
Viola tersenyum cerah ketika nama Emran tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, si perempuan ular itu segera menjawab panggilan dari Emran.
“Kurang ajar! Berani-beraninya kamu menyuruh preman untuk menculik istriku!” seloroh Emran.
“Preman? Maksud kamu apa sih?” Viola pura-pura tidak mengetahui apa yang sudah terjadi dengan Amara.
“Kamu gak usah pura-pura seperti itu. Orang suruhanmu saat ini sudah mendekam dipenjara. Bersiaplah sebentar lagi polisi akan menyeretmu juga!” tekan Emran. Dia lalu mematikan panggilannya.
Viola terlihat ketakutan dengan ancaman Emran. Pasalnya, CEO tampan itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Apa lagi orang-orang suruhannya sudah berhasil dibuat mendekam di penjara.
“Mami gimana ini?” tanya Viola panik kepada Tasya.
Tasya yang masih jengkel dengan Viola akhirnya ikut angkat bicara. “Kenapa semua jadi seperti ini sih?” gerutu Tasya.
“Aku gak mau di penjara, Mam.”
“Kamu kira mami mau di penjara?” timpal Tasya. “Sebaiknya kita cari tempat persembunyian yang aman,” lanjutnya.
***
Sementara itu, di sebuah kamar mewah Amara terlelap dalam tidurnya. Wajah perawat cantik itu terlihat sangat lelah, membuat Emran merasa semakin bersalah. Diusaplah wajah cantik sang istri. “Sayang, maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik,” ucapnya lirih seraya mendaratkan kecupan di kening Amara.
‘Apa sebaiknya Amara tidak usah bekerja? Aku tidak ingin hal ini terjadi lagi,’ gumam Emran dalam hati. Tetapi Emran juga tidak mau jika impian Amara menjadi seorang perawat harus terputus. Menurut Emran ini situasi yang sangat sulit untuknya.
“Sayang,” panggil Amara.
Emran yang sedang berdiri di depan jendela dengan cepat memutar tubuhnya saat mendengar panggilan dari sang istri. “Sayang, kok sudah bangun?” tanya Emran seraya melangkahkan kakinya mendekati Amara.
“Perutku terasa lapar,” ucap Amara seraya mengelus perutnya. Dia lupa kalau sejak tadi siang belum makan.
__ADS_1
Dengan sigap Emran menawarkan kepada Amara. Dia mau makan masakan Bi Ijah atau ingin dipesankan melalui ojek online. Emran lalu memesan makanan karena sang istri sedang ingin makan sate kambing.
Sembari menunggu pesanan datang, Amara memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Sementara Emran, masih terus memikirkan rencananya untuk menyuruh Amara berhenti bekerja. Jika nanti Amara berhenti bekerja, dia harus menyiapkan aktivitas lain untuk Amara. Tentunya aktivitas itu masih berhubungan dengan dunia kesehatan.
Setelah menunggu sekitar 30 menit, akhirnya pesanan mereka datang. Amara tersenyum cerah saat melihat sate kambing sudah terhidang di meja makan. Entah apa yang membuatnya bersikap seperti itu. Atau jangan-jangan ... ah, tidak mungkin! Mereka, ‘kan baru menikah sekitar dua mingguan.
Amara sangat lahap menyantap sate kambing pesanannya. Membuat Emran tersenyum kecil. Dia sengaja tidak mengajak Amara bicara karena sang istri tampak sangat menikmati makanannya. Saking semangatnya, hanya dalam hitungan menit Amara sudah menghabiskan sepuluh tusuk sate.
“Kenyang sekali,” ucap Amara setelah meneguk minumannya. Seketika pipinya berubah menjadi kemerahan saat mengetahui Emran menatapnya seraya tersenyum. Dia merasa malu karena terlihat sangat rakus.
“Kok gak dihabiskan, Sayang?” tanya Emran.
“Aku sudah kenyang. Maaf ya, Sayang. Aku rakus banget,” ucap Amara. Dia merasa tidak enak dengan suaminya.
Emran menggelengkan kepala. “Aku sangat senang jika kamu menikmati makanan yang aku berikan seperti tadi. Itu tandanya kamu menghargai pemberianku,” beber Emran agar sang istri tidak malu.
“Sayang, aku ingin berbicara serius,” ucap Emran setelah menyerut es cokelatnya.
“Bicara apa, Sayang?” tanya Amara seraya memasukkan brownies kering ke dalam mulutnya.
