
Jika terdapat beberapa part yang sama dengan cerita yang lalu adalah unsur kesengajaan. Yang pasti Nara mengambil part dari karya sendiri, bukan karya orang untuk di kembangkan. Terima kasih 🙏🙏🙏.
🌹🌹🌹
Betapa kecewanya Bang Igo saat Nai hanya menunjukkan tokek berukuran lumayan besar di dinding kamar.
"Alaaah alaaaaahh.. cuma tokek saja, apa ada masalah???"
"Nai takut Bang" jawab Nai.
"Hewan lucu begini kamu takut, bagaimana kalau lihat hewan yang mengerikan??" Dengan tangan kosong bercampur jengkel, Bang Igo mencengkeram bagian leher tokek tersebut dan membawanya keluar dari kamar.
~
"Selamat malam Dan.. ijin melapor."
"Malam.. ada berita apalagi??" Bang Igo menoleh ke sekeliling untuk melihat keadaan sekitar.
"Pak Irwanto masih belum bisa dipastikan ikut menjual barang tersebut atau tidak karena saya memberi kode dan beliau seperti tidak memahami. Namun saat saya tanya ibu Yani.. beliau paham dan langsung memberi kami barangnya" kata Sertu Danu di dampingi Prada Marto.
"Apalagi??"
"Ijin Dan.. Beliau menawarkan putrinya untuk menemani kami besok malam asal kami membeli barang itu lebih banyak" kata Prada Marto.
"Oooo.. ookeey.. bagus juga ya caranya" Bang Igo cukup kaget tapi tak ada lagi rasa yang tersisa untuk Rida.
"Siap Dan, dia juga perempuan yang licik" imbuh Sertu Danu.
Ada sepercik rasa sakit dalam hati Bang Igo, bukan karena terkhianati namun lebih pada rasa sesal pernah mencintai wanita seperti Rida. "Iya, saya paham. Maka dari itu saya banyak berpesan pada kalian untuk waspada dan hati-hati. Kalian punya pikiran khan??"
"Siap.. mengerti Dan"
***
Bang Igo melihat sajian sarapan yang baru saja di hidangkan Punai di atas meja makan. Nasi lembek macam bubur, ayam hitam bagai korban kebakaran, dan sambal terhidang berwarna merah bagai korban pembunuhan. Semua tertata rapi di atas dedaunan yang tidak terpotong.
"Konsepnya apa dek??"
"Ayam lalapan donk. Yaaa.. emang agak kematangan sedikit, tapi masih enak di makan" jawab Punai.
"Penuh duka cita ya. Semoga keluarga sudah ikhlas" celetuk Bang Igo.
__ADS_1
Perut Bang Igo seketika terasa melilit, hanya saja karena ini kali pertama sang istri memasak dan lagi ini adalah pertama kalinya Punai berbakti padanya, maka dengan berbesar hati menyantapnya.
"Enak nggak Bang?" Tanya Punai.
"Enak.. enak sekali" Bang Igo menunduk menunduk menyembunyikan wajahnya. Bibir rasanya tebal terbakar, Di ujung tenggorokan terasa pahit mencekik.
"Syukurlah kalau Abang suka. Nanti siang Nai masak apalagi ya??" Gumam Nai.
"Nggak usah. Nanti Abang belikan makan siang. Kamu nggak usah capek masak. Kerjakan yang lain saja..!!" Jawab Bang Igo membujuk secara halus.
"Bukannya Abang suka masakan Nai??" Tanya Nai.
"Suka, tapi lebih suka lagi kalau kamu anteng di rumah dan kerjakan pekerjaan lain..!!"
"Ya sudah lah, Nai lihat Drakor saja." Kata Nai menjatuhkan pilihan.
"Naahh.. itu lebih bagus."
"Oya, hari ini Abang pulang larut malam. Ada pekerjaan di luar. Nggak apa-apa khan?" Bang Igo memastikan Punai ikhlas membiarkannya berada di luar.
