
Bang Igo menarik Punai sampai duduk di pangkuannya. "Kenapa sih nggak percaya sama Abang. Abang sudah jujur lho dek."
"Tampang Abang sudah menunjukan kalau Abang tertarik sama dia."
Bang Igo mengecup bibir sang istri yang kini rewelnya bukan main.
Ccppp..
"Tampang yang mana? Yang ganteng ini? Yang bikin istri Lettu Igo kesengsem minta di sayang terus?" Tanya Bang Igo.
"Haaaahh.. ganteng. Nggak..!!!!" Punai memalingkan wajahnya.
"Masa??? Kalau nggak ganteng kok mau di rayu sama Abang sampai mekar ini perut??" Goda Bang Igo.
"Terpaksa, Nai khan kena pelet." Jawab Punai.
"Begini??" Bang Igo menjulurkan lidahnya dan menggoyangnya kesana kemari sampai Nai menjadi kesal.
Melihat Bang Igo semakin menyebalkan, Nai pun menggigitnya.
"Eegghh.." erang Bang Igo namun kemudian ia memeluk Punai dan sedikit mengajaknya bermain-main. Perlahan, waktu yang berjalan malah membuat Punai tak bisa menahan diri.
Dengan sengaja Bang Igo menyudahi semua. Ia berniat menggoda Punai. "Sudah dek.. di kantor nih."
"Nggak mau, disini juga nggak apa-apa."
"Jangan..!! Malu lah nanti banyak yang lewat..!!" Godanya lagi.
Punai pun menghentikan tangannya yang bergerilya nakal dan beranjak berdiri dari pangkuan Bang Igo.
"Mau kemana?"
"Pulang, nonton Drakor." Jawab Punai malas.
"Lho.. katanya mau di sayang Abang." Kata Bang Igo yang saat itu sebenarnya sudah terdengar aliran listrik tegangan tinggi.
__ADS_1
"Nggak mood lagi."
"Waaahh.. Abang sudah naik nih dek." Ucap jujur Bang Igo.
"Nai nggak mau. Sebel sama Abang." Nai berjalan dari ruangan Bang Igo meninggalkan suaminya yang masih duduk terbengong duduk di tempatnya.
~
"Itu Om-om lagi apa Om?" Punai menanyai Prada Fahrul yang sedang sibuk menata karung bekas beras dari dapur barak remaja.
"Ijin ibu, menata karung beras."
"Karungnya ada berapa?" Tanya Punai "Minta yang paling besar donk om..!!"
Kening Prada Fahrul berkerut. "Siap.. ada lima belas buah. Ijin ibu, buat apa?"
"Buat bungkus nangka busuk..!!" Jawab Punai sembari mengobrak abrik karung yang sudah di tata rapi dan mengambil karung yang besar.
...
tok.. tok.. tok..
"Masuk..!!"
"Ijin Dan, komandan sudah di tunggu ibu di lapangan."
"Istri saya??" Tanya Bang Igo tidak percaya.
"Siap."
"Ada apa?" Bang Igo mulai menaruh rasa curiga.
:
Bang Igo pasrah saat sang istri memintanya untuk lomba balap karung bersama Taja yang hanya bisa diam dan pasrah menerima perintah dari ibu komandan.
__ADS_1
"Abang loncat saja dek. Kalau di ikat dalam karung sama pakai helm rasanya sesak..!!" Kata Bang Igo.
"Memang itu yang Nai cari. Kalau Abang susah baru Nai senang." Jawab Nai tanpa sungkan.
"Yo wes, yang penting kamu senang." Bang Igo akhirnya ikut pasrah.
"Om-om.. yang menang atau kalah lawan Lettu Igo nanti dapat dua ratus ribu ya."
"Yeeeaaayy.. Alhamdulillah.. siap ibu..!!!" Para anggota pun tersenyum sumringah. Hati yang sebelumnya was-was berubah jadi ikhlas.
"Nanti uangnya minta suami saya..!!" Kata Punai.
"Laaahh.. Abang tekor donk dek..!!" Bang Igo terperanjat kaget tapi kemudian duduk kembali karena tubuhnya terperangkap dalam karung.
"Siap ibu, asal ibu senang kami rela dan ikhlas komandan menderita." Teriak om Fahrul mengompori rekannya.
"Siap ibu, kami juga ikhlas." Imbuh yang lain.
"Waaahh bagus ya kalian..!!!!" Wajah Bang Igo mendadak kesal. "Heeh Fahrul.. setelah ini guling botol kamu dari ujung ke ujung." Perintah Bang Igo.
"Om Fahrul mau antar Nai belanja..!!" Sambar Nai.
"Sama Abang aja ya dek."
"Ajak aja si Oma buyut. Dia cantik khan????" Lirik Nai amat sangat menakutkan.
"Astagfirullah.. kenapa masih ingat aja sih" Bang Igo geram berontak sendiri di dalam karung hingga terguling sebelum lomba di mulai.
.
.
.
.
__ADS_1