Emran mulai memberitahu bahwa dia tidak ingin hal buruk kembali terjadi kepada istrinya. Dia ingin Amara berhenti bekerja di rumah sakit. CEO tampan itu memberikan pengertian bahwa bekerja di rumah sakit sangat berisiko untuk Amara.
“Jika kamu melarangku bekerja, maka aku akan menurutimu, Sayang,” ucap Amara seraya tersenyum. Senyuman itu sedikit tidak tulus, wajar saja hal itu dilakukan oleh Amara. Selain menjadi perawat adalah impiannya sejak kecil, dia juga teringat akan perjuangannya untuk menyelesaikan kuliah keperawatan tidak lah mudah. Dia sering merasakan lapar karena uang sakunya ditabung untuk biaya kuliah. Dia juga sambil berjualan dibantu oleh neneknya. Perjuangan Amara saat itu luar biasa. Wajar saja jika berhenti menjadi perawat sangat berat untuknya.
“Sayang, kamu tidak perlu sedih. Aku tidak melarangmu untuk tetap menjadi perawat. Aku hanya melarangmu bekerja di rumah sakit. Jika kamu mau, aku akan membuatkan kamu klinik agar kamu tetap bisa menjadi perawat di tempatmu sendiri,” jelas Emran.
“Kamu serius, Sayang?” tanya Amara penuh antusias.
__ADS_1
“Serius, Sayang. Aku akan membuatkanmu klinik agar kamu bisa praktik sendiri. Dengan memiliki klinik sendiri, kamu bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Atau mungkin kamu ingin aku buatkan rumah sakit?” tanya Emran.
“Tidak, Sayang. Lebih baik klinik saja dulu. Kita mulai dari yang paling terkecil,” jawab Amara. Dia sangat bahagia. Pasalnya memiliki klinik adalah salah satu impiannya. Dengan memiliki klinik sendiri, dia bisa memberikan pengobatan gratis untuk pasien yang sekiranya tidak mampu membayar.
“Terima kasih, Sayang.” Amara memeluk Emran. Butiran bening menetes dari pelupuk matanya. Dia tidak menyangka kehidupannya akan berubah drastis seperti ini, mengingat dia terlahir dari keluarga yang sederhana.
Emran lalu menghubungi Sony untuk mengurus pembuatan klinik Amara. Tak lupa dia meminta orang kepercayaannya itu untuk mencarikan tempat yang strategis agar nantinya klinik Amara ramai. Emran juga berpesan agar proses pembuatannya dipercepat, tidak masalah jika harus membayar banyak tukang bangun yang terpenting klinik Amara cepat selesai.
Setelah membicarakan mengenai rencana pembuatan kliniknya. Amara dibantu oleh sang suami membuat surat pengunduran diri kepada rumah sakit tempat dia bekerja. Meskipun salah satu impian terbesar Amara akan terwujud, dia masih tampak sedih karena harus berpisah dengan teman-teman sejawatnya. Ya, di rumah sakit itulah Amara menemukan keluarga baru yang sangat peduli dan menyayanginya.
Tak lupa malam itu Amara menghubungi sahabatnya untuk menyampaikan bahwa besok dia akan berhenti dari pekerjaannya.
“Amara, kamu serius mau resign?” tanya Juwita. “Kalau kamu resign, aku gimana dong?” lanjutnya. Juwita sedih karena sahabatnya yang sudah dianggap sebagai saudara akan berhenti bekerja.
“Kamu jangan sedih, meskipun aku tidak bekerja di sana. Kita tetap bisa main bareng kok,” ujar Amara kepada sahabatnya yang berada di seberang sana. Meskipun dia sendiri juga sedih karena harus berpisah dengan Juwita.
“Kenapa kamu berhentinya mendadak gini sih?” tanya Juwita.
Amara lalu mengatakan bahwa nanti jika ada waktu bertemu, dia akan menceritakan semuanya kepada Juwita. Bicara melalui telepon tidak senyaman jika bertemu langsung.
Obrolan dua sahabat itu tidak berlangsung lama karena Emran memanggil Amara.
*
*
Bersambung.
Jangan lupa like, coment, vote, dan beri bintang 5 ya kakak 🥰🤗
__ADS_1
Oh iya, Author juga mau rekomendasiin novel bagus nih, Kak. Bisa dibaca sambil nunggu Author up bab selanjutnya.