"Iyaaa, tapi jangan terlalu lama. Nai nggak mau ketemu siluman itu lagi..!!" Jawab Nai.
"Kamu nggak usah khawatir, Abang sudah mengusirnya semalam"
-_-_-_-_-
"Ayo lah Bang, kalau kita akan mengakhiri semua dengan pernikahan.. apa salahnya kita bercinta? Dulu saja Abang berani, kenapa sekarang tidak lagi??" Kata Rida terus saja ngotot memaksa Bang Igo untuk mampir ke penginapan.
"Manusia memiliki waktu untuk menata hidup Rida.. termasuk aku. Usia kita semakin bertambah.. Sekarang bukan lagi saatnya kita mengejar nafsu dunia yang hanya sesaat lalu hancur lebur hingga Tuhan menghitung amal kita nanti. Aku pernah menjadi b******n yang tidak tau malu, mengumbar aurat juga menikmati keindahan lawan jenis. Tapi sekarang aku punya rasa malu meskipun belum bisa sepenuhnya aku berubah menjadi lebih baik. Serahkan seluruh yang ada pada dirimu hanya untuk suamimu kelak dan aku.. hanya milik istriku" Jawab Bang Igo membuat Rida ternganga.
"Benarkah ini dirimu yang sekarang? Apa yang membuatmu berubah?" Tanya Rida.
Baru saja Bang Igo bermaksud menjawabnya, tiba-tiba ada seseorang menyapanya.
"Oohh.. ini pekerjaan Abang??" Tegur Punai.
"Nai.. kamu disini??" Sungguh kaget Bang Igo melihat istri kecilnya berada di mall tersebut bersama Esi sahabatnya.
"Kenapa?? Jadi ini pacar Abang??"
"Waahh.. kalian saling kenal?" Rida menyeringai tidak suka melihat kehadiran Punai. "Iya.. kami memang pacaran dan berniat akan menikah, datang ya..!!" Kata Rida dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Punai mengangguk-angguk menanggapi ocehan Rida. "Yaaa.. kalau terjadi yaaaaaa..!!!" Jawab Nai enteng. "Letnan Igo.. silakan pilih calon istrimu atau saya putri kesayangan atasanmu..!! Ingat ya Letnan.. jungkir baliknya badanmu ada di tangan saya..!!" Ancam Punai.
"Si_ap salah."
Punai mendekati Bang Igo kemudian menyibak dressnya dan mengangkat satu kakinya hingga menyentuh wilayah siaga satu milik Bang Igo. Tangan Punai menyentuh dada bidang Bang Igo. "Pulang atau kubongkar rahasiamu malam itu bersama pemandu karaoke..!!"
"Kamu nggak usah merayu ya. Sama aku saja Bang Igo nggak mau..!!" Kata Rida.
"Oya???? Berarti kau harus sadar diri. Abang nggak mungkin mau sama daun kering. Maunya pucuk hijau seperti akuu" ledek Punai.
Seketika amarah Rida tersulut, ia melayangkan tangan bersiap menampar Punai tapi.....
-_-_-_-_-
"Kenapa kamu hajar Rida sampai babak belur?? Itu bahaya buat kamu..!!!"
Tak banyak mulut, Punai pun menghajar Bang Igo habis-habisan. "Abang sendiri yang bilang kalau Nai ini istri Abang. Jadi sekarang siapa yang berhak atas diri Abang???"
Bang Igo sampai terbatuk tak berani membalas sang istri. "Kamu"
"Kalau begitu kenapa beraninya Abang jalan-jalan sama dia di mall tanpa ijin Nai?????" Bentak Nai.
"Abang belum bisa cerita sekarang??"
Tak lama Papa Ricky datang, emosinya tersulut.
"Laki-laki tidak berguna..!!" Bentak Papa Ricky.
buuughhhhh..
"Aaarrghh.." Bang Igo menggelinjang meremas perutnya.
"Bang.. jangan gegabah..!!!!!! Igo sudah bilang sama saya tentang masalah ini."
"Maksudmu??????"
.
.
.
__ADS_1
.