
Tiba saat itu Om Fahrul sedikit berbisik di telinga Bang Igo. "Ijin Dan, ibu meminta saya menyampaikan jika posisi beliau saat ini sedang berada di lapangan. Minta ijin untuk melihat futsal."
"Lho.. kenapa bilangnya ke kamu?"
"Ijin.. tadi ibu berusaha menghubungi tapi sepertinya ponsel komandan mati." Jawab Om Fahrul merasa tidak enak juga.
Bang Igo segera mengambil ponsel di sakunya. "Ya Tuhan, perkara sibuk tawuran semalam aku sampai lupa isi daya." Gerutunya.
"Bagaimana Dan, mau saya sampaikan atau komandan sendiri yang ke lapangan?" Tanya Om Fahrul.
"Saya kesana. Nai nggak jingkrak-jingkrak khan?"
"Siap.. tidak Dan. Tapii.. ibu duduk dengan seorang wanita yang tadi mencari Komandan." Jawab Om Fahrul ragu.
"Astagfirullah Rul.. Ayo cepat ikut saya..!!" Perintah Bang Igo.
"Aku ikut..!!" Kata Bang Tarman.
~
Bang Igo dan rekannya masih ngos-ngosan dan melihat Nai sudah menatap tajam wanita yang ada di hadapannya.
"Saya nggak bohong, saya ini simpanannya Igo."
Mata Nai memicing melihat sosok di hadapannya mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Para anggota menahan tawanya tapi sekaligus takut menatap wajah murka istri Lettu Igo.
"Kenapa?? Kamu kalah saing sama model secantik aku??" Ledek Mila.
"Milaaa.. sudah Milaaa..!!!" Bang Tarman ikut panik melihat ekspresi wajah Punai.
"Dek.. ayo duduk dulu. Abang bisa jelaskan. Mila ini........."
Plaaakk..
"Nai nggak mau penjelasan apapun." Nai pun melangkah pergi meninggalkan Bang Igo.
"Sayaaaang, dengar Abang dulu..!!!!"
"Kalau sudah begini baru panggil sayang. Kemarin sayangnya untuk siapa????" Pekik Nai.
"Deeekk.." Bang Igo secepatnya mengejar Punai. "Ya Allah Ya Rabb.. hal mudah saja jadi runyam. Perempuan kalau sudah cemburu mana bisa bedakan hitam dan putih." Gumamnya.
"Aaaawwhh.." Nai menghentikan langkahnya. Ia memegang sebatang pohon sembari memercing kesakitan.
__ADS_1
"Astagfirullah.. dek..!!" Bang Igo pun secepatnya mendekap Punai. "Muladiiiiiiiiii.. b*****t.. sini kamu..!!!!!!!" Bentak Bang Igo.
"Awwwhh ya ampun.. si cantik kenapa??" Pekik Mila yang sebenarnya adalah sahabat Bang Igo sejak di sekolah.
"Kenapa??? Matamu nggak lihat??" Bentak Bang Igo lagi.
:
Plaaaakk..
"Hwaaa.. ini KDRT" pekik Mila saat Bang Igo sempat menamparnya.
"Makanya kamu jangan sembarang buat perkara. Istriku hamil muda Mul..!!!!!!" Tangan Bang Igo bersiap menampar 'Mila' lagi.
"Tapi Mila juga hamil anakmu..!!" Kata Mila semakin memanaskan situasi.
"Jangan bercandaaaa..!!!!!! Aku stress lihat istriku mual terus Mul..!!"
Tak tau Danyon harus tertawa atau sedih menghadapi situasi tak terduga ini yang jelas istrinya sibuk membantu Punai yang mual hebat melihat 'selingkuhan' Lettu Igo.
"Om.. Nai lemas sekali." Kata Bu Danyon.
"Nanti saya yang bicara sama Nai mbak. Mau bilang apapun kalau Nai terbawa emosi tetap saja tidak akan masuk dalam pikirannya." Jawab Bang Igo.
"Iya Om. Saya sampai kaget tadi waktu mbak Mila datang." Bu Danyon pun akhirnya menyapa Mila.
Bu Danyon menutup wajahnya dan terbahak. "Hai istri gelapnya Om Igo. Selamat datang dan terima kasih sudah buat kerusuhan di Batalyon kami."
"Terima kasih Mbak Danyon. Jangan terlalu memuji."
