Perisai Hati 2

Perisai Hati 2
20. Pusing sendiri.


__ADS_3

"Main di dalam hutan khan enak."


"Nai nggak mau tersesat di hutan." Jawab Nai.


"Nggak akan tersesat kalau sama Abang." Bang Igo kembali menyodorkan tangannya.


Wajah Nai tersipu malu namun menyimpannya rapat di dalam hati. Ia segera meraih tangan Bang Igo untuk menutupi rasa malunya.


...


Takut Punai akan merasakan mual di dalam pesawat, maka Bang Igo meminta tempat khusus pada crew pesawat dan dirinya membuat senyaman mungkin untuk sang istri.


Beberapa jam dalam perjalanan, Bang Igo merasa tenang karena tak ada hal yang mengkhawatirkan terjadi selama dalam perjalanan.


"Kamu nanti langsung istirahat saja di barak. Besok pagi baru bertemu lagi. Nanti biar mudi kompi yang bantu saya..!!" Perintah Bang Igo pada Prada Fahrul.


"Siap Dan..!!"


Hingga saat ini Bang Igo masih tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya mengingat Fahrul adalah kekasih Punai, lebih tepatnya 'mantan' karena saat ini Punai sudah menjadi istrinya.


:


Seluruh yang ada dalam pesawat sudah turun dan semua sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Mohon ijin Dan, bisa minta tolong istrinya untuk di bangunkan..!!" Kata salah seorang crew pesawat karena melihat Punai masih tertidur di ranjang khusus pasien.


"Nanti saja..!! Saya mau urus semua barang..!!" Jawab Bang Igo.


"Ijin Dan.. Tapi semua sedang sibuk..!!"


"Saya bukannya tidak tau prosedur. Barang ada di sebelah kanan. Istri saya tidur dan tidak mengganggu jalannya lalu lalang anggota..!!" Nada suara Bang Igo mulai meninggi.


Crew tersebut bersiap menjawab tapi Bang Igo sudah terlanjur emosi.


"Istri saya hamil muda, tidak tahan perjalanan jauh...!!"


Suara Bang Igo membuat Punai terbangun, ia mengerjab dan benar saja. Kepala Punai terasa berputar-putar.


"Baaang..!!" Punai meraba-raba sekitar mencari Bang Igo.

__ADS_1


Bang Igo segera meraih tangan Punai. "Ini Abang, mual ya..!!"


Punai mengangguk, Bang Igo segera membawa Punai turun dari pesawat. Langkahnya pelan tapi matanya masih sempat melirik crew pesawat tersebut.


"Awas kau ya..!!" Gigi Bang Igo sampai bergemeretak kesal mengancam crew tersebut sembari tangannya mengutil korek api yang terlihat di saku celana pria yang mengganggu tidur istrinya.


"Siap salah Dan."


~


Bang Igo mengusap bibir Punai. Istrinya hanya bisa bersandar lemas di dadanya karena terlalu banyak muntah.


"Sudah kuat apa belum? Mau lanjut jalan nanti apa sekarang?" Tanya Bang Igo.


"Jangan tidur di hutan Bang, Nai takut di patuk ular..!!" Pinta Punai mulai memberontak menandakan sang istri sudah mulai sehat.


"Kamu nggak dengar Abang bilang apa? Kita tinggal di asrama. Untuk apa kita tinggal hutan??? Memangnya kita mau camping???" Jawab Bang Igo. "Paling juga kamu di sembur peliharaan Abang."


"Memangnya Abang punya apa??" Tanya Nai.


"Ular taipan lah, kamu itu meremehkan sekali."


"Astagfirullah.." Bang Igo menepuk dahinya. Hampir saja bibirnya mati kutu karena keisengan Papa mertuanya mengajari sang putri dalam tanda kutip. "Itu yang di perutmu karena ular taipan." Bang Igo pun terang-terangan menjawab agar Punai sedikit lebih pintar.


Mendengarnya, Punai jadi bersandar gelisah dalam dekapan Bang Igo. Tangannya meremas pakaian seragam Bang Igo menutupi rasa malunya.


"Kenapa?? Pengen di sembur??" Bang Igo pun mengangkat dagu Punai yang tiba-tiba saja menjadi sedikit lebih kalem.


Nai menggeleng malu-malu. "Nai maunya main Tom and Jessi."


Sontak Bang Igo pun tertawa geli. Ternyata kebersamaan mereka telah merasuk jelas dalam ingatan istri kecilnya. Jiwa usilnya pun terbersit saat Prada Fahrul melintas membawa pulsak ke dalam mobil.


"Uluuuhh.. Nggak sabar ya. Kalau begitu cepat kita pulang..!!" Kata Bang Igo dengan sengaja meskipun dirinya tau kelakuannya tersebut sangat tidak pantas di lakukan apalagi dirinya adalah seorang perwira yang banyak mendapat tuntutan untuk menjadi contoh. "Tapi ingat..!!!!! Jangan lapor Danyon atau Abangmu..!!!!!"


"Iyaa.."


:


Bang Igo memejamkan mata dan berpikir keras, dimana kiranya ia meletakan 'obat' penawar untuk Punai. Selama ini dirinya sudah berusaha sekuatnya untuk membuat Punai terlepas dari pengaruh obat-obatan terlarang tersebut.

__ADS_1


"Abang cari apa?" Tanya Punai.


"Vitamin mu."


Kening Punai berkerut mendengarnya. "Yang mana?"


"Warnanya hijau muda. Seperti biasa yang Abang minumkan dua hari sekali." Jawab Bang Igo.


"Oohh.. tadi Nai buang. Karena obatnya sudah remuk. Nai kira obatnya busuk." Kata Nai.


"Lailaha Illallah.. itu sengaja Abang remuk kan." Bang Igo mulai panik karena dirinya sangat membutuhkan obat tersebut untuk membuat keadaan Punai tetap stabil.


"Buat apa? Nai sudah nggak apa-apa." Ucapnya kemudian menatap ke arah jalan.


'Duuh dek, kamu belum terlalu kuat untuk sepenuhnya lepas dari obat. Bagaimana kalau kamu kambuh di tempat yang tidak ada obat seperti itu??????'


"Bang.. itu angkot khan?" Tunjuk Nai pada kendaraan umum yang masih ada di pusat kota. Pick up modifikasi untuk alternatif angkutan desa.


"Iya, kenapa?"


"Nai mau coba naik angkot..!!"


"Jangan.. nanti kamu muntah, angkotnya tidak terarah. Masih ngawur lewat jalan berbatu..!!" Tolak Bang Igo.


"Nggak.. Nai sehat." Kata Nai masih dengan segala keras kepalanya.


"Kalau sampai muntah Abang tinggal ya..!!" Ancam Bang Igo.


"Iya, Nai berani."


"Astagfirullah.. belum sampai tujuan sudah ada saja masalah. Apa ini namanya ngidam?" Gumam Bang Igo.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2