Perisai Hati 2

Perisai Hati 2
30. Hari paling busuuuk..!!


__ADS_3

"Ini lho yank.. buka dulu pintunya. Cantik sekali nih burungnya."


"Jijik Bang, apa sih..!!"


"Kamu salah paham. Makanya buka pintu dulu..!! Lihat apa yang Abang bawa..!!"


:


Bang Igo menarik nafas lega karena Punai sangat senang melihat Angie dan tidak ingin jauh dari peliharaan barunya. Saking gemasnya, berkali-kali Punai hampir saja meremas burung kecil nan imut tersebut.


"Jangan di apa-apakan yank, pakai perasaan sedikit. Di elus saja..!!" Pinta Bang Igo.


Dada Bang Igo berdesir ngeri saat Nai memegang erat dan meremas burung kecilnya.


"Yaaank.. aacchh.. sudah..!!! Nanti mati.. ini juga makhluk hidup, pengen nafas.. pengen di sayang."


Nai pun menyerahkan Lovebird di tangannya pada Bang Igo.


Bang Igo pun membawa sangkar burung itu ke teras belakang. "Cepat cuci tangan..!!"


Nai segera mencuci tangan sembari memperhatikan gagahnya sang suami. "Kalau Legowo...pengen di sayang nggak Bang?" Tanya Nai.


Mata Bang Igo melirik Nai, tumben sekali istrinya bertanya macam-macam. "Nggak, dia sudah punya Angie. Yang pengen di sayang si Ujang."


Wajah Nai menunduk malu-malu. Pipinya pun memerah. Bang Igo menyusul Nai, sembari memeluknya dari belakang.. Bang Igo pun ikut mencuci tangan. "Berapa lama kita nggak berduaan? Abang kangen..!!" Bisiknya.


"Nai nggak ingat Bang.!!"


"Itu lama sekali. Abang sudah ngedrop butuh tambahan energi." Kata Bang Igo.


"Angkat Nai sampai kamar. Nai malas jalan..!!" Pinta Nai.


"Siaaapp...!!!"


...


Bang Igo menggelinjang dan memercing tak karuan usai membujuk sang istri. Tak tau apa sebabnya dirinya kalah dari pertempuran sengit.


Dengan segala upaya akhirnya Bang Igo mampus menenangkan pertarungan walaupun akibatnya harus ia terima kontan saat ini.


"Bahaya kalau bumil yang menang, masih bawa rangsel serbu begitu." Gumam Bang Igo. "Tidur yang nyenyak dan jangan bertingkah ya sayang.. please."

__ADS_1


-_-_-_-


"Bang, Nai lapar.. tapi tadi nggak masak."


"Nggak apa-apa. Mau makan apa?" Hati Bang Igo lega jika sang istri mau banyak makan karena biasanya bumil akan susah makan di awal kehamilan.


"Mau nasi sama kolak pisang." Jawab Nai.


Ggllkk..


"Nggak salah kamu dek?" Tanya Bang Igo yang lumayan kaget mendengar permintaan bumil.


"Nai pengen makan itu."


"Iyaa.. iyaaa.. sabar ya..!!"


:


Bang Igo menyantap nasi campur di hadapannya tapi berbeda dengan Nai yang lahap dengan nasi kuah kolak pisang.


"Astagfirullah dek." Bang Igo mengurut dadanya dengan tidak tega tapi apalah daya segalanya adalah permintaan sang jabang bayi daripada tidak ada asupan makanan yang masuk dalam perut sama sekali.


"Kenapa Bang?" Tanya Punai.


"Sudah kenyang Bang, Nai pengen capcay aja."


Bang Igo mengangkat senyum geli. "Kenyang kok masih pengen?"


"Ya sudah kalau nggak boleh." Bibir manis itu mulai komat-kamit menggerutu.


"Boleh, siapa yang bilang nggak boleh? Makan yang banyak.. Abang senang kamu mau makan."


~


Mata Punai berbinar melihat capcay sudah terhidang di atas meja. "Wangi sekali Bang..!!" Sungguh ceria wajah Punai menambah kebahagiaan tersendiri bagi Bang Igo.


"Habiskan..!! Kenyangkan perutmu..!!"


Punai langsung meletakan sendok dan garpunya. Bang Igo pun was-was memasang kuda-kuda bersiap untuk adanya kemungkinan yang akan terjadi.


"Abang sengaja minta Nai makan yang banyak ya?? terus Nai jadi gendut.. terus Abang mau selingkuh??? Terus Nai melahirkan dan membesarkan anak sendirian." Punai menunduk menutup wajahnya yang menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


"Terus saja mengarang bebas..!!! Salah Abang dimana sih dek? Itu khan kamu yang bilang. Secuil aja pikiran seperti itu nggak mampir di kepala Abang." Bang Igo mulai waspada jika Nai sudah mulai membuat skenario dramatis seperti ini. "Abang minta kamu makan banyak biar anak kita juga sehat. Kamu mah ada aja sensitifnya tetet-toet sudah mirip sirine kebakaran..!!"


"Abang nyalahin Nai??????? Jadi Nai cerewet????????"


"Ya Allah.. Ya Rabb.. Ya Gustii.. Abang bisa batu ginjal nih mikir kamu." Bang Igo mengambil piring nasi Nai lalu menyuapinya. Ia menarik nafas, menekan perasaannya untuk mengalah dan lebih sabar. "Kamu tau nggak, wanita hamil tuh makan sebanyak apapun nggak akan gendut.. malah seksiiii" bisik Bang Igo memperjelas di kata terakhirnya.


Nai sangat gengsi tapi semua itu tidak bisa menutupi rona merah di pipinya.


"Abang merayu ya?"


"Jelas.. Istri Abang khan hanya satu." Jawab Bang Igo.


"Maksud Abang?????? Memangnya Abang mau punya berapa istri??????" Nai pun berang sampai memundurkan sendok yang akan menghampiri mulutnya.


"Astagfirullah.. kenapa sih Abang ini jadi tempatnya salah dan dosa???"


Saat masih dalam suasana tegang, ada panggilan telepon masuk.


"Selamat sore, ijin Dan..!!" sapa om Fahrul di seberang sana.


"Soree.. kenapa Rul."


"Ijin.. ada mobil warna merah datang ke Batalyon atas nama Komandan tapi tujuannya untuk nama yang berbeda." Kata Om Fahrul.


"Nama yang beda? Untuk siapa??"


"Ijin.. untuk ibu Nia."


Bang Igo pun melirik Punai. Benar saja, sang istri sudah menatapnya tajam.


"Siapa Nia??????"


"Sayang.. hurufnya hanya terbalik..!!" Bujuk Bang Igo.


"Hmm.. ini tertulis dari Lettu Galigo untuk Sania."


"Stop Rul, berhenti bicaraaaaa...!!!! Gara-gara salah nama, saya terancam kena SP nih." Ucap Bang Igo semakin panik.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2