mendapat perlakuan keras.
“Dari mana ayah mendapatkan uang sebanyak itu?” tanya Shofia memecah keheningan.
“Ayah terpaksa menjual rumah kita,” jawab Pak Galih.
“Apa menjual rumah? Lalu kita tinggal di mana, Yah?” sembur Shofia.
__ADS_1
Pak Galih lalu menjelaskan semuanya kepada Shofia, sejujurnya dia juga tidak ingin menjual harta satu-satunya itu. Tetapi tidak ada pilihan lain, lebih baik menjual rumah dari pada merelakan putri kesayangannya jatuh di tangan laki-laki tua itu.
Beberapa saat kemudian, Bu Indri menelepon Pak Galih. Wanita paruh baya itu sudah mendapatkan rumah dengan harga yang sesuai dengan uang yang mereka punya. Pak Galih melajukan motornya menuju alamat yang dikirimkan oleh Bu Indri.
“Bu, kenapa beli rumah yang kecil seperti ini? Jelek pula!” cicit Shofia.
“Uang kita hanya cukup untuk beli rumah ini, Shofia. Nanti kalau ayah dan ibu sudah punya uang banyak, kita pasti beli rumah yang lebih besar,” jelas Bu Indri.
“Kenapa ayah dan ibu tidak minta uang Kak Amara sih, uang dia pasti banyak, ‘kan istrinya CEO kaya raya!” cecar Shofia.
“Sudah lah, Shofia. Kamu jangan bikin ayah dan ibu pusing, masih syukur kamu bisa terbebas dari laki-laki tua ini!” sembur Bu Indri.
Shofia seketika terdiam, yang diucapkan Bu Indri memang benar. Dia tidak bisa membayangkan jika orang tuanya tidak bisa melunasi hutangnya malam itu juga, pasti dia sudah menjadi santapan laki-laki tua itu dan kehilangan masa depannya.
Malam ini Pak Zian sedang bersiap-siap karena besok akan kembali ke Amerika. Ya, sejak istrinya meninggal Pak Zian memutuskan untuk menetap di Amerika. Duda tampan dan kaya raya itu juga enggan untuk menikah lagi, dia seperti memiliki trauma terhadap pernikahannya. Ya, dia ditinggal selingkuh oleh mantan istrinya. Hingga akhirnya mantan istrinya meninggal karena kecelakaan bersama selingkuhannya.
“Emran, besok papa akan kembali ke Amerika. Kamu harus menjaga Amara, kamu tidak boleh menyakitinya,” pesan Pak Zian kepada Emran. Meskipun baru mengenal Amara, entah kenapa Pak Zian sangat menyayangi menantunya.
“Emran pasti akan menjaga Amara, Pa.”
“Amara, sekarang kamu punya Emran dan papa, jika kamu ada masalah atau butuh sesuatu jangan sungkan untuk bilang ya,” ujar Pak Zian kepada Amara.
“Baik, Pa. Amara sangat berterima kasih karena papa mau menerima Amara,” ucap Amara dengan nada bergetar. Istri CEO tampak itu terharu, baru kali ini dia merasakan kasih sayang dari orang tua meskipun itu bukan ayah kandungnya. Dia juga sangat bersyukur bisa menjadi istri Emran dan menantu Pak Zian yang sangat menyayanginya.
__ADS_1
Menjadi istri orang kaya bukanlah impian Amara, sejak dulu dia tidak pernah memandang harta. Namun, perawat cantik itu selalu berdoa agar Tuhan memberikan dia suami dan mertua yang baik serta menyayanginya.
Obrolan mereka berlangsung panjang dan hangat hingga larut malam. Saat mengetahui Amara sudah mulai mengantuk, Emran pun mengajaknya untuk tidur. Benar saja, baru beberapa detik tubuhnya menempel kasur, istri Tuan Emran itu langsung tertidur pulas.
Saat Emran bersiap untuk tidur tiba-tiba saja ponsel Amara berdering. CEO tampan itu bergegas mengambil ponsel Amara karena takut mengganggu tidur istrinya. Baru saja ingin menjawab panggil itu, namun panggilan sudah terputus.
Beberapa saat kemudian, ponsel Amara kembali bergetar. Menandakan ada pesan masuk. Karena penasaran siapa orang yang mengirimkan pesan kepada istrinya, Emran pun membuka ponsel Amara.
From : 085xxx
Jangan bangga karena bisa mendapatkan Emran, karena dia bekasku. Aku lah orang yang pertama kali disentuhnya.
Wajah Emran merah padam saat melihat fotonya sedang berpelukan dengan Viola.
“Kurang ajar!” desis Emran geram.
*
*
Bersambung.
Terima kasih sudah membaca karya Author 😇
__ADS_1
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