
"Keluuaaaaarrr.. urus saja Sania mu..!!"
"Iyaa.. ampuuuuuun..!!" Bang Igo memilih keluar dari kamar.
:
Murkanya Lettu Igo sampai membuat dealer cabang di daerah tempat tinggalnya harus datang sendiri ke kantor Batalyon.
"Kami atas nama perusahaan memohon maaf atas keteledoran salah seorang karyawan kami..!!" Kata kepala cabang.
"Saya pribadi mungkin bisa menerima, tapi istri saya yang sedang hamil muda tidak bisa menerima begitu saja. Jujur saya malas sampai harus ada masalah seperti ini." Jawab Bang Igo.
"Sekali lagi kami mohon maaf Pak. Apa kami bisa bertemu dengan ibu? Mungkin kami bisa bantu jelaskan kesalahan pahaman ini?" Pinta kepala cabang yang sebenarnya memang sangat seksi dan menggoda di mata para pria. Wanita tersebut berpose layaknya model di hadapan Lettu Igo.
'Astagfirullah hal adzim. Ya Allah.. tolong hindarkan pandangan mataku dari hal yang tidak pantas dan arahkan segala perasaan seperti ini hanya untuk istriku seorang.'
Bang Igo segera mengalihkan perhatiannya pada layar ponselnya. "Lebih baik tidak perlu Mbak. Saya hanya butuh surat keterangan yang resmi bahwa perusahaan telah salah mengirim jenis barang dan nama tujuan penerima. Saya meminta mobil sport, bukan mobil keluarga."
"Bapak bisa ke kantor saya karena saya tidak membawa kelengkapannya. Apa mungkin kita bisa ganti jadwal untuk membuat pertemuan yang lebih santai. Di hotel misalnya."
"Apakah ada prosedur seperti itu? Rasanya saya tidak tertarik." Jawab Bang Igo menolak tegas.
"Yaaa.. memang di luar jalur, tapi saya jamin pasti sangat berkesan dan menyenangkan." Kepala cabang bernada manja menggoda naluri Bang Igo.
"Salah satu pekerjaan sambilan yang menggiurkan, tapi saya tidak suka barang apapun yang pernah di coba orang lain. Saya suka barang premium dan ekslusif, itupun hanya istri saya yang memiliki."
__ADS_1
Kepala cabang tersebut merasa sangat di rendahkan baru kali ini ada seorang pria yang menolaknya secara terang-terangan.
"Selama ini tidak pernah ada pria yang menolak saya. Benarkah saya tidak cantik di mata anda Pak Igo?" Tanya wanita tersebut.
"Cantiikk.. sangat cantik. Tapi sayangnya anda kalah jauh dari istri saya. Istri saya itu limited edition dan tercantik di antara paling cantik." Jawab Bang Igo. Wajahnya nampak kaku dan malas menanggapi wanita tersebut. "Hmm.. cepat suratnya di buat ya. Paling lambat dua jam dari sekarang atau saya akan menghubungi kantor pusat sampai anda kehilangan karir..!!"
"Permisi..!!" Pamit wanita tersebut.
Dengan menahan malu yang teramat sangat, wanita tersebut keluar dari ruangan Bang Igo. Tak di sangka sejak tadi ada sosok yang menguping entah sejak kapan.
"Waaahh.. cepat sekali mbak. Nggak bisa merayu suami saya ya. Maaf ya mbak.. selera suami saya itu yang muda seperti saya, bukan yang macam Oma buyut begini." Ledek Punai terang-terangan.
Wanita yang sudah terlanjur malu itu berjalan setengah berlari tanpa suara.
"Nggak mungkin khan Abang ajak ngobrol dia di taman atau kantin."
"Tapi ruangan ini nggak seharusnya di tutup kalau sedang berdua. Itu nggak baik." Sampai melotot Punai kesal dengan Bang Igo. Tangannya berkacak pinggang membuat Bang Igo ketar-ketir.
"Kenapa kamu tidak masuk saja daripada terjadi salah paham seperti ini..!!" Kata Bang Igo.
"Abang tetap tidak ada penyesalan?????" Punai melepas sandalnya lalu mengangkatnya tinggi tapi karena dirinya masih harus menjunjung tinggi rasa sopan terhadap sang suami maka tangannya hanya menggebrak meja di belakang Bang Igo.
"Iyaa.. Abang menyesal. Abang minta maaf."
"Apa dengan permintaan maaf semua selesai begitu saja. Abang berduaan dengan perempuan dan bilang perempuan itu sangat cantik." Nai menjabarkan semuanya sampai berapi-api.
__ADS_1
Bang Igo menunduk dengan gelisah. Kepalanya menunduk membawa keresahan tiada tara.
"Kalau saja tadi Nai kesini.. apa mungkin Abang akan rapat santai dan berbincang di hotel sama Oma buyut itu??"
Bang Igo masih terdiam bingung menjawab pertanyaan Nai. Salah sedikit saja maka nasibnya bagai telur di ujung tanduk.
"Kenapa diam?" Tanya Punai.
"Ya Abang belum bilang sama kamu..........."
"Apaaaaaaa???? Jadi kalau sudah bilang sama Nai, Abang mau berharap apa??? Boleh berduaan sama dia???"
"Ya mungkin..............."
"Abaaaaaaaaaangg..!!" Seketika tangan Punai langsung menjambak rambut Bang Igo.
"Astagfirullah.. Abang belum selesai ngomong kenapa di potong terus????" Bang Igo hanya bisa memercing menerima amukan bumil.
.
.
.
.
__ADS_1