
“Tolong!” Amara terus berteriak dengan wajah bersimbah air mata. Hatinya sangat sakit saat harga dirinya hendak dilecehkan.
Bos penculik itu tak beranjak dari posisinya yang berjongkok di depan Amara. Dia menatap lekat wajah cantik Amara dengan jarak sejengkal. “Kamu cantik sekali,” lirih Si penculik begitu mengagumi kecantikan Amara. Dia mendaratkan jari-jarinya ke pipi Amara, lalu mengelus lembut dan menikmati pipi mulus istri Emran.
Amara memejamkan matanya rapat-rapat. Dia sangat ketakutan hingga tak sanggup untuk berteriak. Air mata membanjiri pipinya, tanda bahwa dia sedang berada di titik terendah. Tak lupa dia terus merapal doa.
Perlahan pria itu mulai memejamkan mata. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir Amara. Jarak antara bibir keduanya hanya tersisa beberapa senti meter saja.
Bugh!
Anak buah penculik yang sedang berdiri menyaksikan aksi bosnya tiba-tiba ditendang dari belakang hingga jatuh tersungkur. Dahinya membentur lantai, seketika membuat kepalanya pusing.
Menyadari hal itu, sang bos sontak membalikkan badannya. “Siapa kamu?” tanya sang bos.
“Aku suaminya! Beraninya kalian menyentuh istriku dengan tangan kotor kalian!” bentak Emran. Rahangnya mengeras hingga otot-otot yang ada di lehernya terlihat.
Ketika mengetahui Emran datang, Amara segera lari menjauhi Si Penculik. Sementara Sony, memberikan pelajaran kepada anak buah penculik itu.
“Kalian sudah berani menculik istriku. Maka kalian harus menerima akibatnya!” desis Emran.
“Memangnya apa yang kami terima, hah?” tantang penculik seraya tertawa terbahak-bahak.
Bugh!
Dengan satu tendangan Emran berhasil menjatuhkan bos dari penculik itu. Suami Amara menghajar penculik dengan pukulan bertubi-tubi. Dia tidak memberikan kesempatan penculik untuk membalas pukulannya. Tubuh Emran yang tinggi dan kekar membuatnya mudah untuk mengalahkan preman kecil seperti mereka.
__ADS_1
Emran menyuruh Sony untuk menghubungi polisi untuk menangkap kedua orang itu. “Kalian telah berurusan dengan orang yang salah. Jadi, jangan salahkan aku jika kalian akan mendapatkan hukuman setimpal atas berbuatan kalian!” hardik Emran.
“Kami hanya menjalankan perintah,” ucap lirih Si Bos yang tersungkur di lantai. Dia benar-benar sudah tidak berdaya.
“Siapa yang menyuruh kalian?” bentak Emran.
“Viola dan Tasya,”
“Kurang ajar!” Emran sangat murka ketika mendengar kedua nama itu yang menyuruh untuk menculik Amara. Ternyata Viola sudah berani berbuat sejauh itu.
Tak menunggu lama, mobil polisi sampai di lokasi. Emran lalu menyuruh ketiga polisi itu untuk menangkap penculik bayaran Viola.
“Hukum mereka dengan hukuman yang setimpal. Mereka telah berani menculik dan ingin melecehkan istriku!” tegas Emran.
“Baik, Tuan!”. Polisi tersebut menggiring kedua preman ke dalam mobil. Ternyata mereka juga sedang menjadi buronan karena melakukan aksi begal.
“Maafkan aku, Sayang,” lirih Emran. Dia tidak bisa membayangkan. Andai saja dia tidak datang tepat waktu. Pasti saat ini Amara sudah menjadi santapan laki-laki keji seperti mereka.
“Aku sangat bersyukur karena kamu datang tepat waktu,” ucap Amara dengan suara parau.
Emran segera mengajak sang istri pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Emran tak melepas rangkulannya.
“Sayang, kita sudah sampai,” tukas Emran kepada Amara yang sedari tadi tidak membuka matanya. Wanita itu merasa aman dalam dekapan sang suami.
***
__ADS_1
Sementara itu. Viola tampak sedang mondar-mandir seperti setrikaan. Dia sedang menunggu kabar dari kedua orang suruhannya. “Ke mana sih kedua orang itu! Disuruh culik Amara saja lama banget!” cicit Viola.
“Coba kamu telepon mereka,” timpal Tasya.
Viola menelepon kedua preman itu. Namun, nomornya tidak aktif. “Sialan! Jangan-jangan mereka menipu kita,” ujar Viola.
Di tipu, itulah yang ada di pikiran Viola. Karena sebelum menjalakan perintahnya, mereka sudah meminta DP separuh dari bayaran yang dijanjikan oleh Viola dan Tasya.
“Kurang ajar!” geram Tasya. “Harusnya kamu jangan kasih DP dulu. Kalau kayak gini kita, ‘kan kita jadi rugi,” gerutu Tasya.
“Kok mami jadi nyalahin aku. Ini, ‘kan ide mami.” Viola kesal kepada Tasya karena merasa disalahkan. Padahal semua ini karena idenya.
Ya, semua itu memang ide Tasya. Selain berniat untuk mencelakai Amara, mereka juga berniat untuk memeras Emran dengan cara meminta Emran menebus istrinya. Sementara ini, mereka tidak memikirkan memisahkan Amara dan Emran. Mereka hanya butuh uang untuk biaya hidup.
Dering ponsel Viola memecahkan keheningan antara ibu dan anak yang tampak sedang saling diam.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗
Oh iya, Author juga mau rekomendasiin novel bagus nih, Kak. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.
__ADS_1