
Kedua orang tua Shofia berniat untuk menghubungi laki-laki yang telah menghamili anaknya. Namun, Shofia melarang. Dia tidak ingin menikah dengan laki-laki tua itu. Shofia masih berniat untuk menggugurkan kandungannya.
“Kamu jangan egois! Jangan melakukan dosa untuk yang kedua kalinya!” bentak Pak Galih kepada Shofia.
“Sejak kapan ayah memikirkan tentang dosa? Bukankah selama ini ayah juga melakukan dosa yang berulang?” sosor Shofia.
“Memangnya ayah melakukan dosa apa?” tanya Pak Galih dengan emosi yang berapi-api.
“Menganiaya Kak Amara bukankah termasuk dosa besar? Dan satu lagi, Shofia tahu rahasia yang selama ini ayah sembunyikan dari kami!”
Pak Galih mengerutkan alisnya. Emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi. Dia paling tidak suka dibantah oleh anak-anaknya. Apa lagi digurui oleh orang yang umurnya jauh di bawahnya.
Plak!
Tamparan dari Pak Galih mendarat di pipi Shofia. “Kurang ajar! Sekarang kamu sudah berani membantah ayah!” geram Pak Galih.
“Tampar saja aku! Bila perlu, bunuh saja sekalian! Aku juga tidak sanggup hidup seperti ini!” teriak Shofia seraya berlinang air mata.
“Sudah cukup! Bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah!” bentak Bu Indri. Dia lalu menarik tangan Shofia dan mengajaknya pergi.
Sepergian anak dan istrinya. Pak Galih duduk di kursi ruang tamu. Dia memikirkan ucapan Shofia bahwa dia mengetahui rahasia ayahnya. “Jangan ... jangan ... ah tidak mungkin!” Pak Galih menepis praduganya. Tidak mungkin anaknya mengetahui rahasia itu. Pria paruh baya itu sangat yakin rahasia yang sudah bertahun-tahun dia sembunyikan tidak akan pernah ada yang tahu. Dia sudah menyimpannya dengan sangat rapi.
Dari pada pusing memikirkan masalah yang menimpa keluarganya, Pak Galih memilih pergi mencari hiburan agar tidak stres.
__ADS_1
Sementara itu Shofia mengurung diri di kamarnya. Dia tidak mau bertemu siapa pun. Dia menghubungi laki-laki yang sudah menidurinya. Laki-laki tua itu setuju ide Shofia. Dia mentransfer uang yang cukup banyak untuk biaya aborsi Shofia.
Shofia tampak sibuk mencari informasi tempat aborsi ilegal. Tak lupa dia menghubungi teman-temannya yang bekerja di club malam. Dia yakin mereka pasti tahu tempat aborsi ilegal. Ya, Shofia sering memasuki club malam. Dia bertemu dengan si om-om itu juga dari sana. Diiming-iming uang banyak, akhirnya Shofia mau menyerahkan harta berharganya.
Cukup lama Shofia mencari informasi itu. Akhirnya, dia menemukan tempat aborsi. Rencananya dia akan mendatangi tempat itu bersama salah satu temannya.
Shofia sudah tidak sabar untuk menggugurkan kandungannya. Tetapi, apa boleh buat. Dia terpaksa harus menunggu hingga temannya libur kerja.
***
Berbeda dari keluarganya. Amara justru semakin bahagia sejak memutuskan menikah dengan Tuan CEO. Hari-harinya sangat indah dan menyenangkan.
Meskipun, sering kali diganggu oleh orang-orang yang berniat merebut Emran. Namun, Amara tidak mengambil pusing hal itu. Dia yakin bahwa suaminya adalah tipe orang yang setia. Buktinya, sejak menikah dengan Emran. Amara diberikan kebebasan untuk membuka gawai suaminya.
Emran tidak bisa melewatkan kesempatan itu begitu saja. Tangannya mulai beraksi memainkan gundukan kenyal milik Amara. Setelah puas bermain di bagian atas, tangan sang CEO mulai bermain di area sensitif Amara.
“Mas, jangan! Aku tidak tahan!” desar Amara seraya menggeliat karena asetnya dimainkan oleh Emran.
“Nikmati, saja Sayang!” lirih Emran.
“Aahhh .... “ teriak Amara saat adik kecil Emran memasuki goa miliknya. Aksi panas di atas ranjang pun terjadi.
Kali ini permainan mereka berlangsung sangat lama. Ya, puncak kenikmatan tak kunjung datang karena mereka baru saja menumpahkan cairan kentalnya.
__ADS_1
Berbagai gaya telah mereka kuasai. Posisi woman on top membuat kedua insan itu semakin melayang-layang. Setiap gesekan yang terjadi membuat suara laknat dari keduanya bersahutan.
Puncak kenikmatan pun terjadi. Tubuh keduanya bergetar hebat.
“Istriku jago sekali,” ucap Emran seraya mengelus pipi Amara.
“Jangan gitu dong, aku jadi malu!” Amara tersenyum malu. Ya, meskipun melakukan dengan suaminya sendiri. Amara masih sering malu-malu. Bahkan dia tidak pernah menawarkan tubuhnya kepada Emran karena malu.
Jadi, Emran lah yang harus memancingnya terlebih dahulu. Setelah melemparkan umpan. Amara dengan sigap melayani suaminya.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗
Oh iya, Author juga mau rekomendasiin novel bagus nih, Kak. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.
__ADS_1