Perisai Hati 2

Perisai Hati 2
11. Terbuka kasus.


__ADS_3

"Ayolah Bang..!! Tolong Nai..!!"


"Memangnya siapa pacarmu itu??" Tanya Bang Igo.


"Bang Fahrul."


Kening Bang Igo berkerut. "Fahrul siapa?"


"Prada Fahrul Anam."


Bang Igo menyeringai. "Jangankan melawan, mencolekmu saja dia tidak akan mampu." Jawab Bang Igo.


"Abang jangan sombong dan sesumbar, dia itu kalau sudah ada maunya nggak bisa di tolak." Kata Punai.


"Abang nggak takut."


"Ingat pangkat Abang..!!" Punai mengingatkan dengan wajah serius.


"Apa sangat bermasalah??" Tanya Bang Igo.


"Abang bisa di jungkir..!!!!!" Berapi-api Punai mengingatkan karena Bang Igo sama sekali tidak takut.


Bang Igo menepuk dahinya. "Lailaha Illallah.. bagaimana jadinya kalau Bang Thomas tanya soal kepangkatan??" Gumam Bang Igo. "Kamu ini anak perwira tapi tidak tau pangkat. Selama ini kamu kemana saja dek?? Belajar apa saja selama delapan belas tahun hidup di dunia?????" Tak habis pikir Bang Igo dengan cueknya sang istri tentang kepangkatan.


"Nai khan hanya anaknya Bang, bukan tentara. Untuk apa Nai harus tau?? Memangnya Nai ikut perang??" Jawab Nai.


Jadi Bang Igo langsung menyentil kening Punai. "Sudah salah, masih ngotot pula."


"Salahnya dimana? Dulu waktu Papa bertemu Pakde panglima.. Papa masih bilang 'siap komandan'. Berarti Papa juga anggota..!!"


"Begini ini nih yang buat Abang kena sikap tobat. Belajar lagi kamu..!!!" Ucap tegas Bang Igo.


***


Bang Igo menemui Bu Yani dan Rida di sel tahanan kota. Bu Yani sangat marah pada Bang Igo terutama Yani yang merasa terkhianati.


"Kamu menipuku dan kamu berselingkuh Bang..!!"

__ADS_1


"Saya tidak selingkuh. Nai memang istri saya. Istri sah saya..!!" Jawab Bang Igo.


"Jadi kamu memacariku hanya untuk menjebakku??" Teriak Rida.


"Kamu yang telah menjebak istri saya untuk masuk pusaran obat-obatan terlarang. Kamu dan ibumu adalah bandar lama yang sudah menjadi target operasi kami karena kamu sudah menyasar hingga menyuplai benda tersebut pada para anggota. Jadi terimalah hasil kerja kerasmu..!!!!!" Ucap Bang Igo.


Papa Ricky mengintip hasil kerja putranya. Wajahnya datar saja, ia masih mencemaskan menantunya. Sampai saat ini Papa Ricky takut Bang Igo akan menyia-nyiakan Punai.


:


"Jangan Jak..!!! Kalau aku bawa Nai ke pihak POM. Nai pasti ketakutan..!!" Tolak Bang Igo.


"Tapi kami butuh keterangan Go." Kata Bang Rojak.


"Tindakan ini sangat beresiko. Selain aku membongkar rahasia istriku, aku pasti akan membuatnya trauma..!!" Perdebatan itu masih sangat panjang.


"Begini Go.. aku harap kamu pahami.. kami pun punya kode etik dalam pekerjaan. Kami tidak akan menyebar luaskan informasi apapun keluar. Aku yang akan menjamin semua..!!" Janji Bang Rojak.


"Aku ikut..!! Punai pasti takut Jak..!!" Bang Igo mengulang ucapannya lagi.


...


"Untuk seusia mu, seharusnya kamu paham hal ringan seperti ini..!!" Penyidik terus menguak keterangan dari Punai.


Bang Igo sampai terbawa emosi karena team penyidik begitu memojokkan Punai. "Apa dengan pertanyaan seperti itu kalian bisa mendapatkan segala informasi???" Bentak Bang Igo. "Kalian harus menyesuaikan segala tindakan dengan lawan bicara..!!"


"Tenang Go..!!" Bang Rojak mengusap lengan littingnya agar tidak terus terbakar amarah. "Tolong ganti penyidik yang lain. Sepertinya Letnan Igo tidak berkenan dengan penyidikan ini..!!" Perintah Bang Rojak pada anggotanya.


"Saya sendiri yang akan menanyai Punai. Itu pun dengan cara saya.. silakan pasang alat penyadap dan tinggalkan kami berdua saja di ruangan ini..!!" Sorot mata Bang Igo sungguh tegas dalam suara lirih penuh penekanan.


Tak hanya Papa Hara yang mengawasi dari jauh. Papa Ricky pun ikut turun tangan melindungi sang menantu meskipun tanpa membongkar rahasia identitas Punai.


~


"Nai mau pulang..!!"


"Sabar lah, memangnya kamu nggak capek nangis terus??" Bang Igo mengambilkan tissue untuk Punai.

__ADS_1


"Kalau Nai tau awalnya permen itu sangat berbahaya dan itu artinya psikotropika, Nai pun nggak akan mau. Sekarang Nai sudah suka sama obat itu.. kalau dalam dua hari Nai nggak makan permen itu, badan Nai sakit. Nai jadi nggak bisa mikir."


"Lagaknya mikir. Ikan Cithul saja mau mikir apa?" Ledek Bang Igo dengan sengaja.


"Waktu itu Nai takut nggak lulus ujian, jadi Nai butuh obat itu biar nggak tidur"


"Abang mau lah obat itu, kalau anggota yang beli khan aman." Jawab Bang Igo.


"Aman apanya Bang? Tentu semua sangat rahasia dan ada kodenya.. 'beli permen' atau beli 'rasa strawberry' baru bisa dapat."


"Laaah.. itu kamu tau kalau bahaya?"


"Nai bukan takut bahaya, tapi takut kehabisan permen." Polos Nai menjawab pertanyaan Bang Igo.


"Apa kamu tau, siapa saja yang terlibat dalam pembelian barang haram tersebut?" Tanya Bang Igo.


"Abang jangan sengaja memancing Nai ya, Nai nggak akan bilang kalau beberapa orang disini pernah beli disana." Jawab Nai.


Bang Igo menyimpan senyumnya. "Nggak ada lah anggota Abang yang begitu." Bang Igo membuka galeri foto anggota.


"Iiihh Abang jangan sok tau ya, Nai bisa tunjuk wajahnya." Kata Nai serius.


"Kamu mana hapal. Ikan Cithul saja, daya pikirnya cethek. Mana mungkin ingat wajah di antara ratusan anggota." Ejek Bang Igo mencibir lalu dengan sengaja meletakkan ponselnya di atas meja.


Mata Punai memicing. "Itu Bang, orang itu juga beli..!!" Tunjuk Nai pada sebuah foto di galeri.


"Ngawur..!!"


"Nggak Bang.. iihh yang ini juga..!!" Pekik Punai.


Bang Igo pun mengambil HTnya. "Catat..!!! Sertu Miskun.. Pratu Doglas.. Praka Elias.........!!!!!"


Papa Ricky pun tersenyum mendengar cara putranya membujuk sang istri yang lugu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2