Perisai Hati 2

Perisai Hati 2
24. Sabar mendidiknya.


__ADS_3

"Perkara hamburger saja kamu sampai minggat????? Lihat itu.. gara-gara ulahmu, suamimu nyaris meregang nyawa..!!" Bentak Papa Hara.


Punai sampai sesenggukan ketakutan. Baru kali ini sang Papa memarahinya sampai seperti itu.


"Paa.." Bang Igo menyentuh tangan Papa Hara saat Papa Hara bersiap menampar putrinya. "Istri salah karena suaminya yang salah mendidiknya. Semua ini terjadi karena saya yang tidak sabar, terlalu emosional dan.... Terlalu kekanakan mencemburui pria lain."


Jawaban Bang Igo membuat bibir semua yang berada di sana langsung terdiam. Papa Ricky pun menatap wajah putranya.


"Maksudmu siapa?" Tanya Papa Hara.


"Nai masih pacaran sama Bang Fahrul. Nai nggak tau cara putusnya." Sambar Nai dengan polosnya.


"Naaii.. kamu.." Dada Papa Hara rasanya terpukul, beliau sampai terduduk lemas memikirkan ulah nakal putrinya.


"Paaaa.." Mama Tisha ikut syok sampai memeluk Papa Hara.


"Pantas suamimu sangat marah, kamu memang pantas di hajar. Masih untung kamu tidak di ceraikan..!!" Ucap tajam Papa Hara. "Papa malu sekali Nai, kamu sangat keterlaluan."


"Paa.. tolong jangan menekan Nai, kita sudah sama-sama tau bagaimana Nai. Saya yang salah, kalau memang kita semua ingin masalah ini clear.. panggil saja Fahrul dan kita bicarakan semua bersama..!!" Pinta Bang Igo.


~


"Nai gadis terpolos yang pernah saya temui dalam hidup ini dan mungkin tidak pernah ada dalam belahan dunia manapun. Rasanya sungguh tidak percaya saat ini dia sudah di miliki pria lain dan pria itu adalah atasan saya sendiri."


"Doktrin apa yang kamu katakan sampai Nai mengambangkan hubungan dengan saya?" Tanya Bang Igo.


"Ijin.. saya tidak mendoktrin, saya benar-benar mencintai Nai.. apa adanya dan tanpa syarat." Jawab Om Fahrul.


"Cintamu tidak salah, tapi kamu berikan pada orang yang salah. Saya dan Nai menikah memang atas persetujuan orang tua, tapi.. asal kamu tau.. saya sungguh memberikan seluruh hati saya untuk Nai. Mungkin benar kamu dan Nai saling mencintai, tapi saya sudah menikahinya. Maaf Fahrul.. hanya jika Allah mencabut nyawa saya, kamu boleh mengambilnya.. itupun jika Nai bersedia." Ucap tegas Bang Igo. "Dan untuk kamu dek.. kita sudah membuat dua tubuh menjadi satu di hadapan Tuhan. Abang sudah mengambil alih dirimu dari ayahmu. Apakah pantas seorang wanita yang sudah bersuami pergi menemui pria lain tanpa ijin dari suaminya????? Abang tidak menyalahkan kepolosanmu.. tapi sebagai seorang suami, Abang wajib mendidik dan menegurmu..!!!!"


Mata Om Fahrul berkaca-kaca, ia mundur selangkah menghormati atasannya.

__ADS_1


Nai ketakutan lalu memeluk Bang Igo. "Abaaang.. Nai salah. Nai minta maaf..!!!!" Nai histeris meluapkan perasaan.


Papa Hara sudah jengkel setengah mati tapi Bang Igo melarangnya.


"Kalau kamu sudah paham kesalahamu, jangan di ulang lagi dan jangan kabur lagi..!!" Dengan lembut Bang Igo menghapus air mata Nai. "Tadi pergi kemana?"


"Minta Bang Fahrul buatkan hamburger..!!" Jawab Nai takut.


"Ya salam.. burger lagiii..!!" Pikiran Bang Igo rasanya sudah penuh memikirkan kata burger.


"Sekarang kamu pilih Burger atau Fahrul???" Tanya Bang Igo.


"Burger." Jawab Nai lirih.


"Kalau pilihannya.. Abang atau Fahrul????" Suara Bang Igo jauh lebih tegas.


"Abang."


"Ya sudah nggak mau burger lagi. Nai maunya Abaang. Nggak akan kabur lagi sama laki-laki." Rengek Nai.


"Abang nggak percaya."


"Nai nggak bohong..!! Nai minta maaf.. Nai salah..!!" Terdengar nafas Nai begitu sesak.


Bang Igo sedikit menepi karena hantaman di dadanya tertindih tubuh Punai.


"Aampuuuuun Bang..!!"


"Dek, Abang sesak nih." Berusaha bergeser pun tak bisa karena Nai memeluknya dengan sangat erat. "Astagfirullah..!!" Bang Igo hanya bisa pasrah memejamkan mata merasakan tulang iganya memar karena hantaman sang Papa.


"Mohon ijin Dan, saya pamit mendahului..!!" Sela Prada Fahrul.

__ADS_1


"Silakan..!!" Jawab Bang Igo yang masih memejamkan matanya.


Anggota keluarga yang lain pun ikut meninggalkan Bang Igo berdua saja dengan Nai. Mereka memahami pastinya Bang Igo ingin kembali melakukan pendekatan dengan Nai dan mereka juga memahami cara tertentu dari Bang Igo untuk berkomunikasi dengan istri kecilnya.


~


Bang Igo memeluk Nai dalam satu selimut di satu ranjang pasien yang tidak bisa di bilang besar. Wangi rambut Punai membuat desir dalam dadanya melaju naik turun. Tangannya mengusap perut Nai yang masih datar dan sesekali mencubitnya pelan. Sadar kadar imannya sangat tipis, perlahan ia pun menarik tangannya tapi siapa sangka Nai meraih tangan Bang Igo kembali untuk mengusap perutnya.


"Cepat tidur..!!" Bisik Bang Igo.


"Nggak bisa tidur." Jawab Nai.


"Tapi kamu harus istirahat.. adek capek..!!" Kata Bang Igo.


Kali ini Nai malah mengarahkan tangan Bang Igo untuk menyelinap pada gudang penyimpanan semangka kuning.


"Duuhh.. mau apa kamu dek? Ini di rumah sakit." Ucap cemas Bang Igo tapi tidak dengan tangannya yang seberani pembela kebenaran.


"Baang.. di perutnya Nai ada yang naik turun."


"Astagfirullah.. kenapa harus di tempat seperti ini sih dek. Mana badan Abang masih lemas begini." Gerutu Bang Igo tapi dengan kelakuannya yang sudah mengecup tengkuk Nai hingga istri kecilnya itu bereaksi membuatnya tidak tahan melawan gairah prianya. "Abang kangen sama Nai, tapi nggak mungkin Abang ajak Nai main Tom and Jessi disini. Nai terlalu berisik." Bisik Bang Igo sekuatnya menahan diri.


Seketika Nai memasang wajah cemberut khas seorang wanita yang sedang merajuk menggemaskan batin Bang Igo.


'Cckk.. bagaimana nih, si cantik sudah merajuk. Di tabrak salah.. nggak di tabrak aku juga yang keliyengan.'


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2