Perisai Hati 2

Perisai Hati 2
14. Hasilnya.


__ADS_3

Sudah beberapa waktu ini Nai aktif dalam kegiatan sosial keanggotaan. Seperti pagi ini Nai pun mengikuti kegiatan di Batalyon namun dirinya lebih banyak diam dan duduk.


"Kamu kenapa dek?" Tanya Mbak Fifin Thomas, istri Danyon.


"Perut Nai sakit Mbak, seperti ada yang meremas." Jawab Nai.


"Minum teh hangat ya, mbak ambilkan." Mbak Fifin langsung menuju container teh hangat dan mengambilkan untuk Nai.


"Terima kasih Mbak." Nai pun menerimanya dengan tangan bergetar.


"Kamu belum makan ya dek?" Kata mbak Fifin jadi cemas.


"Sudah mbak, Abang masak nasi goreng."


"Oohh.. Om Igo pandai masak ya?" Mbak Fifin pun mengusap punggung tangan Punai. "Tanganmu hangat, kamu lemas sekali lho dek..!!"


"Nai nggak apa-apa mbak."


~


Siang itu Nai masih bisa presentasi hasil kerja untuk kegiatan ketahanan pangan di Batalyon. Sesekali dirinya memegang tepi meja untuk menyangga tubuh.


Beberapa saat kemudian Danyon masuk ke dalam ruangan dan saat itu pula rasa mual yang sangat hebat begitu mendera Punai.


"Hhkk.." Nai menutup mulutnya. "Maaf, saya mohon ijin undur diri..!!" Ucapnya kemudian berlari.


Danyon terbelalak melihat istri Lettu Igo berlari keluar ruangan. "Kenapa istri Igo melihatku sampai mual Ma?"


"Mama sudah bilang sama Papa. Untuk apa beli parfum wangi Cendana. Papa niat pakai parfum atau niat ngepet??" Gerutu Mbak Fifin kemudian menyusul Punai.


"Dasar wanita nggak berseni. Ini khan wangi" gumam Danyon.


~


"Ya ampun dek..!!" Mbak Fifin berteriak di dalam toilet saat dirinya tertimpa tubuh Nai yang tiba-tiba pingsan. "Tolooooong..!!!" Teriak mbak Fifin.


Tepat saat itu Om Fahrul lewat di sekitar toilet. "Ijin ibu.. ada yang bisa saya bantu???" Tanya Om Fahrul.


"Oomm.. tolong panggilkan Letnan Igo. Istrinya pingsan..!!"


"Siap Ibu..!!" Om Fahrul pun berlari kesana kemari sampai akhirnya menemukan Bang Igo yang sedang memanggul cangkul di pundak.


"Ijin Dan........." Om Fahrul menata nafas yang masih ngos-ngosan.


"Ada apa??" Tanya Bang Igo.

__ADS_1


"Ibu pingsan Dan" jawab Om Fahrul.


"Istri saya??????"


"Siap Dan."


Tanpa pikir panjang Bang Igo membuang begitu saja cangkul di pundaknya hingga mengenai kaki Bang Unggar. "Ya Allah Igooooo.. matamu dimana sih????" Teriak Bang Unggar jengkel.


Bang Igo tak peduli apapun lagi, ia terus berlari menuju toilet.


~


"Deekk.." Bang Igo masih berusaha menyadarkan Punai di bawah sebuah pohon yang rindang sampai petugas kesehatan memberi istrinya oksigen hingga sadar. "Alhamdulillah.." refleks Bang Igo memeluk Nai dengan erat.


"Baaang.. Nai sesak..!!" Nai mendorong Bang Igo meskipun semuanya hanya sia-sia belaka.


"Merepotkan kamu ya, bisa-bisanya pingsan. Berat nih..!!" Kata Bang Igo menutupi rasa cemasnya.


"Eegghh.." Nai meremas perutnya sekuat tenaga.


"Om.. sejak tadi Nai bilang perutnya seperti di remas." Kata mbak Fifin.


"Biar saya bawa ke rumah sakit. Terima kasih Mbak."


"Saya ikut..!!" Imbuh Danyon.


"Perut Nai sakit Pa.. Gara-gara Abang??" Nai mengadu pada Papa Hara.


"Abang Igo buat apa?? Biar Papa hajar..!!!!" Papa Ricky tersulut emosi melihat menantunya mengadu kesakitan sampai menangis.


