
Bang Igo terdiam sejenak mendengar betapa polosnya sang istri kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Punai. "Setiap saat, setiap waktu.. hati ini was-was mencemburui pria di sekitarmu." Bisik Bang Igo kemudian mengecup basah bibir Punai.
Seakan ada dorongan, kedua tangan Punai beralih merangkul di belakang tengkuk Bang Igo. Ia membalas kecupan hangat tersebut hingga untuk beberapa saat keduanya terlena dalam rasa.
Bang Igo menyudahi kecupan panas tersebut karena memahami keadaan dirinya sendiri. "Ditahan-tahan nggak tahan juga. Bagaimana caraku mengetuk pintu hatimu?"
"Hanya boleh ada Nai satu-satunya di hati Abang."
"Jangan tanya lagi, di dada ini sudah penuh sesak karena namamu saja..!!" Bisik Bang Igo yang kembali tidak tahan melihat bibir Nai.
...
Papa Ricky menggeleng melihat putranya malah tidur satu ranjang bersama Punai di ruang kesehatan lapangan.
"Kita tidak mungkin memarahi pengantin baru yang sedang panas-panasnya jatuh cinta Har. Mereka merasakan jatuh cinta setelah menikah. Wajar saja mereka kurang bisa mengontrol diri." Kata Papa Ricky mulai melunak melihat Bang Igo menyembunyikan Nai di dalam pelukan.
"Iya Bang, mereka sudah berusaha menyembunyikan kelakuan meskipun belum rapi. Tidak mengenal tempat yang penting berduaan." Imbuh Papa Hara.
"Mudah-mudahan Igo bisa terus sadar seperti ini. Ya sudah ayo kita ke bandara..!! Sudah waktunya kita lanjut perjalanan."
...
Bang Igo terbangun dan melihat Punai dan Mila sedang akrab berbicara.
"Kita harus aku ya Nai, biar Abang tenang dalam bekerja..!!" Kata Mila membuat Nai kini bisa tertawa terbahak tapi tidak untuk Bang Igo.
Perut Bang Igo terasa di aduk kuat. Rasanya sungguh geli membayangkan jika dirinya bisa khilaf mencintai makhluk dua alam.
"Hhkkk.."
Om Fahrul yang baru saja masuk ke ruang kesehatan langsung sigap menantu Bang Igo. "Mual Dan? Mau ke toilet?"
Bang Igo hanya mengangguk, kerongkongannya terasa penuh rasa pahit.
"Eeehh suamiku sudah bangun. Sebentar ya Nai..!!" Pamit Mila.
~
__ADS_1
"Jangan dekat-dekat..!!!!" Pekik Bang Igo menolak Mila.
byyyyrrr
Tak hentinya isi lambung Bang Igo tumpah ruah karena tidak tahan melihat Mila.
"Duuhh Goo.. kok bisa kamu sampai lemas begini??" bang Tarman pun sampai ikut panik melihat kepanikan Om Fahrul.
:
Setelah perjuangan panjang akhirnya Bang Igo bisa tidur lagi. Berbantalkan paha Punai, Bang Igo sudah tidak merasa mual lagi.
"Abangmu sudah bisa tidur ndhuk?" Om Ganesha sampai datang melihat keadaan keponakannya.
"Alhamdulillah bisa om. Tapi tangan kiri Nai harus mengusap di bawah perut dan tangan kanan mengusap jambul Abang." Kata Nai.
Om Ganesha menggeleng melihat tingkah keponakannya. "Ya ampun, ada-ada saja. Posenya mengkhawatirkan..!!"
"Bagaimana keadaan Igo Pa?" Tanya Tante Nava.
Om Ganesha mengecup lembut kening istrinya. "Biasa ma, lagi manja bawaan hamil, persis seperti saat Bang Ricky hamil Igo dulu. Hanya saja Bang Ricky emosian. Nggak gak lah kalau Igo."
"Mudah-mudahan nggak rewel ya, soalnya kalau suamimu yang ngidam kadang lebih repot jadinya."
-_-_-_-
Sampai malam hari Bang Tarman dan Om Fahrul tidak berani meninggalkan Bang Igo yang sudah di antar pulang.
Baru kali ini komandan pertahanan tidak bisa menjaga pertahanan diri hingga tumbang mengerang kesakitan.
"Kamu tidur saja Nai. Biar Abang yang jaga suamimu. Kamu nggak akan kuat kalau Igo muntah lagi.. bisa-bisa kamu ketiban." Pinta Bang Tarman.
"Iya Bu, ibu istirahat saja. Kasihan yang di perut pengen istirahat juga." Saran Om Fahrul.
***
Bang Igo baru bisa tidur pukul empat pagi, itupun setelah Om Fahrul membuat tato Jawa di punggung Bang Igo dan memijat seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah.. akhirnya tidur juga. Badanku sampai capek urus suami Nai ini..!!" Gerutu Bang Tarman.
"Komandan tidur saja, biar saya yang jaga." Kata Om Fahrul.
"Kita sama-sama tidur saja. Igo sudah nggak ngomel ini itu. Lagipula kita harus apel pagi." Perintah Bang Tarman.
"Siaap..!!"
...
Nai berjalan keluar kamar mengambil air wudhu. Ia melihat Bang Igo tidur sembari bertelanjang dada dengan banyaknya garis garis merah di punggung.
Tak jauh dari Bang Igo ada Bang Tarman dan Om Fahrul mengorok bersahutan.
"Abaaaang.. bangun yuk..!!" Nai mengusap pipi Bang Igo yang sedikit menghangat.
Mendengar suara Punai, Bang Igo langsung terbangun. Aroma shampo di rambut Nai menggugah inderanya entah yang keberapa.
"Tumben sudah bangun?" Tanya Bang Igo.
"Nggak enak boboknya.. nggak di temani Abang." Jawab Nai.
Tangan Bang Igo secepatnya membungkam mulut Punai. "Bicaranya pelan-pelan..!! Nanti Abang temani. Sekarang masih ada Tarman sama Fahrul. Nggak enak."
Nai mengangguk menurut.
"Nanti Abang usahakan pulang cepat. Nggak enak badan nih." Janji Bang Igo.
"Nai temani ya Bang..!!"
"Jelas donk.. masa mau di temani Mila."
.
.
.
__ADS_1
.