
"Nggak..!!"
"Kalau nggak mau dekat sama Abang lebih baik nggak usah ikut, banyak resikonya." Kata Bang Igo.
"Abang sendiri juga nggak mau dekat sama Nai."
"Kamu yang bilang begitu, bukan Abang. Abang sudah beristri.. tentu saja Abang ingin selalu dekat." Jawab Bang Igo.
Pipi Punai memerah, ia terlihat gelisah.
"Karena Abang tau dan sadar punya peliharaan yang rewel." Imbuh Bang Igo.
"Iiiihh Abaaaanngg...!!!!!!" Nai menutupi kedua mata Bang Igo.
Mereka berdua pun ribut sendiri hingga Bang Igo tidak melihat jalan di hadapannya dan menginjak lubang.
Bruugghh..
Keduanya terjatuh, terperosok dan terjerembab.
"Astagfirullah." Bang Igo panik melihat Nai jatuh berguling bersamanya.
Nai yang tau kepanikan Bang Igo pun secepat kilat melancarkan aksinya. "Aaaahhh.. sakiiiiiiiit..!!!!!" Pekik Nai.
"Ya Allah, mana yang sakit????? Abang minta maaf dek..!!!!!!!" Semakin gelisah Bang Igo memikirkan sang istri.
Nai cukup kaget melihat reaksi Bang Igo apalagi suaminya itu sampai panik mengusap perutnya. Tau Bang Igo dalam mode panik, Nai pun sengaja ambruk.
"Deeekk.. astaghfirullah..!!!!!!!" Secepatnya Bang Igo mengambil ponselnya dan menghubungi petugas kesehatan.
~
Bang Isyad, Papa Hara, Mama Tisha, Papa Ricky dan Mama Nindy sampai datang karena kepanikan Bang Igo. Suami Punai itu sampai keringat dingin memikirkan Punai yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Bangun..!! Jangan bohong di hadapan Mama..!!" Tegur Mama Tisha.
Mata Punai pun terbuka kemudian tersenyum usil di hadapan Mama dan Mama mertuanya.
"Kenapa kamu kerjai suamimu sampai seperti itu? Bang Igo panik lihat kamu pingsan..!!" Mama Tisha melotot melihat nakalnya ulah sang putri.
"Masa hanya begitu saja jadi masalah besar." Kata Punai.
"Hanya masalah begitu saja???? Suamimu sampai lemas karena kalian sempat jatuh. Dia takut terjadi sesuatu pada kandungan mu..!!" kini suara Mama Tisha jauh lebih meninggi.
"Sudah.. jangan di perpanjang masalah kecil ini. Bukankah kita dulu juga sering mengerjai suami. Sekali-kali para pria yang gengsian itu juga perlu di beri pelajaran." Mama Nindy sangat mendukung menantu kesayangannya.
"Jadi Mama nggak marah khan?" Tanya Punai.
"Nggak. kalau nanti Abang sampai marah.. bilang sama Mama..!!" Jawab Mama Nindy.
//
"Aku juga menyesal Pa. Apa papa kira aku baik-baik saja lihat istriku pingsan? Di dalam perutnya ada anakku Pa..!!"
Papa Hara tak sampai hati melihat ekspresi wajah menantunya, sudah jelas ucapnya sarat akan rasa takut yang teramat sangat.
"Punai punya Mama yang sangat kuat, sudah jelas Punai pun gadis yang kuat juga." Ucap Bang Igo, tapi tangannya masih sempat mengutil sebuah korek api dari saku Bang Isyad.
Papa Ricky tau apa yang tengah di lakukan putranya apalagi tangan itu juga berusaha merogoh untuk mengutil pada saku Papa Hara. Ingin rasanya membuka suara tapi Bang Igo memintanya untuk diam.
~
"Sejak kapan kamu alih profesi jadi copet?"
"Sejak tadi. Rasanya puas banget bisa ngambil korek api milik orang lain." Jawab Bang Igo saat Papa Hara dan Bang Isyad menjenguk Nai di ruang kesehatan Batalyon.
Papa Ricky menarik nafas panjang, ia pun sudah paham fenomena yang tengah terjadi pada putra keduanya.
__ADS_1
"Sudah dapat berapa??" Selidik Papa Ricky melihat tingkah aneh sang putra.
"Baru juga tiga puluh empat biji." Jawab Bang Igo enteng.
Papa Ricky menggeleng. "Yang penting jangan buat istri nangis. Jangan sampai istri terlalu lelah." Kata Papa Ricky mengingatkan. "Kalau nanti Nai mau ikut sama kamu.. jaga dia baik-baik. Seringlah ucapkan kata cinta. Papa tidak mau dengar suara sumbang karena tingkahmu..!!"
"Iyaa Paa.. aku paham."
"Paham apa?? Laki-laki sepertimu hanya tau cari ribut saja" sambar Papa Ricky.
...
"Masih sakit?" Tanya Bang Igo.
"Nggak." Jawab Punai singkat saja.
"Kamu sungguh mau ikut Abang khan?" Ada rasa cemas dalam hati Bang Igo hingga dirinya ingin memastikan secara langsung keputusan dari Punai.
"Kalau tidak??"
"Pa_pa.. marah sama Abang." Kata Bang Igo beralasan.
Punai pun mendengus kesal. "Andaikan saja karena Abang cinta sama Nai, pasti adek bahagia sekali"
Bang Igo menahan senyumnya. "Apa kata-kata cinta seperti itu sangat penting?"
.
.
.
.
__ADS_1