Bang Igo menunduk mengusap wajahnya. " Setelah ini kamu pulang saja Mul. Please..!! Aku takut Nai keguguran gara-gara ribut sama kamu."
"Mila nggak akan ribut sama istrimu Bang. Mila cuma mau menuntut hak ku..!!" Mila yang terus saja menggoda Bang Igo membuat hati Bang Igo benar-benar susah.
Bang Igo berdiri dan kembali melayangkan bogem mentah, untung saja Bang Tarman dan Om Fahrul sigap menyergap Bang Igo.
"Igooooo.. apa-apaan kamu??? Kenapa pukul perempuan?????" Bentak Papa Ricky. Beliau yang sebenarnya hendak kembali ke tempat tugas selanjutnya malah di kejutkan oleh kabar burung tentang putranya dan Nai yang sampai tak sadarkan diri karena syok.
"Kali ini Papa jangan ribut sama aku..!!!!" Suara Bang Igo pun tak kalah keras.
"Mikir kamu Go..!! Sudah mau punya anak masih sempat melirik wanita lain. Apa Nai masih kurang????? Sampai cucu Papa ada apa-apa. Papa hajar kamu..!!!!!!"
Bang Igo menahan rasa kesalnya setengah mati, ingin rasanya berhadapan dengan sang Papa tapi sisa hantaman dari Papa Ricky masih terasa sakit membuat memar tulang iganya. Ia hanya bisa mengepalkan tangan, memejamkan mata sejenak penuh sesal dengan kejadian konyol dalam sejarah hidupnya.
"Papa mertua.. Abang jahat..!! Nggak mau tanggung jawab." Suara Mila menyapa Papa Ricky membuat pria setengah baya itu menoleh.
__ADS_1
"Astagfirullah hal adzim.. apa ini Go..?????"
"Itu dia, ondel-ondel yang Papa bela. Si Muladi..!!"
"Ya Tuhan.. Muladi???????" Mata Papa Ricky membulat besar melihatnya.
"Hamil tuh si Muladi. Papa mau dapat cucu dari Muladi??????" Ucap gemas Bang Igo.
"Nggak.. nggak.. kasih racun tikus biar gugur..!!" Jawab Papa Ricky ikut syok.
"Ya Allah Go.. Papa jantungan..!!" Papa Hara terduduk lemas mendapat berita gempar ini.
"Apalagi saya Pa..!!" Kaki Bang Igo gemetar, Ia pun duduk dengan gelisah.
...
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Papa Ricky pada Bang Muladi, sahabat putranya yang kini memilih menjadi seorang tr**s g****r.
"Alhamdulillah sehat Om. Yaaa.. beginilah saya sekarang. Saya lebih nyaman dengan keadaan saya yang sekarang, mungkin karena memang jiwa wanita saya dulu terperangkap pada fisik yang salah." Jawab Bang Muladi. "Saya minta maaf kalau kehadiran saya membuat istri Igo kaget. Sungguh saya tidak tau kalau Igo sudah menikah."
"Sudahlah, yang penting menantu saya nggak apa-apa.. sudah sadar juga. Igo sedang berusaha menenangkan istrinya." Kata Papa Ricky. "Sekarang kamu kerja dimana?"
"Saya jadi model Om untuk menyambung hidup. Keliling Indonesia adalah pekerjaan saya sekarang..!!"
//
Bang Igo belum berani melepaskan pelukannya. Nai masih saja sesenggukan, perutnya mengalami kram dan itu membuat Bang Igo sangat cemas. "Maaf.. Abang belum sempat cerita punya teman seperti Muladi. Dia memang sahabat Abang sejak jaman sekolah. Karena kelakuannya itu kami-kami ini biasa menjaganya layaknya perempuan."
"Nai nggak suka Abang dekat perempuan lain."
"Cemburu ya??" Ledek Bang Igo.
"Memangnya nggak boleh kalau Nai nggak suka?????" Ucap Nai masih bernada kesal.
"Boleh, suami istri wajib cemburu. Itu cara menjaga hubungan dalam rumah tangga." Jawab Bang Igo.
"Hanya Nai saja yang cemburu??" Tanya Nai semakin bertambah kesal.
"Sebelum kamu mencemburui banyaknya makhluk berjenis wanita di sekitar Abang.. Abang lebih dulu meradang menghadapi banyaknya pejantan di sampingmu." Jawab Bang Igo.
Mata Nai berkedip-kedip polos. "Jadiii.. Abang cemburunya kapan?"
.
.
__ADS_1
.
.