"Sabar Bang, kita tanya pelan-pelan apa yang terjadi..!!" Papa Hara melunakan hati Papa Ricky yang bersumbu pendek sama seperti Bang Igo.


"Sabar bagaimana???? Nai pasti sudah dapat kekerasan..!!" Jawab Papa Ricky.


Punai pun mengangguk. "Iya Pa, Abang terlalu keras pukul Jessi.


"Jessi???? Jessi siapa??? Bang Igo punya perempuan lain??????" Suara Papa Ricky sampai meninggi. "Benar-benar nggak ada tobatnya. Bikin malu. Apa gunanya dia jadi laki-laki..!!!!!" Papa Ricky mengepalkan tangan.


"Itu Pa, katanya Abang gemas. Jessi khan sembunyinya di tempat yang dalam, jadi Jessi yang nakal di pentung sama Abang biar kapok..!!" Jawab Punai tanpa ada yang ditutupi sedikit pun.


Tak pelak mulut kedua Papa yang terbuka jadi mengatup rapat. Wajah para Papa merah padam dan saling membuang wajah entah malu atau sedih mendengarnya.


"Anak dungu.. kenapa bisa ajarin Nai istilah bodoh begitu, kenapa tidak di ajarkan saja dengan lembut" gumam Papa Ricky.


Tak lama terlihat Bang Igo masih panik berlari kesana kemari sampai bertemu dengan Bang Adam. "Astaga Dam.. bisa nggak sih kamu berhenti di ruangan mu saja???? Nai pingsan lagi, kira-kira kenapa?????"

__ADS_1


"Aku ini dokter, bukan costumer service yang berdiri di depan rumah sakit." Jawab jengkel Dokter Adam. "Kertas apa nih?? Ini khan ada penjelasannya." Dokter Adam menyambar kertas di tangan Bang Igo kemudian membacanya.


"Aku hanya tau istilah perang, nggak tau istilah kedokteran."


Dokter Adam mengembalikan lagi kertas tersebut. "Goo... Goooo.. lu memang benar-benar go**ok.. kalau lu sempatkan baca, lu nggak akan buang banyak waktu hanya untuk lari-lari. Ini khan jelas Nai positif." Ucap dokter Adam.


Bang Igo sampai terhuyung saking syoknya. Matanya berkaca-kaca kemudian terpejam tak menyangka si calon bayi kecilnya akan datang secepat ini sebelum dirinya tuntas mengajari banyak hal pada sang istri. "Alhamdulillah..!!" Ia mengusap usap dadanya. "Thanks, aku mau lihat keadaan Nai dulu..!!"


~


cckkllkk..


Pintu kamar rawat itu terbuka. Mata Papa Hara, Papa Ricky dan Danyon menatap wajah Bang Igo bagai terdakwa utama kasus pidana.


"Kenapa menatap wajahku seperti itu, apa aku terlalu tampan??" Tanya Bang Igo.


"Benar tak tau malu kau ya..!!" Papa Ricky mempertajam suaranya tapi sepertinya sang menantu kurang suka dengan suara kencang.


"Paaa.. perut Nai sakit..!!"


Pandangan mata itu beralih pada Punai. Bang Igo pun segera menghampiri istri kecilnya lalu mengecup. "Tujuh bulan lagi, kita jumpa ya sayangku..!! Baik-baik di perut Mama, Papa akan sabar menunggu kamu."


Seketika raut kedua wajah calon Opa berbinar bahagia.


"Kita jadi Opa Bang" teriak Papa Hara.


"Cucuku otw dua, yeeessss..!!!!" Papa Ricky tak kalah hebohnya sampai berjingkrakan bersama Papa Hara.


"Pa_paaaa.. Nai mau muntah..!!" Nai menutup mulutnya.


"Opa-opaaa.. tanpa mengurangi rasa hormat, tolong tenang. Calon cucu opa ini sensitif..!!" Pesan Bang Igo.


Kedua Opa pun saling merangkul dan memilih keluar ruangan. Danyon tak bisa menanggapi apapun, hanya kikikan geli melihat keluarga aneh tersebut.


"Bang, mana mobil sportnya?" Tagih Punai.


Bang Igo mengusap pipi sang istri. "Mau merk apa? Warna apa?" Tanya Bang Igo.


"Abang punya uang??" Mata Punai sampai terbelalak.


"Abang pertaruhkan NRP" jawab Bang Igo singkat.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2