
Pagi ini Bang Igo masih merasa tidak enak badan. Usai apel tiba-tiba tubuhnya terasa menggigil.
"Kenapa rasanya aku pengen lihat orang kurve ya..!!" Gumamnya.
Bang Igo pun kemudian memberi arahan pada salah satu barak bujangan untuk melaksanakan hari bersih pagi.
...
"Weeee.. kenapa beri arahan untuk bersih-bersih hanya satu barak saja?" Tanya Bang Unggar karena bingung dengan kegiatan anggota yang tiba-tiba mengalami perubahan dan tanpa konfirmasi lebih dulu.
"Ya biar bersih." Jawab Bang Igo.
"Rundingan dulu pot, biar arahan nya jadi nggak rancu" protes Bang Igo.
"Bsok gantian barak B yang kurve..!!" Kata Bang Igo memutuskan.
"Jangan resek lu ya. Besok ada kegiatan lapangan..!!"
"Kurve khan tidak lama, aku hanya minta waktu sebentar saja." Jawab Bang Igo seakan tak mau tau.
"Jangan sampai ganggu acara halang rintang besok..!!" Bang Unggar mengingatkan littingnya.
"Nggak.. sudah sana pergilah, aku malas melihat wajahmu..!!" Usir Bang Igo jengah.
...
Siang hari Bang Igo duduk di bawah sebuah pohon. Ada keinginan yang tak bisa di tahannya.
"Dan.. pinjam korek..!!" Pinta Bang Igo berucap pada Sertu Danu padahal dirinya pun membawa koreknya sendiri.
"Siap Dan.. ini koreknya..!!" Sertu Danu menyerahkan koreknya pada Bang Igo.
__ADS_1
"Saya pinjam dulu, kamu lanjut dengan kegiatanmu..!!" Kata Bang Igo memberi perintah.
"Siap..!!"
...
Malam hari Bang Igo menata korek api jarahannya pada kotak kardus sepatu. Senyumnya mengembang penuh kepuasan.
"Itu korek punya Abang?"
"Iya" jawab Bang Igo santai.
"Yang benar, nggak mungkin Abang punya korek sebanyak itu. Buat apa?" Tanya Punai.
"Abang lagi suka kumpulkan korek api. Kalau lihat korek api warna warni rasanya mual Abang mendadak hilang." Sambil menata, Bang Igo mengurutkan korek api tersebut berdasarkan warnanya.
"Masa Bang, Abang aneh iihh." Punai memalingkan badannya tak ingin ikut campur dengan kelakuan aneh suaminya.
"Kamu lah yang aneh. Kalau lihat gambar planetarium luar angkasa.. kamu sehat seperti tidak ada masalah, tapi kalau lihat suasana luar rumah seketika mual.. nggak kuat lihat banyak orang." Gerutu Bang Igo.
Melihat sang istri lemas tidak bertenaga, ada rasa tidak tega juga dalam hati Bang Igo. Ia pun menyadari hamilnya sang istri karena ulahnya juga.
"Terus maunya bagaimana? Abang tidak merasakan apa yang kamu rasakan." Kata Bang Igo.
Punai pun menangis, entah kenapa rasanya ingin sekali Bang Igo lebih memperhatikan dirinya tapi apalah daya, pernikahan mereka tidak berlandaskan rasa cinta.
Seperti ada dorongan, Bang Igo naik ke atas ranjang dan memeluk Punai dari belakang. "Nai mau apa? Abang nggak akan tau inginmu kalau kamu nggak bilang sama Abang."
"Seharusnya Abang tau apa yang Nai mau, sampai kapanpun Nai nggak akan pernah bilang kalau Nai ingin di sayang Abang..!!" Seperti biasa Nai mengucap segala rasa dengan keluguan nya.
Bang Igo menahan senyumnya. Tingkah laku dan ucap Punai selalu menjadi hiburan tersendiri dalam hatinya. "Apa mau Abang gendong jalan-jalan keliling asrama?" Tanya Bang Igo.
__ADS_1
"Nggak usah, kata Abang Nai gendut. Kalau Abang pingsan, Nai nggak mau tanggung jawab." Jawab Nai yang sebenarnya kaget dengan ajakan Bang Igo.
"Kalau Abang pingsan ya kamu tinggal saja Abang di jalan. Abang nggak minta tanggung jawabmu karena hakikatnya dalam kamus Abang.. lelaki yang bertanggung jawab, bukan perempuan."
Rasa bahagia menyelimuti hati Punai, tapi ia masih menyimpan perasaan nya sebab ia tau Bang Igo tidak mencintai dirinya. Sebisanya Punai menahan diri menutupi rasa gengsi dalam diri. "Ya sudah lah, terpaksa Nai menerima paksaan Abang."
Ingin rasanya Bang Igo tertawa tapi ia masih menghargai perasaan sang istri. "Ayo naik punggung Abang..!! Kita jalan-jalan keliling asrama."
~
"Dek, kalau Abang pindah tempat dinas.. apa kamu mau ikut Abang."
Pertanyaan Bang Igo sontak saja membuat Punai kaget setengah mati.
"Apa Abang mau pindah tugas?" Tanya Punai.
"Sebenarnya Abang hanya di tugaskan BP keluar pulau tapi tidak menutup kemungkinan Abang akan pindah tugas di tempat yang baru." Jawab Bang Igo. "Seandainya Abang pindah ke tempat tugas yang baru.. apa kamu mau ikut sama Abang?"
"Nai nggak mau jauh sama Papa............."
"Iya nggak apa-apa. Abang ngerti, mungkin dekat dengan orang tua membuatmu lebih nyaman." Kata Bang Igo memotong ucapan Punai.
"Nggak mau jauh sama Papanya si adek" lanjut Nai.
Bang Igo berjalan menunduk mengurai senyum sembari menggendong Punai di punggungnya.
"Kalau Mamanya?" Tanya Bang Igo.
.
.
__ADS_1
.
.