
"Akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya kamu baru sadar kalau aku yang terbaik."
"Ya.. aku memang bodoh" jawab Bang Igo sembari menatap arah jalanan.
"Nggak masalah, yang penting kamu kembali sama aku Bang" kata Rida.
Bang Igo tersenyum kecut mendengarnya. "Terima kasih atas semua kebaikan hatimu. Ngomong-ngomong kita mau kemana nih?"
"Nginap saja yuk..!!" Ajak Merida.
Sengaja Bang Igo melihat jam tangannya. "Nggak bisa sayang, aku harus 'apel tertib dan jaga lorong'. Kalau tidak.. uang bonusku akan di potong." Alasan Bang Igo.
"Besarkah uang apel malam mu?" Tanya Rida.
"Yaaa.. kalau aku konsisten apel lorong pasti bonusku cepat cair." Jawab Bang Igo.
"Apa kamu tidak tersiksa dengan semua tugasmu itu Bang, rasa-rasanya kamu tidak bebas." Selidik Rida penasaran.
"Apel lorong sangat menyenangkan, apalagi kalau sudah akhir acara.. rasanya jadi mengantuk dan buat aku enak tidur. Hati dan pikiran tenang, lelah seharian mendadak hilang"
"Oke. Kalau begitu apel saja..!! Yang penting bonus nya lancar" kata Rida.
"Aamiin.."
...
Mata Bang Isyad tak sengaja melihat adiknya menggandeng tangan Rida di dalam sebuah mall.
"Ada apa Bang?" Tanya Isy.
"Nggak apa-apa. Ya sudah ayo jalan..!!" Bang Isyad menggandeng tangan Isy yang tengah mengandung empat bulan.
//
"Munafik sekali kamu Bang." Rida sangat marah karena Bang Igo terkesan menolak ciuman panasnya di bioskop.
"Abang ini aparat, harus jaga sikap. Lagipula ini di tempat umum."
"Ruangan ini gelap Bang, nggak ada yang lihat. Kalau kamu takut ketahuan, seharusnya tadi kita menginap saja." Jawab Rida ketus.
"Saya sudah bilang tidak bisa. Kalau kamu rewel, saya pulang..!!" Ancam Bang Igo sampai akhirnya Rida diam membawa wajah cemberutnya.
__ADS_1
...
Bang Igo menyemprot seisi mobil dengan parfum yang tidak semenyengat parfum Rida. Dulu parfum itu begitu ia sukai namun sekarang tidak lagi. Ia lebih suka wangi sensual seperti aroma tubuh Punai.
"Darimana kamu??" Tegur Bang Isyad.
"Kerja." Jawab Bang Igo santai.
Bang Isyad menarik kerah pakaian Bang Igo. "Kamu jangan bohong. Kamu kembali menjalin hubungan sama Rida khan?"
"Iya"
"Gila kamu Go.. mau kamu kemanakan istrimu???? Ingat, kamu sudah menikah..!!"
"Aku tidak pernah lupa kalau sudah menikah. Dia sudah jadi istriku ya sudah. Mau di apakan lagi??"
"Jadi apa mau mu??? Menyiakan istrimu?????" Bentak Bang Isyad.
Bang Igo hanya tersenyum menyeringai mendengarnya. Tak tau sampai kapan Papa dan Bang Isyad akan menganggapnya sebagai sampah tak berguna. "Wanita tidak boleh menikah lagi, kalau laki-laki boleh" jawab Bang Igo semakin memanaskan suasana.
"B******n..!!" Bang Isyad melayangkan hantaman tepat di wajah Bang Igo tapi Bang Igo mampu menangkis tangannya.
"Aku seorang suami dan aku kepala keluarga. Aku berhak memutuskan apapun dalam rumah tanggaku, termasuk nasib Punai."
Bang Igo pun mengusap dadanya. "Ya Allah, tolong lindungi istriku" Ia terduduk menenangkan hatinya.
...
Bang Igo mengendap masuk ke dalam rumah. Sudah sangat malam saat dirinya masuk ke dalam rumah.
Hari ini sudah lumayan banyak informasi yang ia dapatkan dari Rida. Dirinya juga sudah mewanti-wanti anggotanya agar berhati-hati dalam menjalankan tugas karena misi ini sangat rahasia meskipun Danyon juga mengetahui.
"Darimana?" Tegur Punai.
Bang Igo berjingkat kaget dan refleks berbalik badan. "Astagfirullah.." jantungnya nyaris melompat, kembali kaget saat melihat Nai memakai masker wajah. "Kamu apa-apaan sih dek."
"Abang yang apa-apaan. Apa tidak tau kalau Nai sakit. Katanya Nai istri Abang???" Protes Punai.
"Sakit apa?? Kalau sakit itu minimal berbaring. Ini bisa ngomel. Berarti kamu sehat" kata Bang Igo.
"Apa Abang lupa semalam Naik di ganggu siluman kuda hitam. Bagaimana kalau siluman itu ganggu Nai lagi??" Suara Nai sampai meninggi.
__ADS_1
"Syarat agar tidak di ganggu sama siluman kuda hitam, pertama.. jangan pakai mini dress, kedua.. jangan pakai parfum tertentu seperti semalam dan yang pasti, penutup perangkat lunak jangan yang memancing 'emosi' siluman.
Punai melirik ragu. "Apa Abang bisa di percaya?" Tanya Punai.
"Abang mah orangnya jujur. Laki-laki sejati pantang bohong." jawab Bang Igo meyakinkan.
Braaakk..
"Abaaaang..!!!" Punai langsung berjingkat memeluk Bang Igo. "Apa ituuu????"
"Dia sudah datang, minta tumbal." Bisik Bang Igo. "Cepat kamu ke kamar dan pakai selimut. Jangan keluar sebelum Abang masuk kamar..!!" Kata Bang Igo.
Punai segera berlari masuk ke dalam kamar dan melompat ke atas ranjang menarik selimut, Bang Igo terkikik geli lalu menuju ke dapur.
~
"Tikus yang pintar, jatuhkan semua barang sampai Nai sendiri yang minta untuk di temani tidur" gumam Bang Igo.
Bang Igo melihat sekeliling dapurnya memang masih banyak bagian yang belum tertutup dengan sempurna. Maklum lah, rumah dinas yang ia tempati saat ini memang cukup tua hingga perlu banyak renovasi di sana sini.
'Kasihan sekali kalau Nai harus berhadapan dengan ulah tikus di rumah ini, kapan ya aku ada waktu untuk mengawasi orang yang akan renovasi rumah, aku nggak mungkin biarkan Nai nggak nyaman di rumah karena banyak orang.'
"Baaang.."
Terdengar suara Punai memanggil Bang Igo.
"Ada apa?" Jawab Bang Igo.
"Sini donk Bang, Nai nggak mau sendirian" kata Nai.
"Kenapa?? Takut?" Balas Bang Igo.
"Cepat kesini Baaaang..!! Nai mau kasih tunjuk sesuatu"
Bang Igo tersenyum nakal. "Ada apa nih? Tumben Nai mau pamer sesuatu."
.
.
.
__ADS_1
.