Perisai Hati 2

Perisai Hati 2
22. Cinta cukup di rasa.


__ADS_3

"Dimana Bang Murai? Abang mengusirnya?" Tanya Punai.


"Siapa yang usir Abangmu? Dia cari makan sekalian ada pertemuan dengan rekan yang lain." Jawab Bang Igo kemudian melepas seragamnya.


"Apa salah kalau Nai rindu sama Abang sendiri." Wajah Nai sudah mendung membendung air mata.


Hati Bang Igo tidak tega melihat Punai terlihat sangat ingin dengan Bang Murai. Ia pun segera mengambil ponsel dari sakunya. "Rai.. kesini donk..!! Sebentar saja..!!" Pinta Bang Igo.


...


Bang Murai juga terlihat sangat sedih melihat repotnya Bang Igo mengurus mual dan muntahnya bumil.


"Apa setiap hari selalu seperti ini?" Tanya Bang Murai.


"Adikmu sedang ngidam sekaligus sakau. Alhamdulillah kali ini tidak seberapa karena beberapa waktu ini aku memberinya terapi, tapi sayang adikmu membuang sisa obatnya padahal perjuangan ini tidak lama lagi." Jawab Bang Igo.


"What???? Kenapa tidak ada yang mengabariku kalau Nai terkena lingkar hitam." Bang Murai terdengar sangat kecewa mendengar apa yang terjadi pada adiknya.


"Kemarin kamu masih dalam tugas berat, kami tidak mungkin mengabarimu hal seperti ini." Kata Bang Igo kemudian membantu menenangkan Nai. "Kamu keluarlah dulu..!! Aku mau memandikan Nai, apa kamu mau ikut juga?"


"Maksudmu?????? Aku ini abangnya..!!"


"Kamu memang Abangnya, tapi Nai bukan gadismu seperti yang dulu. Sekarang Nai gadisku..!!!" Bang Igo menekankan kata terakhirnya.


"Haaaaaa.. oohh.. oke.. aku keluar..!!" Bang Murai keluar dari kamar mandi dan membiarkan Bang Igo merawat adik perempuannya.


:


Terdengar suara Nai berteriak berontak.


"Nai.. sayang, mana yang sakit dek. Pukul Abang saja, jangan sakiti tubuhmu..!! Lampiaskan semua sama Abang sesuka hatimu..!!" Bujuk Bang Igo.


Bang Murai hanya bisa menggenggam jemarinya dengan kuat, batinnya tak tahan membayangkan apa yang terjadi pada Nai selama ini.

__ADS_1


"Aaaaaaaa... Nai mau permen itu..!!!!" Teriak Nai.


"Iyaa.. sabar ya sayang..!!"


:


"Sini aku obati lukamu..!!" Bang Murai membawa kotak obat di tangannya. Ia melihat Bang Igo merapikan rambut Punai usai menggantikan pakaiannya.


"Memangnya aku ini bocah pakai di obati segala?" Bang Igo menghindari sahabatnya menutup luka cakaran dan gigitan di tangan sampai lengannya.


"Apa Nai selalu brutal?"


"Nggak pernah, baru kali ini saja karena obatnya hilang. Alhamdulillah juga ini nggak parah." Masih sempatnya Bang Igo membenahi jambulnya yang juga basah karena 'mandi' bersama Nai.


"Ya Allah." Bang Murai sampai terduduk lemas di ranjang Bang Igo. "Aku akan mengajukan pindah tugas kesini..!!"


"Aku hanya BP saja. Belum ada skep penugasan." Kata Bang Igo.


"Terserah aku, Nai khan istriku. Lelaki beristri sangat bahaya kalau tidak membawa istrinya kemana-mana." Jawab santai Bang Igo.


"Setan bener lu ya, dalam keadaan genting begini masih sempat-sempatnya lu mikir donat." Gerutu Bang Murai.


"Aku jujur bro.. nggak munafik kalau aku memang nggak kuat jauh sama istri."


Bang Murai tersenyum mendengarnya.


"Ngomong-ngomong.. kenapa kamu nggak memutuskan cari istri saja? Minimal ada hiburan setelah pulang kerja. Daripada nonton film nggak jelas setiap hari."


"Aku nggak percaya lagi sama namanya perempuan. Malas mikir perempuan..!!"


"Jangan begitu, kalau niatmu tulis, segala rasa takutmu pasti terpatahkan. Jujur awalnya aku pun begitu saat menikahi Nai, tapi setelah aku menjalaninya.. rasa dari Tuhan memang sangat istimewa."


"Haalaaaahh.. aku malas bicara pernikahan. Sekarang saja Papa ingin aku menikahi Astria."

__ADS_1


"Anaknya Om Yosh?????"


"Iyaa."


"Ya Tuhan, kelakuannya nggak banget." Bang Murai sampai mengusap wajahnya.


"Laahh.. sebelas dua belas sama si Nai lah. Susah di atur. Cuma adikmu ini memang tidak ada duanya bikin jantungku copot..!!" Jawab Bang Igo.


"Menurutmu apa aku harus menikahi dia?"


Ddrrtttt.. ddrrtttt...


Sejenak terpana Bang Murai melihat nama di layar ponselnya. Ia malas melihatnya tapi harus menjawabnya.


"Kenapa?" Tanya Bang Murai.


"Kapan Abang pulang? Tria hamil.. Tria takut Papa marah." Jawab Astria tanpa basa basi.


"Astagfirullah hal adzim.. serius ini dek?????" Mata Bang Murai sampai terbelalak saking kagetnya.


"Nah lhoo.. m****s..!! katanya nggak suka, nggak mau tapi ada si cebong nyemplung di empang." Ledek Bang Igo.


Bang Murai melirik Bang Igo dengan cemas. "Sabar dek, Abang besok sudah sampai di sana. Nanti Abang yang bilang sama Papa. Sabar ya tunggu Abang..!!" Janjinya sembari menjawab Astria.


"Hhkkk.." Bang Igo mengusap perutnya, rasa-rasanya ada rasa mual menyerangnya kembali. "Ya Allah.. tolong jangan buatku mual. Siapa yang akan jaga Nai?" Gumamnya berusaha menstabilkan dirinya beradaptasi dengan tubuh yang mulai rewel.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2