Perisai Hati 2

Perisai Hati 2
25. Terasa sakitnya.


__ADS_3

Bang Igo memercing meremas dadanya usai mengucap syukur setelah menuntaskan hasratnya. Di liriknya Punai sudah tertidur lebih dulu sedangkan dirinya masih melayang merasakan sisa pertempuran.


Seulas senyum tersungging di bibirnya. "Bagaimana Abang bisa melirik perempuan lain, cukup satu Nai saja buat Abang kejang." gumamnya.


***


Papa Hara dan Papa Ricky melotot melihat Bang Igo dan Nai tidur sangat nyenyak sembari berhadapan dan berpelukan.


"Bukannya tadi Igo pakai celana training? Kenapa sekarang pakai celana pendek?" Tanya Papa Hara.


"Nai juga nggak pakai tanktop." Kata Papa Ricky.


Kedua Papa saling berpandangan.


"Astagfirullah..!!!" Papa Ricky berbalik badan dan Papa Hara segera menyelimuti Bang Igo dan Punai.


Merasa ada yang berkasak kusuk di kamarnya, Bang Igo pun mengerjab dan terbangun dari tidurnya. Seketika Bang Igo panik dan menutupi tubuh sang istri. "Papaa.." ia masih berusaha mengumpulkan nyawa di tengah kesadarannya yang belum terkumpul sempurna.


Nai akhirnya juga terbangun dan baru menyadari ada Papa mertuanya di sana.


"Tidur lagi ndhuk.. Papa hanya sebentar..!!" Kata Papa Ricky.


Nai yang salah tingkah kembali berbaring menutup dadanya karena ia pun bingung terjebak dalam situasi yang memalukan ini.


Bang Igo meraih pakaiannya yang tersampir pada sandaran ranjang kemudian memakainya.


"Jangan aneh-aneh kamu di rumah sakit..!!" Tegur Papa Ricky melihat raut wajah Bang Igo nampak lebih segar.


"Laahh istri minta di manja masa aku nolak. Kasihan yang di perut donk Pa." Jawab Bang Igo santai.


Papa Hara mengusap wajahnya, beliau sampai tidak bisa berkomentar. Ada rasa kesal tapi juga bahagia. Bahagia seorang Papa yang lega melihat putrinya nyaman berada bersama laki-laki yang tepat dalam pandangannya meskipun banyak yang mengatakan bahwa pria tersebut hanyalah sampah tak berguna.


"Edan Go. Ini dimana??"


"Menantu Papa ngidam. Maklumi saja Pa..!!" Jawab Bang Igo lagi.


"Sudahlah Bang, biarkan saja pengantin baru ini saling mengenal. Bukankah ini yang kita mau? Yang penting kita dapat cucu yang sehat" kata Papa Hara.


Sebenarnya Bang Igo pun terkepung ribuan rasa malu di hadapan kedua pria yang begitu ia hormati tapi apalah daya.. dirinya pun tak bisa menolak segala rasa yang terbersit begitu saja. Rasa yang tak bisa terungkapkan, rasa sebagai pria untuk wanitanya, rasa dari seorang suami untuk istrinya.

__ADS_1


Bang Igo kemudian sengaja menebar senyum. "Papa mertua pengertian sekali, tau saja butuhnya pengantin baru."


Papa Hara hanya tertawa saja mendengar celoteh Bang Igo yang pastinya membuat Papa Ricky kebakaran jenggot.


...


Siang ini Bang Igo sudah di ijinkan pulang. Tidak ada seorang dokter pun yang berani menolak permintaan perwira muda yang sangar itu.


"Eegghh..!!" Sesekali Bang Igo masih menyangga tubuhnya pada ranjang. Memarnya semakin bertambah parah dan bukannya malah berkurang karena kejadian semalam.


"Go.. kamu benar-benar mau pulang?" Tegur Om Ganesha saat sudah masuk ke dalam kamar rawat Bang Igo.


"Iya Om. Saya nggak betah di rumah sakit, lagipula kasihan Nai, kalau di rumah sendirian, disini juga tidak nyaman istirahat. Saya juga kepikiran." Jawab Bang Igo.


"Perawatannya bagaimana? Kenapa Papamu jadi sembrono sekali?" Sesal Om Ganesha.


"Biasalah panik menantu kesayangannya hilang."


