
"Bagi Nai sangat penting."
Mata elang itu menatap wajah Punai. "Banyak pria terjebak dengan kata-katanya, mereka tidak bisa melaksanakan janji manisnya karena terlalu banyak bicara." Jawab Bang Igo.
"Lantas bagaimana dengan Abang?"
"Cinta ya cinta saja, tidak butuh alasan. Kalau kamu pernah merasakan jatuh cinta, kamu tidak akan pernah tau mengapa hatimu terdiam dan berlabuh pada satu sosok yang menarik perhatian mu. Seperti perasaan untuk kamu saat ini." Ucap Bang Igo tak melepaskan pandangan dari Punai.
"Nai tau, Abang cintanya hanya untuk Rida."
Bang Igo pun tersenyum gemas. "Bukan, ada seorang wanita yang sudah mengusik batin Abang........."
"Nikahi saja dia. Kenapa harus menikahi Nai lebih dulu..!!" Sambar Nai.
"Pemarah sekali, suka sekali memutus omongan..!!" Tegur Bang Igo.
"Sama seperti Abang" Punai pun memiringkan badannya dan memalingkan wajah menghindari Bang Igo.
"Galak amat Neng, nanti anak kita jadi preman lho" kata Bang Igo sembari mengusap rambut Punai.
***
"Disana daerah 'panas'. Kamu harus jaga betul istrimu. Papa sudah menyarankan kamu untuk pergi sendiri tapi kamu ngeyel bawa Punai." Papa Ricky tak hentinya menekan Bang Igo.
"Apa Papa mau berpisah dengan Mama walau hanya sedetik saja, apalagi Mama sedang hamil." Balas Bang Igo.
Jawaban Bang Igo langsung mendiamkan Papa Ricky yang memang sangat mencintai Mama.
"Biarkan saya membawa Punai kemana pun saya pergi..!!" Pinta Bang Igo.
"Bawalah, tidak ada yang melarangmu membawamu. Punai sudah menjadi hak milikmu..!!" Jawab Papa Hara.
__ADS_1
"Terima kasih Pa."
...
Punai bersandar di tepi ranjang. Rasanya ia sudah tidak sanggup menata semua barang padahal usia kandungannya masih terbilang sangat muda.
"Istirahat saja, biar Abang yang lanjutkan bereskan rumah..!!" Kata Bang Igo.
Baru beberapa waktu mereka tinggal disana, jadi belum banyak barang yang mengisi rumah itu.
"Apa disana cuacanya sangat panas? Apa tidak ada mall?" Tanya Punai.
"Ya panas, hampir tidak ada mall.. yang ada hanya pasar inpres. Tapi ramai penduduk juga karena pusat perdagangan utama hanya pasar." Jawab Bang Igo.
Punai terdiam seakan memikirkan banyak hal.
"Kamu tenang saja, disana tidak se menakutkan yang kamu kira." Kata Bang Igo.
Prada Fahrul ikut membawakan Barang Bang Igo ke dalam truk.
"Kamu jangan buat keributan ya Go. Jaga istri baik-baik..!!" Pesan Bang Isyad saat melihat tatapan tajam Bang Igo untuk Prada Fahrul.
"Ribut apa?? Bukankah sejak tadi aku tenang dan tidak cari perkara????" Jawab Bang Igo sedikit emosi.
"Iyaa.. tapi kamu seperti tidak suka dengan Fahrul. Kenapa kamu tidak suka dengan Fahrul? Bukankah selama menjadi ajudanmu dia bersikap baik dan tidak pernah keluar dari jalur??" Kata Bang Isyad.
"Mantan tetap mantan. Aku tidak pernah sedikit pun dengan makhluk berstatus mantan."
"Kamu ini kebiasaan mengedepankan emosi, lalu bagaimana dengan perasaan Nai setelah tau Rida adalah mantan pacarmu?? Dia juga sakit, tapi diam dalam keluguannya."
Ucap Bang Isyad memukul telak batin Bang Igo.
__ADS_1
"Akuilah kalau kamu memang pencemburu, katakan juga kalau kamu mencintai Nai. Terkadang semua itu terdengar sangat gombal, mungkin juga menjijikan tapi itulah wanita.. manjakan dia sampai dia paham bahwa perbuatan akan jeuh lebih baik daripada sekedar ucapan..!!" Nasihat Bang Isyad yang lebih dulu menjalani biduk rumah tangga.
"Halaaaahh.. buat apa?" Gerutu Bang Igo.
Bang Isyad tersenyum mendengarnya. "Dulu.. ada seseorang yang amat sangat menyesal karena tidak sempat mengatakan cinta hingga sampai sebuah musibah besar tiba. Sang suami terpisah dengan sang istri karena suatu bencana, nasib baik mereka bertemu lagi di saat yang sudah sangat berbeda. Sang istri yang sempat hilang ingatan sudah menikah dengan seorang pria dan sang suami telah menikah lagi karena membantu wanita tersebut. Singkat cerita sang suami ingin mengungkapkan sebenar-benarnya perasaan cinta tersebut tapi sang istri menolak.. karena..............."
"Hati telah patah.. jika saja kata itu sempat terucap sebelum bencana terjadi, mungkin semua akan berbeda.. apalagi mental seorang wanita lebih main perasaan daripada pikiran..!!" Jawab Bang Igo.
"Itu kamu paham."
"Aku hanya butuh waktu sampai Nai bisa menerimaku." Entah apa yang ada dalam benak Bang Igo, ia hanya menunduk dengan mata memerah. Ia pun tau cerita kelam itu, cerita kelam antara sang Mama dan Papa namun sungguh dirinya masih tak begitu paham cerita yang sesungguhnya hingga belum bisa menerima kelakuan Mama dan papanya sampai bisa menikah dengan orang lain.
Bang Isyad mendekap lengan adiknya. "Cinta itu pasti ada, apalagi ada calon bayi kecilmu di perut Nai. Hilangkan sifat kerasmu. Sifat itu tidak bisa kamu gunakan untuk melunakan hati wanita."
:
Bang Igo ragu untuk mendekati Punai yang sedang duduk di teras bersama Mama Nindy tapi ia menepis rasa ragu di hatinya.
"Sudah selesai ngobrolnya? Ayo kita berangkat..!!" Ajak Bang Igo kemudian mengulurkan tangannya.
Nai masih terlihat ragu untuk menerimanya. "Nanti kita tidurnya dimana Bang?" Tanya Punai.
"Ya di asrama.. memangnya mau dimana?"
"Nggak di hutan khan Bang?" Tanya Nai lagi.
.
.
.
__ADS_1
.