
Punai merasa lega karena tidak ada lagi pertanyaan yang membuatnya ketakutan. Tanpa di duga, Rida berlari dan menarik tangan Punai.
"Kau wanita licik, wanita ular.. beraninya kamu menjebakku dan merebut calon suamiku..!"
Mengagetkan saat itu Nai langsung menggigit tangan Rida. "Masih calon saja sudah sombong. Saya malah sudah jadi Nyonya Galigo. Kamu mau apa???" Ucap Punai lantang membungkam mulut semua orang tak terkecuali Bang Igo yang masih ternganga.
"Benarkah itu Bang?" Tanya Rida dengan wajah syok..!!"
Mata Punai melirik penuh ancaman membuat nyali Bang Igo seketika ciut.
"Iya, Abang sudah menikah sama Nai." Jawab tegas Bang Igo.
Rida marah dan hendak menampar Bang Igo tapi lagi-lagi Nai menggigit tangannya hingga Rida berteriak-teriak.
"Dasar perempuan gila..!!" Pekik Rida.
"Gilaku tidak menganggu orang, tapi setidaknya.. aku tidak gatal" seringai Punai.
"Aaaaaaaaaaa.....!!!!!!" Rida berteriak sekencang-kencangnya tapi Nai melenggang tak peduli lagi.
"Ijin Ibu, bersedia saya antar??" Tanya Sertu Danu.
"Nggak Om. Saya punya sopir pribadi..!!" Jawab Punai dengan wajah kesal. "Cepat jalannya Bang..!!"
Bang Igo mempercepat langkahnya. Ia pun mati kutu. Baru kali ini dirinya tidak berani berkutik saat menerima perintah dan aura horror itu melebihi titah panglima.
~
Plaaaakk..
"Kenapa harus pacaran sama perempuan sok cantik itu??? Abang sakit mata, dandanan seperti wewe gombel begitu???"
"Sudah donk dek, lengan Abang sakit nih..!!" Bang Igo mengusap lengannya yang sedari tadi terkena patil istri kecilnya. "Memangnya kamu cantik??" Tanya Bang Igo.
Plaaaakk..
"Kalau tidak cantik, kenapa Abang bisa menikahi Nai?"
__ADS_1
"Abang terpaksa dan di paksa. Mana mau juga Abang sama perempuan galak, pendek, bawel, 'aset' hanya sebesar tutup cangkir.. apa kamu kira sudah cukup menggoda Abang???" Jawab Bang Igo.
"Ter_se_rah..!! Yang penting Nai perempuan..!!" Nai pun menatap indahnya alam sekitar.
"Mana buktinya?? Modelan begini pasti perempuan jadi-jadian. Kalau Abang sudah jelas..!!" Bang Igo memberi kode mata menunjuk senjata api miliknya.
"Nai juga ada, tapi rahasia dan nggak akan pernah Nai tunjukan sama om-om mata keranjang seperti Abang..!!" Ucap ketus Punai.
"Oya??? Cckk.. sayang sekali. Padahal Abang penasaran." Bang Igo memasang wajah sedihnya padahal dalam hati terbahak tak karuan melihat wajah tegas Punai yang sarat akan kemenangan dan percaya diri.
"Simpan saja rasa penasaran itu...!!"
\=\=\=
Sejak kejadian itu, Bang Igo dan Punai menjalani hari-hari layaknya seorang sahabat yang saling menolong namun juga sahabat dekat yang penuh dengan perdebatan mewarnai di setiap hari mereka.
"Nanti Abang pulang cepat, ada tukang bangunan mau memperbaiki dapur." Kata Bang Igo yang memilih menyantap roti dan selai nanas karena rasa 'sayangnya' pada sang istri, dirinya benar-benar meminta Punai untuk tidak memasak. Atau jika tugasnya tidak banyak, dirinya juga yang menyiapkan menu makan mereka.
"Iya Bang, kalau gitu Nai bisa lebih lega kalau mau masak." Jawab Nai.
"Abang benahi dapur biar siluman kuda atau siluman kera nggak masuk rumah kita, bukannya agar kamu bisa leluasa memasak. Sayang kulitmu nanti berdaki." Alasan Bang Igo padahal Punai masak air tidak sampai hangus pancinya saja sudah lebih dari cukup.
"Bawa saja. Abang nggak lama di Batalyon. Hanya apel pagi saja."
...
Nai gelisah, matanya sampai melotot memperhatikan layar laptop. Sejak tadi dirinya terpaku menonton drama yang membuatnya panas dingin.
"Assalamu'alaikum...!!" Terdengar suara Bang Igo pulang dari apel pagi. "Dek.. Abang pinjam laptop sebentar..!! Ada pekerjaan nih..!!"
"Wa'alaikumsalam.." Punai begitu gugup dan langsung bangkit dari posisinya. "Ii_ya Bang, sebentar..!!"
Secepatnya Punai membuka pintu kemudian menyerahkan laptop itu pada Bang Igo.
"Kamu kenapa?? Sakit??" Bang Igo menerima laptop tersebut setelah sekilas melirik Punai.
"Ng_gak.." Punai pun kembali masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Bang Igo menggeleng tapi kemudian melanjutkan tugasnya.
:
"Laaahh.. perasaan satu minggu ini aku nggak buka film action. Kenapa di histori nya full film action??" Gumam Bang Igo tapi kemudian mengabaikannya.
"Ijin Dan"
"Kenapa Rul?" Bang Igo menjawab Prada Fahrul.
"Ijin.. baja ringan nya kurang Dan" lapor Prada Fahrul.
"Nanti saya telepon penjaga toko bangunan." Jawab Bang Igo kemudian mengambil ponselnya. Sifat usilnya pun muncul. "Dek.. tolong ambilkan kaos Abang donk..!!" Pinta Bang Igo.
Tak lama Punai ke arah dapur membawakan kaos milik Bang Igo. Betapa terkejutnya Punai melihat Bang Fahrul dan hal yang sama pun terjadi pada Bang Fahrul.
"Terima kasih sayang..!!" Bang Igo mengecup sekilas bibir Punai.
Ingin rasanya Punai marah tapi dirinya tidak bisa berbuat apapun. Ia takut Bang Fahrul akan marah dan menghajar Bang Igo karena sifat Bang Fahrul begitu pemarah. "I_ya Bang"
Di tempat itu juga Bang Igo membuka kaos loreng dan menunjukan dada bidangnya di hadapan Nai. "Kenapa lihat Abang begitu? Kangen ya?" Masih sempatnya Bang Igo mencolek dagu Punai. "Sabar.. di tabung kangennya buat nanti malam" ucap Bang Igo terkesan menggoda Punai.
"Mohon ijin Dan.. saya kerjakan tugas yang lain." Pamit Prada Fahrul.
Bang Igo masih melebarkan senyumnya. "Silakan"
Sesaat setelah Prada Fahrul pergi, senyum itu pun hilang, berubah menjadi wajah datar penuh ancaman. "Codhot..!!" Umpat Bang Igo kemudian menekan nomer telepon toko bangunan.
"Bang..!!" Punai mencolek pinggang Bang Igo.
Ekor mata Bang Igo meliriknya. "Kenapa nih? Tumben nyolek Abang??" Tanya Bang Igo sedikit curiga.
.
.
.
__ADS_1
.