"Kamu yang sabar Go. Tau sendiri sifat Papamu sangat kaku dan dingin. Masa lalunya yang berat buat Papamu sangat trauma dengan sekecil apapun kesalahan. Plus minus lah menghadapi hidup ini." Kata Om Ganesha. "Kamu tetap jalani perawatan. Biar Om Ganesh dan Tante Nava yang jaga Nai..!!"


"Biar saya pulang saja Om. Saya janji akan jaga diri..!!"


"Ya sudah kalau itu keputusanmu. Om mau bilang apa." Jawab Om Ganesha.


...


"Dek.. buat bun burger yuk..!!" Ajak Bang Igo membuka suara pertama kali untuk mencairkan kekakuan di antara mereka.


Nai menggeleng menolak. "Nai nggak bisa buat roti."


"Abang yang buat. Kamu bantu saja..!!"


"Nggak, Nai nggak pengen burger lagi." Jawab Nai.


Bang Igo mengusap rambut Nai. "Kamu tiduran saja di kamar lihat Drakor. Abang ada perlu sebentar..!!"


:


"Siap..!!"

__ADS_1


"Sebenarnya saya tidak ingin merendahkan diri saya demi sebuah burger. Tapi istri saya ngidam. Kamu bisa bantu saya?" Tanya Bang Igo yang akhirnya dengan berbesar hati memanggil Prada Fahrul ke rumahnya.


"Ijin.. saya tidak bisa buat burger."


"Saya ajari kamu. Tanganmu sendiri yang buat..!!" Kata Bang Igo.


"Siap.. saya tidak bisa." Tolak Prada Fahrul.


"Kamu pikir saya suka melakukan hal semacam ini? Saya hanya mengalah demi anak dan istri saya..!!"


"Siap Dan..!!"


"Saya harap kamu tidak lagi menyimpan rasa untuk istri saya..!!!" Ucap tegas Bang Igo.


Mata Prada Fahrul berkaca-kaca. Bagaimana pun juga dirinya harus mengubur dalam segala rasa yang ada. "Apakah tidak pantas seorang ajudan mencintai putri junjungannya?"


"Saya sudah katakan cintamu tidak salah, hanya saat ini semua sudah berbeda. Saya tidak pernah tau kalau ternyata kamu memiliki hubungan dengan Nai."


"Ya.. mungkin lebih baik Nai bersama komandan. Sebab selama bersama saya tidak sepenuhnya hati Nai bahagia. Saya punya temperamen yang kadang melukai hati Nai bahkan menyakiti fisiknya tapi Nai masih mau bertahan menjalin hubungan dengan saya. Mungkin Tuhan sudah menghukum saya karena menyiakan wanita sebaik dan secantik Punai." Jawab jujur Prada Fahrul.


Jemari Bang Igo mengepal, jengkel rasanya mendengar bahwa Fahrul pernah memperlakukan Nai dengan buruk.


"Saya juga pernah menghabiskan malam bersama Nai karena saat itu saya yakin akan terus bersama Nai."


Sungguh saat itu mental Bang Igo terasa runtuh. Batinnya terpukul mendengar pengakuan Prada Fahrul namun ia berusaha menggunakan logika daripada menggunakan perasaannya. Pandangannya nanar, tubuhnya terhuyung selangkah kebelakang.


"Daan..!!" Prada Fahrul segera menopang tubuh Bang Igo untuk duduk. "Maafkan saya, tapi saya tidak ingin lagi menutupi apapun agar kelak di kemudian hari komandan tidak merasa kecewa terhadap saya terlebih Nai."


Bang Igo memejamkan matanya sejenak. Ia tak peduli lagi rivalnya akan melihat lelehan tangisnya.


'Ini juga hukuman Tuhan untuk diriku atas kenakalan ku dulu. Aku pernah merendahkan arti seorang wanita padahal aku memiliki ibu dan adik perempuan. Kini aku merasakan sakitnya dan tidak ikhlas membayangkan istriku di jamah pria lain.'


Rasa sesak melanda Bang Igo hingga Prada Fahrul kelimpungan di teras depan rumahnya. Secepatnya Prada Fahrul membongkar tas pakaian Bang Igo yang masih ada di ruang tamu. Tak menunggu waktu lama Prada Fahrul mengambil oksigen dan merawat Komandannya.


"Daan..!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2