
“Tidak! Kali ini ibu tidak mau membantumu. Ibu tidak mau membunuh bayi yang tidak berdosa itu!” Bu Indri dengan tegas menolak permintaan Shofia. Baru kali ini dia menolak permintaan anak bungsunya.
‘Tidak! Aku tidak mau hamil anak ini! Aku benci anak ini!’ gumam Shofia dalam hati. Dia lalu mengusap air matanya. Menurut dia menangis tidak ada gunanya. Dia harus melakukan sesuatu.
Suasana ruang rawat inap kelas 3 itu mendadak hening. Tidak ada obrolan antara orang tua dan anaknya.
***
Sementara itu, Amara yang masih dirundung rasa malu tiba-tiba mendapat pesan WhatsApp dari Juwita; teman kerja Amara yang sudah dianggap saudara.
Juwita: Amara, adikmu dirawat di sini!
Amara: Sakit apa dia?
Juwita: Dia hampir saja abortus (keguguran).
Amara: Dia hamil?
Juwita: Iya, dia datang karena mengalami perdarahan akibat ditendang ayahmu.
Amara sangat syok membaca kabar dari Juwita. Sahabat Amara itu menjelaskan semua yang dia ketahui. Ya, Juwita lah yang menangani Shofia di IGD. Maka dari itu dia tahu semua yang terjadi pada adik Amara.
Kata Juwita, mungkin itu salah satu balasan untuk mereka karena selama ini jahat kepada Amara. Saat ini kehidupan keluarga Pak Galih sedang hancur lebur. Setelah kehilangan rumah satu-satunya yang mereka punya, ditambah mereka harus mendekam dipenjara, dan sekarang anak kesayangannya mendadak viral dan hamil. Berat sekali cobaan keluarga Pak Galih.
Sisi baik Amara kembali meronta-ronta. Dia tidak tega melihat orang tuanya mendekam di penjara, terlebih lagi sekarang Shofia harus di rawat di rumah sakit.
‘Aku harus coba bicara sama Mas Emran. Hanya dia yang bisa membebaskan mereka dari penjara.’ Monolog Amara dalam hati.
Tak berselang lama Emran pulang. Senyum cerah terpancar dari wajah tampannya. Dia menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan sang istri.
“Sayang, aku rindu!” bisik Emran seraya memeluk erat istrinya.
“Padahal baru 8 jam kita berpisah, kok sudah rindu!” balas Amara seraya tersenyum dan membalas pelukan suaminya.
“Aku minta jatah dong, Sayang.” Emran memainkan alisnya seraya tersenyum kepada Amara.
“Masa sore-sore gini minta jatah sih?” ledek Amara.
__ADS_1
“Gak masalah dong,” timpal Emran.
Tak menunggu lama. Pria tampan itu meletakkan tubuh seksi istrinya di atas ranjang panas. Mereka melakukan ritual panas yang sejak kemarin dirindukan oleh Emran.
Amara memang perempuan hebat. Selain jago mengobati pasien, dia juga jago dalam urusan ranjang dan mengurus suami. Suara laknat sesekali keluar dari mulut Amara, membuat gairah Emran semakin memuncak. Pasangan suami istri itu tampak puas dengan aksi panasnya sore ini.
“Ah, lega sekali!” beber Emran.
“Apanya yang lega, Sayang?” tanya Amara keheranan.
“Sejak kemarin si kecebong-kecebong ini sudah meronta-ronta minta dikeluarkan, Sayang,”
Amara tertawa mendengar ucapan suaminya. Emran pun ikut tertawa. Akhirnya mereka tertawa bersama dibalik selimut putih tanpa sehelai kain apa pun.
Tiba-tiba Amara teringat akan nasib keluarganya.
“Sayang, tolong bebaskan ayah, ibu, dan Shofia.” Pinta Amara.
“Kenapa aku harus membebaskan mereka? Biarkan saja mereka merasakan akibat dari perbuatan kriminalnya, Sayang!” cetus Emran.
Amara akhirnya menceritakan semua berita yang dia dengar kepada suaminya. Berharap Emran mau membebaskan keluarganya. Kasihan Shofia jika harus mendekam di penjara dalam keadaan hamil.
Cukup lama Emran mempertimbangkan hal itu. Dan akhirnya dia mengabulkan permintaan Amara.
“Kalau bukan karena kamu, aku tidak sudi membebaskan orang jahat seperti mereka!” cicit Emran.
“Sayang, maaf jika aku membuatmu kecewa,” ucap Amara.
“Tidak, Sayang. Aku hanya kesal saja dengan keluargamu itu!”
Masih dalam posisi yang sama. Terbaring dibalik selimut. Mereka beralih topik pembahasan. Ya, mereka kembali merencanakan bulan madunya. Rencananya minggu depan mereka akan berangkat ke Bali. Tetapi bagaimana dengan pekerjaan Amara? Istri Emran itu tidak mungkin jika harus mengajukan cuti lagi.
“Kamu tidak perlu khawatir, biar aku yang mengurus cutimu. Toh, kamu masih bisa bekerja satu minggu ini!” ujar Emran.
“Kamu akan membantuku minta izin cuti lagi?” tanya Amara.
“Iya, biar aku yang mendatangi langsung pimpinan rumah sakit tempat kamu bekerja.”
__ADS_1
Amara sangat senang mendengar ucapan Emran. Dia memeruk erat suaminya. Diletakkanlah kepalanya di atas dada bidang Emran. Amara merasakan detak jantung suaminya. Suara detak itu membuatnya semakin nyaman dan merasa aman berada di samping Emran.
Waktu akan segera berganti malam. Mereka secara bergantian mandi junub untuk mensucikan dirinya dari hadas besar.
Saat Amara sedang asyik berdandan di meja riasnya. Tiba-tiba saja –
Pyar!
Seseorang dengan sengaja melempar batu ke arah jendela kamar Emran. Posisi meja rias Amara yang berada di dekat jendel membuat wanita cantik itu terkena serpihan kaca.
Amara berteriak karena kaget. Sontak Emran keluar dari kamar mandi karena mendengar teriakan keras istrinya.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Emran panik. “Pelipismu berdarah!” Emrah memegang pelipis Amara seraya menyebarkan pandangannya ke arah jendela dan kaca yang berserakan.
Emran lalu merangkul pundak Amara dan mengajak dia menjauh dari jendela. Khawatir ada lemparan batu yang kedua kalinya.
CEO tampan itu segera mengambilkan kotak P3K yang sengaja Amara siapkan untuk seluruh penduduk rumah. Amara lalu membersihkan lukanya dibantu oleh Emran.
“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Emran seraya menyiapkan kasa dan plester untuk menutup luka Amara.
“Sepertinya ada seseorang yang sengaja melempar batu ke arah kamar!” jelas Amara.
Mendengar cerita istrinya, wajah Emran langsung memerah. Dia memang mudah sekali marah jika ada orang yang sengaja mencelakai atau melukai istri kesayangannya.
“Aku keluar dulu. Jaga dirimu dan jangan duduk di dekat jendela!” tegas Emran. Dengan cepat dia menuruni tangga rumahnya.
Emran keluar rumah. Dia mengedarkan pandangannya ke arah pelataran rumah mewahnya. Ternyata pintu gerbang terbuka.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗
Oh iya, Author juga mau rekomendasiin novel bagus nih, Kak. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.
__ADS_1