Perawat Malang Untuk Tuan CEO

Perawat Malang Untuk Tuan CEO
Bab 11 Keributan Saat Pesta


__ADS_3

“Pergi kalian dari sini! Jangan merusak pesta pernikahan anakku!” hardik Pak Zian kepada besannya.


“Besan, aku hanya ingin berbicara sebentar dengan Amara. Kenapa dia tega sekali tidak mengundang kami, padahal kami ini orang tua kandungnya,” ujar Pak Galih dengan nada memelas, dia berpura-pura sedih untuk mendapatkan simpati Pak Zian.


“Orang tua? Orang tua macam apa yang tega menganiaya anaknya setiap hari? Bahkan tega menjadikan anaknya sebagai jaminan hutang, tidak hanya itu, bahkan untuk merestui Amara saja kamu memberikan beberapa syarat, termasuk tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun untuk menikahkan Amara. Oh iya, apa kamu lupa bahwa kamu tidak memperbolehkan Amara mengadakan pesta pernikahan? Lalu kenapa sekarang kamu pura-pura sedih karena tidak diundang? Bukankah kamu tidak menganggap Amara sebagai anak?” Pak Zian membongkar semua yang telah dilakukan oleh Pak Galih beserta istrinya.


Mereka hanya terdiam kaku, tidak mampu membela diri. Pasalnya, semua yang diucapkan oleh Pak Zian adalah benar. Sungguh, ucapan besannya itu membuat mereka sangat malu karena didengar oleh orang banyak, selain itu media juga ikut menyorot mereka.


Pak Galih akhirnya mengajak Bu Indri dan Shofia untuk pulang. Namun, Shofia menolak ajakan ayahnya karena tujuannya belum terpenuhi.


Saat semua orang tercengang karena mendengar perkataan Pak Zian, Shofia nekat menyerobot para penjaga. Dia lari menuju pelaminan.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Amara. Tak hanya itu, Shofia juga menjambak rambut kakaknya. Membuat pengantin cantik itu menyeringai kesakitan.


Plak!

__ADS_1


Emran membalas tamparan Shofia. Tamparan yang diberikan oleh Emran cukup keras, sehingga membuat sudut bibir Shofia mengeluarkan sedikit darah segar. Dia tampak memegang pipinya yang terasa sangat perih, butiran bening menggenang di pelupuk matanya.


“Berani-beraninya kamu menyakiti istriku! Ingat, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Amara, termasuk kamu dan orang tuamu!” CEO tampan itu terlihat sangat murka, dia menatap tajam Shofia, membuat gadis itu ketakutan.


Emran mencaci maki Shofia beserta orang tuanya, dia membeberkan semua perlakuan yang selama ini diberikan kepada Amara. Salah satu sahabat Amara pun ikut angkat bicara, dia memberikan sebuah kesaksian.


Bu Indri berjalan ke atas pelaminan, dia menarik tangan Shofia untuk mengajaknya turun. Wanita paruh baya itu terlihat sangat malu.


“Awas kamu! Mulai hari ini kamu bukan lagi anakku!” hardik Bu Indri kepada Amara.


“Amara juga tidak butuh orang tua sepertimu!” bentak Emran.


Sepanjang perjalanan pulang, Shofia tak berhenti merengek agar orang tuanya melakukan sesuatu untuk merebut Emran dari Amara. Bu Indri yang masih tersulut emosi, akhirnya membentak Shofia. Ini kali pertama Bu Indri membentak putri kesayangannya.


Kembali ke pesta pernikahan Emran dan Amara. CEO tampan itu meminta maaf kepada tamu undangan atas keributan yang membuat mereka tidak nyaman. Dia juga akhirnya menceritakan awal mula bertemu Amara dan memutuskan menikahi perawat cantik itu dalam waktu yang sangat singkat.


Tak hanya itu, dia juga mengungkapkan cintanya untuk Amara. Mereka terlihat sangat romantis, membuat para tamu undangan iri.

__ADS_1


“Ah, romantis sekali mereka. Tuhan, sisakan satu laki-laki seperti Tuan Emran untukku,” ucap salah satu tamu undangan, membuat tamu lain tertawa mendengarnya.


Pesta telah selesai. Emran beserta keluarganya kembali ke rumah masing-masing. Sepanjang perjalanan, Emran tak henti-hentinya memandang sang istri, baru kali ini dia merasakan jatuh cinta berkali-kali. Tak hanya itu, setiap memandang wajah cantik Amara, Emran menemukan sebuah kedamaian yang tak pernah dia rasakan.


“Sayang, terima kasih karena kamu sudah bersedia menjadi istriku,” ucap Emran seraya melayangkan kecupan di kening istrinya.


“Aku yang harusnya berterima kasih, Sayang. Jika kamu tidak menikahiku, pasti aku tidak akan sebahagia ini.” Amara menyandarkan kepalanya ke pundak Emran. Duh, mereka sungguh romantis.


Sony sesekali memperhatikan bosnya yang duduk di belakang dari kaca mobil. Dia ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh Emran. ‘Akhirnya, senyum yang pernah hilang kini telah kembali.’ Monolog Sony dalam hati.


*


*


Bersambung.


Terima kasih sudah membaca karya Author 😇

__ADS_1


Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗


__ADS_2